Featured Video

Tampilkan postingan dengan label uas semester 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uas semester 7. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2015

ICU (Intensive Care Unit)



Perawatan intensif merupakan pelayanan keperawatan yang saat ini sangat perlu untuk di kembangkan di Indonesia yang bertujuan memberikan asuhan bagi pasien dengan penyakit berat yang potensial reversibel, memberikan asuhan pada pasien yang memerlukan pbservasi ketat dengan atau tanpa pengobatan yang tidak dapat diberikan diruang perawatan umum memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien dengan potensial atau adanya kerusakan organ umumnya paru mengurangi kesakitan dan kematian yang dapat dihindari pada pasien-pasien dengan penyakit kritis  (Adam & Osbone, 1997)

1. Pengertian
Adalah suatu tempat atau unit tersendiri di dalam Rumah Sakit yang memiliki staf khusus, peralatan khusus ditujukan untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit, trauma atau komplikasi penyakit lain.

2. Staf Khusus
adalah dokter dan perawat yang terlatih, berpengalaman dalam Intensive Care (Perawatan dan terapi Intensif) dan yang mampu memberikan pelayanan 24 jam.

3. Peralatan Khusus ICU
adalah alat–alat pemantauan, alat untuk menopang fungsi vital, alat untuk prosedur diagnostic dan alat Emergency lainnya

4. Tujuan Pengelolaan di ICU
Melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya kematian atau cacat
Mencegah terjadinya penyulit
Menerima rujukan dari level yang lebih rendah & melakukan rujukan ke level yang lebih tinggi

5. Macam – macam ICU
Menurut fungsi ICU dibagi menjadi beberapa unsur yaitu :
a. ICU Khusus
Dimana dirawat pasien payah dan akut dari satu jenis penyakit
Contoh :  
- ICCU (Intensive Coronary Care Unit)
  yaitu pasien dirawat dengan gangguan pembuluh darah
  Coroner.
- Respiratory Unit
  Pasien dirawat yang mengalami gangguan pernafasan
- Renal Unit
  dimana pasien yag dirawat dg.gg. ginjal.

b. ICU Umum
Dimana dirawat pasien yang sakit payah akut di semua bagian RS menurut umur ICU anak & neonatus dipisahkan dengan ICU dewasa

6. Klasifikasi Pelayanan ICU
a. ICU Primer
b. ICU Sekunder
c. ICU Tersier

a. ICU Primer
Mampu  memberikan  pengelolaan  resusitasi  segera, tunjangan,kardio respirasi jangka pendek
Memantau dan mencegah penyulit pasien dan bedah yang berisiko
Ventilasi mekanik dan pemantauan kardiovaskuler sederhana selama beberapa jam
Ruangan dekat dengan kamar bedah
Kebijakan / criteria pasien masuk, keluar dan rujukan
Kepala : dokter spesialis anestesi
Dokter jaga 24 jam, mampu RJP
Konsultan dapat dihubungi dan dipanggil setiap saat
Jumlah perawat cukup dan sebagian besar terlatih
Pemeriksaan Laborat : Hb, Hct, Elektrolit,GD, Trombosit
Kemudahan Rontgen dan Fisioterapi
b. ICU Sekunder
Memberikan pelayanan ICU umum yang mampu mendukung kedokteran umum, bedah, trauma, bedah syaraf, vaskuler dsb.
Tunjangan ventilasi mekanik lebih lama.
Ruangan khusus dekat kamar bedah
Kebijakan dan kriteria pasien masuk, keluar dan rujukan
Kepala intensivis, bila tidak ada SpAn.
Dokter jaga 24 jam mampu RJP ( A,B,C,D,E,F )
Ratio pasien : perawat = 1 : 1 untuk pasien dengan ventilator,RT dan 2 : 1 untuk pasien lainnya.
50% perawat bersertifikat ICU dan pengalaman kerja minimal 3 tahun di ICU
Mampu melakukan pemantauan invasife
Lab, Ro, fisioterapi selama 24 jam
c. ICU Tersier

Memberikan pelayanan ICU tertinggi termasuk dukungan hidup multi sistem ( ventilasi mekanik , kardiovaskuler, renal ) dalam jangka waktu tak terbatas
Ruangan khusus
Kebijakan/ indikasi masuk, keluar dan rujukan
Kepala : intensivis
Dokter jaga 24 jam, mampu RJP (A,B,C D,E,F )
Ratio pasien : perawat = 1:1 untuk pasien dengan ventilator, RT dan 2 : 1 untuk pasien lainnya.
75% perawat bersertifikat ICU atau minimal pengalaman kerja di ICU 3 tahun
Mampu melakukan pemantauan / terapi non invasive maupun invasive.
Laborat, Ro, Fisioterapi selama 24 jam
Mempunyai pendidikan medik dan perawat
Memiliki prosedur pelaporan resmi dan pengkajian Memiliki staf administrasi, rekam medik dan tenaga lain

7. Syarat - syarat Ruang ICU

Letaknya di sentral RS dan dekat dengan kamar bedah serta kamar pulih sadar ( Recovery Room)
Suhu ruangan diusahakan 22-25 C, nyaman , energi tidak banyak keluar.
Ruangan tertutup & tidak terkontaminasi dari luar
Merupakan ruangan aseptic & ruangan antiseptic dengan dibatasi kaca- kaca.
Kapasitas tempat tidur dilengkapi alat-alat khusus
Tempat tidur harus yang beroda dan dapat diubah dengan segala posisi.
Petugas maupun pengunjung memakai pakaian khusus bila memasuki ruangan isolasi.
Tempat dokter & perawat harus sedemikian rupa sehingga mudah untuk mengobservasi pasien

8. Ketenagaan
a. Tenaga medis
b. Tenaga perawat yang terlatih
c. Tenaga Laboratorium
d. Tenaga non perawat : pembantu perawat , cleaning servis
e. Teknisi
 
9. Sarana & Prasarana yang harus ada di ICU
Lokasi : satu komplek dengan kamar bedah & Recovery Room
RS dengan jumlah pasien lebih 100 orang sedangkan untuk R.ICU antara 1-2 % dari jumlah pasien secara keseluruhan.
Bangunan : terisolasi dilengkapi dengan : pasienmonitor, alat komunikasi, ventilator, AC, pipaair, exhousefan untuk mengeluarkan udara, lantai mudah dibersihkan, keras dan rata, tempat cuci tangan  yang dapat dibuka dengan siku & tangan,   v pengering setelah cuci tangan
R.Dokter & R. Perawat
R.Tempat buang kotoran
R. tempat penyimpanan barang & obat
R. tunggu keluarga pasien
R. pencucian alat   Dapur
Pengering setelah cuci tangan    R.Dokter & R. Perawat
R.Tempat buang kotoran
R. tempat penyimpanan barang & obat
Sumber air Sumber listrik cadangan/ generator, emergency lamp Sumber O2 sentral Suction sentral Almari alat tenun & obat, instrument dan alat kesehatanAlmari pendingin (kulkas)Laborat kecil
Alat –alat penunjang a.l.: Ventilator, Nabulaizer, Jacksion Reese, Monitor ECG, tensimeter mobile, Resusitato, Defibrilator, Termometer electric dan manual,Infus pump, Syring pump,O2 transport, CVP, Standart infuse, Trolly Emergency,Papan resusitasi,Matras anti decubitus, ICU kid, Alat SPO2, Suction continous pump dll.
9. Indikasi Masuk ICU
a. Prioritas 1
Penyakit atau gangguan akut pada organ vital yang memerlukan terapi intensif dan agresif.
Gangguan atau gagal nafas akut
Gangguan atau gagal sirkulasi
Gangguan atau gagal susunan syaraf
Gangguan atau gagal ginjal
b. Prioritas 2
•Pementauan atau observasi intensif secara ekslusif atas keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan ancaman gangguan pada sistem organ vital
Misal :
Observasi intensif pasca bedah operasi : post    trepanasi, post open heart, post laparatomy dengan komplikasi,dll.
Observasi intensif pasca henti jantung dalam keadaan stabil
Observasi pada pasca bedah dengan penyakit jantung.
c. Prioritas 3  
Pasien dalam keadaan sakit kritis dan tidak stabil yang mempunyai harapan kecil untuk penyembuhan (prognosa jelek). Pasien kelompok ini mugkin memerlukan terapi intensif untuk mengatasi penyakit akutnya, tetapi tidak dilakukan tindakan invasife Intubasi atau Resusitasi Kardio Pulmoner
NB : Px. prioritas 1 harus didahulukan dari pada prioritas 2 dan 3
 
10. Indikasi Keluar ICU
Penyakit atau keadaan pasien telah membaik dan cukup stabil. 
Terapi dan perawatan intensif tidak memberi hasil pada pasien.
Dan pada saat itu pasien tidak menggunakan ventilator.Pasien mengalami mati batang otak.
Pasien mengalami stadium akhir (ARDS stadium akhir) 
Pasien/keluarga menolak dirawat lebih lanjut di ICU (pl.paksa)
Pasien/keluarga memerlukan terapi yang lebih gawat mau masuk ICU dan tempat penuh.
Prioritas pasien keluar dari ICU
Prioritas I dipindah apabila pasien tidak membutuhkan perawatan intensif lagi, terapi mengalami kegagalan, prognosa jangka pendek buruk sedikit kemungkinan bila perawatan intensif dilanjutkan misalnya : pasien yang mengalami tiga atau lebih gagal sistem organ yang tidak berespon terhadap pengelolaan agresif.
Prioritas II pasien dipindah apabila hasil pemantuan intensif menunjukkan bahwa perawatanintensif tidak dibuthkan dan pemantauan intensif selanjutnya tidak diperlukan lagi
Prioritas III tidak ada lagi kebutuhan untuk terapi intensive jika diketahui kemungkinan untuk pulih kembali sangat kecil dan keuntungan terapi hanya sedikit manfaatnya misal : pasien dengan penyakit lanjut penyakit paru kronis, liver terminal, metastase carsinoma
11. Tugas Perawat ICU
Identifikasi masalah
Observasi 24 jam
Kardio vaskuler : peredaran darah, nadi, EKG, perfusi periver, CVP
Respirasi : menghitung pernafasan , setting ventilator, menginterprestasikan hasil BGA, keluhan dan pemeriksaan fisik dan foto thorax.
Ginjal : jumlah urine tiap jam, jumlah urine selama 24 jam
Pencernaan : pemeriksaan fisik, cairan lambung, intake oral, muntah , diare
Tanda infeksi : peningkatan suhu tubuh/penurunan (hipotermi), pemeriksaan kultuur, berapa lama antibiotic diberikan 
Nutrisi klien : enteral, parenteral
Mencatat hasil lab yang abnormal.
Posisi ETT dikontrol setiap saat dan pengawasan secara kontinyu seluruh proses perawatan
Menghitung intake / output (balance cairan)
- Selain hal itu peran perawat juga :
Ø Caring Role
Ø Therapeutic Role

- Dalam penanganan pasien gawat diperlukan 3 kesiapan : 
ØSiap Mental
ØSiap pengetahuan dan ketrampilan
ØSiap alat dan obat

- Urutan prioritas penanganan kegawatan didasarkan pada 6B yaitu :
B-1 Breath  - Sistem pernafasan
B-2 Bleed   - Sistem peredaran darah
B-3 Brain    - Sistem syaraf pusat
B-4 Blader  - Sistem urogenital
B-5 Bowel  -Sistem pencernaan
B-6 Bone    - Sistem tulang dan persendian
12. Pasien Kritis
Fisiologis tidak stabil dan memerlukan monitoring serta terapi intensif.
- Ruang Lingkup Keperawatan Intensive :
•a. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit akut yang mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari
•b. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekalipun melakukan pelaksanaan spesifik pemenuhan kebutuhan dasar
•c. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang ditimbulkan oleh :  
Penyakit  
Kondisi pasien yang memburuk karena pengobatan atau terapi
Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang tergantung pada fungsi alat / mesin dan orang lain
13. Standar minimum pelayanan ICU :
a. Resusitasi jantung paru.
b. Pengelolaan jalan nafas
c. Terapi oksigen
d. Pemantauan EKG, pulse Oksimetri kontinyu
e. Pemberian nutrisi enteral dan parental
f. Pemeriksaan Laboratorium dengan cepat
g. Pelaksanaan terapi tertitrasi
h. Memberi tunjangan fungsi Vital selama transportasi
i. Melakukan fisioterapi.

Senin, 12 Januari 2015

Jiwa Kisi Kisi

1# peran serta keluarga pada pasien gangguan jiwa
Peran serta keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa
Keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberi perawatan langsung pada setiap keadaan (sehat-sakit) klien. Umumnya, keluarga meminta bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak sanggup merawatnya. Oleh karena itu asuhan keperawatan yang berfokus pada keluarga bukan hanya untuk memulihkan keadaan klien tetapi bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan dalam keluarga tersebut (Iyus Yosep, 2007).
Keluarga yang mempunyai kemampuan mengatasi masalah akan dapat mencegah perilaku maladaptif (pencegahan primer), menanggulangi perilaku maladaptif (pencegahan sekunder) dan memulihkan perilaku adaptif (pencegahan tersier) sehingga derajat kesehatan klien dan keluarga dapat ditingkatkan secara optimal (keliat, 2005).
Sesuai dengan fungsinya, pemeliharaan kesehatan keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan yaitu :
a. Mengenal masalah kesehatan keluarga, kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti. Perubahan sekecil apapun yang dialami oleh anngota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian keluarga.
b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga, tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama, tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi.
c. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan, perawatan dapat dilakukan di rumah apabila keluarga telah memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama.
d. Memodifikasi keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi keluarga.
Penyebab kekambuhan pada pasien gangguan jiwa/Menarik Diri:
a. Tidak memakan obat secara teratur
b. Dosis obat tidak sesuai.
c. Keluarga banyak mengkritik.
d. Keluarga banyak mencampuri kehidupan pasien.
e. Sikap bermusuhan dari lingkungan.
Jadi keluarga memiliki peran sangat penting dengan pencegahan, pengobatan, pencegahan kekambuhan.

2#. Persiapan sebelum dilakukan tindakan ECT :
1.   Inform consent
2.   Puasa 6 jam
3.   Stop obat psikiatri oral
4.   Premedikasi sedatif tidak direkomendasikan karena dapat memperpanjang masa pulih.
5.   Pilihan obat anestesi short acting (propofol atau thiopental) + muscle relaxant (succinylcholine)
6.   Untuk mencegah efek parasimpatik dapat diberikan atropine.
7.   Untuk mencegah efek simpatis pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler dapat diberikan atenolol 50 mg pada saat preoperatif
8.   Elektrode dapat diletakkan di sisi yang sama pada kepala (unilateral) untuk mengurangi efek samping memory loss dan meminimalisir efek kognitif ataupun diletakkan pada kedua sisi dari kepala (bilateral). Namun metode bilateral biasanya lebih efektif dan lebih direkomendasikan dibandingkan unilateral.
9.   Level stimulus untuk bilateral ECT adalah ½ kali ambang kejang, sedangkan untuk unilateral bisa melebihi12 kali ambang kejang. Ambang kejang dapat ditentukan dengan sistem trial and error ataupun menggunakan standar yang sudah ada. (Electroconvulsif therapy, 2010)

3#. Tujuan dan peran perawat pelayanan dimasyarakat
Tujuan Pelayanan Keperawatan
Tujuan Umum
Asuhan keperawatan terselenggara secara manusiawi dan profesional dalam suasana penuh kasih, dengan cara mengkaji, mendiagnosa, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi sesuai dengan standar asuhan keperawatan.
Tujuan Khusus
1. Asuhan keperawatan terselenggara secara manusiawi, profesional, holistik, dan komprehensif.
2. Pasien menjadi pusat layanan dan mendapat pelayanan yang cepat, tepat, aman, dan nyaman dengan penuh kasih tanpa dibedakan suku bangsa, agama, status sosial, dan jenis kelamin.
3. Pasien mendapatkan hak-haknya dalam asuhan keperawatan dengan melibatkan pasien selama proses keperawatan.
4. Tercapainya derajat kesehatan pasien yang optimal dengan komunikasi dan kerjasama yang baik antara pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan lain.
5. Terciptanya budaya dan iklim kerja yang memungkinkan perawat mengembangkan kemampuan profesional dan kepribadian.
6. Budaya menghargai kehidupan senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta tuntutan masyarakat.
7. Trciptanya lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman untuk menunjang derajat kesehatan yang optimal.
PERAN PERAWAT KESAHATAN MASYARAKAT

1.      Pelaksana pelayanan keperawatan
2.      Pendidik
3.      Koordinator pelayanan kesehatan
4.      Innovator/pembaharu
5.      Organisator yankes
6.      Role Model/panutan
7.      Fasilitator
8.      Pengelola/Manajer

4#..Sumber Stres

Sarafino (1998) membagi tiga jenis sumber stres yang dapat terjadi pada kehidupan individu:
Sumber yang berasal dari individu
Ada dua cara stres berasal dari individu. Pertama adalah melalui adanya penyakit. Penyakit yang diderita individu menyebabkan tekanan biologis dan psikologis sehingga menimbulkan stres. Sejauh mana tingkat stres yang dialami individu dengan penyakitnya dipengaruhi faktor usia dan keparahan penyakit yang dialaminya. Cara kedua adalah melalui terjadinya konflik.\Konflik merupakan sumber yang paling utama. Didalam konflik individu memiliki dua kecenderungan yang berlawanan : menjauh dan mendekat.
Individu harus memiliki dua atau lebih alternatif pilihan yang masing–masing memiliki kelebihan dan kekuhrangannya se ndiri. Keadaan seperti ini banyak dijumpai saat individu dihadapkan pada keputusan–keputusan mengenai kesehatannya.

Sumber yang berasal dari keluarga
Stres dalam keluarga dihasilkan melalui adanya perilaku, kebutuhan–kebutuhan dan kepribadian dari masing –masing anggota keluarga yang berdampak kepada anggota keluarga lainnya. Konflik interpersonal ini dapat timbul dari adanya masalah finansial, perilaku yang tidak sesuai, melalui adanya tujuan yang berbeda antar anggota keluarga, bertambahnya anggota keluarga perceraian orang tua, penyakit dan kecacatan yang dialami anggota keluarga dan kematian anggota keluarga.

Sumber stres yang berasal dari komunitas dan masyarakat
Adanya hubungan manusia dengan lingkungan luar menyebabkan banyak kemungkinan munculnya sumber – sumber stres. Misalnya: stres yang dirasakan anak sekolah akibat adanya kompetisi – kompetisi dalam hal seperti olah raga.
Di sisi lain, stres yang dialami oleh orang dewasa banyak diperoleh melalui pekerjaannya dan berbagai situasi lingkungan. Stres yang diperoleh melalui pekerjaan contohnya dikarenakan : diluar sisi kerja, kontrol yang rendah terhadap pekerjaan yang diemban, kurangnya hubungan interpersonal dengan sesama rekan kerja, promosi jabatan, kehilangan pekerjaan lainnya. Stres yang diperoleh dari lingkungan juga dapat diakibatkan oleh lingkungan yang berisik dan padat serta lingkungan yang tercemar (Sarafino, 1998).

Life – Change Events
Stres juga berasal dari Life – Change Events yaitu peristiwa – peristiwa yang membawa perubahan dalam kehidupan manusia dan diperlukan adaptasi terhadapnya. Homes & Rahe (dalam Matteo,1991) melakukan suatu penelitian yang dimulai dari adanya hipotesis bahwa tingkat stres yang dialami individu dapat dilihat dari sejumlah perubahan hidup yang sedang dialami.

5.# Pengkajian pada pasien kritis
PENGKAJIAN KEPERAWATAN KRITIS (ABCDE, AMPLE)
1.Pengkajian Primer
a.Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk. Jika ada obstruksi maka lakukan :
–Chin lift / jaw trust
–Suction / hisap
–Guedel airway
–Intubasi trakhea dengan leher ditahan (imobilisasi) pada posisi netral.
b.Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi, whezing, sonor, stidor/ ngorok, ekspansi dinding dada.
c.Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut
d.Disability
Menilai kesadaran dengan cepat,apakah sadar, hanya respon terhadap nyeri atau atau sama sekali tidak sadar. Tidak dianjurkan mengukur GCS. Adapun cara yang cukup jelasa dan cepat adalah
Awake:A
Respon bicara:V
Respon nyeri :P
Tidak ada respon:U
e.Eksposure
Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cidera yang mungkin ada, jika ada kecurigan cedera leher atau tulang belakang, maka imobilisasi in line harus dikerjakan

2.Pengkajian Sekunder
Pengkajian sekunder meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis dapat meggunakan format AMPLE (Alergi, Medikasi, Post illnes, Last meal, dan Event/ Environment yang berhubungan dengan kejadian). Pemeriksaan fisik dimulai dari kepala hingga kaki dan dapat pula ditambahkan pemeriksaan diagnostik.

6. # Menurut Stuart & Laraia (2001, dalam Keliat dan Akemat, 2005), komponen kelompok terdiri dari delapan aspek, yaitu sebagai berikut:

1. Struktur Kelompok
Struktur kelompok menjelaskan batasan komunikasi, proses pengambilan keputusan dan hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya pemimpin dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama.

2. Besar Kelompok
Jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah kelompok kecil yang anggotanya berkisar antara 5-12 orang. Jumlah anggota kelompok kecil menurut Stuart dan Laraia (2001, dalam Keliat dan Akemat, 2005) adalah 7-10 orang, sedangkan menurut Rawlins, Williams, dan Beck (1993, dalam Keliat dan Akemat, 2005) adalah 5-10 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua anggota mendapat kesempatan mengungkapkan perasaan, pendapat, dan pengalamannya. Jika terlalu kecil, tidak cukup variasi informasi dan interaksi yang terjadi. Sedangkan menurut Johnson (dalam Yosep, 2009) terapi kelompok sebaiknya tidak lebih dari 8 anggota karena interaksi dan reaksi interpersonal yang terbaik terjadi pada kelompok dengan jumlah sebanyak itu. Apabila keanggotaanya lebih dari 10, maka akan terlalu banyak tekanan yang dirasakan oleh anggota sehingga anggota merasa lebih terekspos, lebih cemas, dan seringkali bertingkah laku irasional.

3. Lamanya Sesi
Waktu optimal untuk satu sesi adalah 20-40 menit bagi fungsi kelompok yang rendah dan 60-120 menit bagi fungsi kelompok yang tinggi (Stuart & Laraia, dalam Keliat dan Akemat, 2005). Biasanya dimulai dengan pemanasan berupa orientasi, kemudian tahap kerja, dan finishing berupa terminasi. Banyaknya sesi tergantung pada tujuan kelompok, dapat satu kali atau dua kali perminggu; atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan.

4. Komunikasi
Tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobservasi dan menganalisa pola komunikasi dalam kelompok. Pemimpin menggunakan umpan balik untuk memberi kesadaran pada anggota kelompok terhadap dinamika yang terjadi.

5. Peran Kelompok
Pemimpin perlu mengobservasi peran yang terjadi dalam kelompok. Ada tiga peran dan fungsi kelompok yang ditampilkan anggota kelompok dalam kerja kelompok (Bernes & Sheats, 1948, dalam Keliat dan Akemat, 2005), yaitu maintenance roles, task roles, dan individual role. Maintence role, yaitu peran serta aktif dalam proses kelompok dan fungsi kelompok. Task roles, yaitu fokus pada penyelesaian tugas. Individual roles adalah self-centered dan distraksi pada kelompok.

6. Kekuatan Kelompok
Kekuatan (power) adalah kemampuan anggota kelompok dalam mempengaruhi berjalannya kegiatan kelompok. Untuk menetapkan kekuatan anggota kelompok yang bervariasi diperlukan kajian siapa yang paling banyak mendengar dan siapa yang membuat keputusan dalam kelompok.

7. Norma Kelompok
Norma adalah standar perilaku yang ada dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku kelompok pada masa yang akan datang berdasarkan pengalaman masa lalu dan saat ini. Pemahaman tentang norma kelompok berguna untuk mengetahui pengaruhnya terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok. Kesesuaian perilaku anggota kelompok dengan normal kelompok, penting dalam menerima anggota kelompok. Anggota kelompok yang tidak mengikuti norma dianggap pemberontak dan ditolak anggota kelompok lain.

8. Kekohesifan
Kekohesifan adalah kekuatan anggota kelompok bekerja sama dalam mencapai tujuan. Hal ini mempengaruhi anggota kelompok untuk tetap betah dalam kelompok. Apa yang membuat anggota kelompok tertarik dan puas terhadap kelompok, perlu diidentifikasi agar kehidupan kelompok dapat dipertahankan.

Fraktur


askep fraktur

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

FRAKTUR
A.    DEFINISI
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari pada yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot ekstrem. Meskipun tulang patah , jaringan di sekitarnya juga akan terpengaruh mengakibatkan edema jaringang lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendo, kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah. Organ tubuh dapat mengalami cedera akibat gaya yang disebabkan oleh fraktur atau akibat fragmen tulang (Burner at all, 2002).
Fraktur adalah patahnya kontinuitas tulang yang terjadi ketika tulang tidak mampu lagi menahan tekanan yang diberikan kepadanya (Donna L. Wong, 2004

B.     ETIOLOGI
1.      Trauma
a. Langsung (kecelakaan lalulintas)
b.Tidak langsung (jatuh dari ketinggian dengan posisi berdiri/duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang )
2.      Patologis : Metastase dari tulang
3.      Degenerasi
4.      Spontan : Terjadi tarikan otot yang sangat kuat..

C.     KLASIFIKASI  FRAKTUR
1. Menurut jumlah garis fraktur :
a.       Simple fraktur (terdapat satu garis fraktur)
b.     Multiple fraktur (terdapat lebih dari satu garis fraktur)
c.     Comminutive fraktur (banyak garis fraktur/fragmen kecil yang lepas)
2. Menurut luas garis fraktur :
a.    Fraktur inkomplit (tulang tidak terpotong secara langsung)
b.    Fraktur komplit (tulang terpotong secara total)
c.    Hair line fraktur (garis fraktur hampir tidak tampak sehingga tidak ada perubahan bentuk tulang)
3. Menurut bentuk fragmen :
a.    Fraktur transversal (bentuk fragmen melintang)
b.    Fraktur obligue (bentuk fragmen miring)
c.     Fraktur spiral (bentuk fragmen melingkar)
4.Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar :
a.              Fraktur terbuka (fragmen tulang menembus kulit), terbagi 3 :
1).Pecahan tulang menembus kulit, kerusakan jaringan sedikit, kontaminasi ringan, luka <1 cm.
2). Kerusakan jaringan sedang, resiko infeksi lebih besar, luka >1 cm.
3).Luka besar sampai ± 8 cm, kehancuran otot, kerusakan neurovaskuler,kontaminasi besar.
b.             Fraktur tertutup (fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar)

D.    PATOFISIOLOGI
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya (Black, J.M, et al, 1993).
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
a.              Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
b.            Faktor Intrinsik
                      Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.
( Ignatavicius, Donna D, 1995 )

Biologi penyembuhan tulang
Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang. Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:
1.    Stadium Satu-Pembentukan Hematoma
                 Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali.
2.    Stadium Dua-Proliferasi Seluler
                 Pada stadium initerjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum,dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.
3.         Stadium Tiga-Pembentukan Kallus
                 Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada
permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang ) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.
4.         Stadium Empat-Konsolidasi
                 Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal.
5.         Stadium Lima-Remodelling
                 Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya. (Black, J.M, et al, 1993 dan Apley, A.Graham,1993)


   

E. PATHWAY
Trauma                        Patologis                     Degenerasi                  Spontan

Terputusnya continuitas tulang

Deformitas                              Krepitasi                      Kehilangan Fungsi

Nyeri                                                 
                                                            Fraktur

G3 mobilitas fisik
Pre operasi                        post operasi

F. Terbuka              F.Tertutup           Amputasi               Pembidaian

Derajat I     Derajat II   Derajat II          Hematoma        Kehilangan   Gips         Traksi

Simple < 1cm      Simple >1cm  Discontinuitas                  Anggota Tubuh        T.kulit T.tulang    
Dan bersih       Dan Kontaminasi                                             Jaringan
                            Minim                                Bengkak Odema
                                                                   
                                                                              Nyeri                 Perubahan Bentuk Tubuh

                                                                                                                                                                                                                                                                            

F. MANIFESTASI KLINIS
Tanda-tanda klasik fraktur
1.      Nyeri
2.      Deformitas
3.      Krepitasi
4.      Bengkak
5.      Peningkatan temperatur lokal
6.      Pergerakan abnormal
7.      Echymosis
8.      Kehilangan fungsi
9.      Kemungkinan lain.
G.     KOMPLIKASI
1.      Umum
a.       Shock
b.      Kerusakan organ
c.       Kerusakan saraf
d.      Emboli lemak
2 D i n i :
a.       Cedera arteri
b.      Cedera kulit dan jaringan.
c.       Cedera partement syndrom.
3.      Lanjut :
a.       Stiffnes (kaku sendi)
b.      Degenerasi sendi
c.       Penyembuhan tulang terganggu
d.      Mal union
e.       Non union
f.       Delayed union
g.      Cross union

H.  PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK:
Pemeriksaan diagnostik yang sering dilakukan pada fraktur adalah:
1) X-ray:
- menentukan lokasi/luasnya fraktur
2) Scan tulang:
- memperlihatkan fraktur lebih jelas, mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak
3) Arteriogram
- dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kerusakan vaskuler.
4) Hitung Darah Lengkap
- hemokonsentrasi mungkin meningkat, menurun pada perdarahan; peningkatan
lekosit sebagai respon terhadap peradangan.
5) Kretinin
- trauma otot meningkatkan beban kretinin untuk klirens ginjal
6) Profil koagulasi
- perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, transfusi atau cedera hati.

I.   PENATALAKSANAAN
1. Reduksi untuk memperbaiki kesegarisan tulang (menarik)
2. Immobilisasi untuk mempertahankan posisi reduksi, memfasilitasi union :
·         Eksternal→gips, traksi
·         Internal→nail dan plate
3. Rehabilitasi, mengembalikan ke fungsi semula

ASUHAN KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN
a.       Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:
Gejala-gejala fraktur tergantung pada lokasi, berat dan jumlah kerusakan pada struktur lain. Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:
1.                Aktivitas/istirahat:
Gejala:
Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera akibat langsung dari fraktur atau akibat sekunder pembengkakan jaringan dan nyeri.
2.                Sirkulasi:
Tanda:
1)   Peningkatan tekanan darah mungkin terjadi akibat respon terhadap
nyeri/ansietas, sebaliknya dapat terjadi penurunan tekanan darah bila
terjadi perdarahan
2)   Takikardia
3)   Penurunan/tak ada denyut nadi pada bagian distal area cedera, pengisian kapiler lambat, pucat pada area fraktur.
4)   Hematoma area fraktur.
3.                Neurosensori:
Gejala:
Hilang gerakan/sensasi
Kesemutan (parestesia)
Tanda:
1)   Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi,
spasme otot, kelemahan/kehilangan fungsi.
2)   Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera akibat langsung dari fraktur atau akibat sekunder pembengkakan jaringan dan nyeri.
3)   Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma lain.
4.                Nyeri/Kenyamanan:
Gejala:
Nyeri hebat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area fraktur, berkurang pada imobilisasi.
Spasme/kram otot setelah imobilisasi.
5.                Keamanan:
Tanda:
1)      Laserasi kulit, perdarahan
2)      Pembengkakan lokal (dapat meningkat bertahap atau tiba-tiba)
6.                Penyuluhan/Pembelajaran:
Imobilisasi
Bantuan aktivitas perawatan diri
Prosedur terapi medis dan keperawatan

B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi
Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
Gangguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan perubahan bentuk tubuh.

C.    INTERVENSI
1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan..
Intervensi:
a.       Kaji skala nyeri
b.      Berikan posisi relaks pada pasien.
c.       Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
d.      Kolaborasi pemberian analgesic.
2 . Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi.
Intervensi.
a.       Kaji tingkat mobilisasi pasien.
b.      Berikan latihan ROM.
c.       Anjurkan penggunaan alat Bantu jika diperlukan.
d.      Pastikan dampak penyakitnya terhadap kebutuhan seksual.
3.      Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit.
Intervensi ;
a.       Bantu Px mengungkapkan rasa cemas atau takutnya
b.      Kaji pengetahuan Px tentangh prosedur yang akan dijalaninya.
c.       Berikan informasi yang benar tentang prosedur yang akan dijalani pasien




DISLOKASI
A. PENGERTIAN
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.

B.  KLASIFIKASI DISLOKASI
Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
         1. Dislokasi congenital :
                        Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
         2. Dislokasi patologik :
                                    Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang.
         3. Dislokasi traumatic :
                                    Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :
            1) Dislokasi Akut
                        Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi.
            2) Dislokasi Kronik
            3) Dislokasi Berulang
                        Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint.
                        Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.
C. ETIOLOGI
Dislokasi disebabkan oleh :
1. Cedera olah raga
Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.
2. Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga
Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi.
3. Terjatuh
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin
4. Patologis :
terjadinya ‘tear’ligament dan kapsul articuler yang merupakan
kompenen vital penghubung tulang
D. PATOFISIOLOGI
Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus terdorong kedepan ,merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi.Kadang-kadang bagian posterolateral kaput hancur.Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan menimbulkan luksasio erekta (dengan tangan mengarah ;lengan ini hampir selalu jatuh membawa kaput ke posisi da bawah karakoid).
E. PATHWAY

Kecelakaan


Fraktur

Pre operasi                               post operasi

f.terbuka                      dislokasi          f.tertutup         amputasi

pemb.darah robek       spasme otot     hematoma        kehilangan anggota tubuh

perdarahan                  Nyeri               bengkak           ggg.citra tubuh

kurang pengetahuan    ggg.mobilitas fisik                

            Ansietas                                

F. MANIFESTASI KLINIS
1.      Nyeri terasa hebat
2.      Pasien menyokong lengan itu dengan tangan sebelahnya
3.      segan menerima pemeriksaan apa saja
4.      Garis gambar lateral bahu dapat rata
5.      kalau pasien tak terlalu berotot suatu tonjolan dapat diraba tepat di bawah klavikula.
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Dengan cara pemeriksaan Sinar –X ( pemeriksaan X-Rays ) pada bagian anteroposterior akan memperlihatkan bayangan yang tumpah-tindih antara kaput humerus dan fossa Glenoid, Kaput biasanya terletak di bawah dan medial terhadap terhadap mangkuk sendi.
H. KOMPLIKASI
Dini
1)      Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut
2)      Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak
3)      Fraktur disloksi
Komplikasi lanjut
1)      Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu, terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis membatasi abduksi
2)      Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid
3)      Kelemahan otot
I.PENATALAKSANAAN
1)      Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat.
2)      Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi.
3)      Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar tetap dalam posisi stabil.
4)      Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 3-4X sehari yang berguna untuk mengembalikan kisaran sendi
5)      Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan.










J. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
1)      Identitas dan keluhan utama
2)      Riwayat penyakit lalu
3)      Riwayat penyakit sekarang
4)      Riwayat masa pertumbuhan
5)      Pemeriksaan fisik terutama masalah persendian : nyeri, deformitas, fungsiolesa misalnya: bahu tidak dapat endorotasi pada dislokasi anterior bahu.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan
2.      Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi
3.      Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyaki
4.      Gangguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan perubahan bentuk tubuh.
INTERVENSI
Dx 1
1.      Kaji skala nyeri
2.      Berikan posisi relaks pada pasien
3.      Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
4.      Kolaborasi pemberian analgesic
Dx 2
1.      Kaji tingkat mobilisasi pasien
2.      Berikan latihan ROM
3.      Anjurkan penggunaan alat Bantu jika diperlukan
Dx. 3
1.      Bantu Px mengungkapkan rasa cemas atau takutnya
2.      Kaji pengetahuan Px tentangh prosedur yang akan dijalaninya.
3.      Berikan informasi yang benar tentang prosedur yang akan dijalani pasien
Dx 4
1.      Kaji konsep diri pasien
2.      Kembangkan BHSP dengan pasien
3.      Bantu pasien mengungkapkan masalahnya
4.      Bantu pasien mengatasi masalahnya.















BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Fraktur adalah patahnya kontinuitas tulang yang terjadi ketika tulang tidak mampu lagi menahan tekanan yang diberikan kepadanya (Donna L. Wong, 2004).Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi
Fraktur dapat diklasifikasikan ; 1) Terbuka dan Tertutup, 2) Komplit dan Inkomplit, 3) Complicated dan comminuted.Fraktur disebakan karena trauma. Terdapat manifestasi klinis serta komplikasi sebagai akibat fraktur.Pemeriksaan diagnostik pada fraktur meliputi; Foto Rontgen, Pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan darah.Penatalaksanaan terapetik meliputi ; Pengobatan dan Reduksi.Pengkajian pada fraktur meliputi ; Riwayat fraktur, Muskuloskeletal, Neurologi, integumen, nadi, neuromuskular. Asuhan keperawatan ditujukan pada penyelesaian masalah aktual maupun potensial pada anak dengan fraktur dan dislokasi.

B.     SARAN

Penulis mengetahui bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna sehingga penulis mengharapkan saran atau kritik yang membangun dari pembaca sehingga makalah ini bisa mendekati kata sempurna. Opini dari para pembaca sangat berarti bagi kami guna evaluasi untuk menyempurnakan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Apley, A. Graham , Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley, Widya Medika, Jakarta, 1995.
Black, J.M, et al, Luckman and Sorensen’s Medikal Nursing : A Nursing Process Approach, 4 th Edition, W.B. Saunder Company, 1995.
Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed. 6, EGC, Jakarta
Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta
Dudley (1992), Ilmu Bedah Gawat Darurat, Edisi 11, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Dunphy & Botsford (1985), Pemeriksaan Fisik Bedah, Yayasan Essentia Medica, Jakarta.
Herman Santoso, dr., SpBO (2000), Diagnosis dan Terapi Kelainan Sistem Muskuloskeletal, Diktat Kuliah PSIK, tidak dipublikasikan.

Dislokasi

ASKEP DISLOKASI
olgaa
gambar 2

1.  Konsep Teoritis

A. Pengertian

Dislokasi sendi atau luksasio adalah tergesernya permukaan tulang yang membentuk persendian terhadap tulang lain. (Sjamsuhidajat,2011. Buku Ajar lImu Bedah, edisi 3,Halaman 1046)

Dislokasi sendi adalah suatu keadaan dimana permukaan sendi tulang yang membentuk sendi tak lagi dalam hubungan anatomis. (Brunner & Suddart, 2002, KMB, edisi 8, vol 3,Halaman 2355)

Dislokasi sendi adalah menggambarkan individu yang mengalami atau beresiko tinggi untuk mengalami perubahan posisi tulang dari posisinya pada sendi. (Carpenito, 2000, edisi 6, Halaman 1118)

Dislokasi sendi adalah fragmen frakrtur saling terpisah dan menimbulkan deformitas. (Kowalak, 2011, Buku Ajar Patofisiologi, Halaman 404).

Dislokasi adalah deviasi hubungan normal antara rawan yang satu dengan rawan yang lainnya sudah tidak menyinggung satu dengan lainnya. (Price & Wilson, 2006, edisi 6, vol 2, Halaman1368 ).

Kesimpulan:

Dislokasi adalah tergesernya sendi dari mangkuk sendi yang kemudian dapat menimbulkan deformitas.

B. Klasifikasi

Klasifikasi dislokasi menurut penyababnya (Brunner & Suddart, 2002, KMB, edisi 8, vol 3,Halaman 2356) adalah:

Dislokasi congenital, terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan, paling sering terlihat pada pinggul.
Dislokasi spontan atau patologik, akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang
Dislokasi traumatic, kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa.
Dislokasi berdarsarkan tipe kliniknya dapat dibagi menjadi :

(Brunner & Suddart, 2002, KMB, edisi 8, vol 3,Halaman 2356)

Dislokasi Akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi

Dislokasi Berulang.
Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint.Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

C. Etiologi

olg
gambar 1

1. Cedera olah raga

Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.

2. Trauma kecelakaan

Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi

D. Patofisiologi

Cedera akibat olahraga dikarenakan beberapa hal seperti tidak melakukan exercise sebelum olahraga memungkinkan terjadinya dislokasi, dimana cedera olahraga menyebabkan terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi sehingga dapat merusak struktur sendi dan ligamen. Keadaan selanjutnya terjadinya kompresi jaringan tulang yang terdorong ke depan sehingga merobek kapsul/menyebabkan tepi glenoid teravulsi akibatnya tulang berpindah dari posisi normal. Keadaan tersebut dikatakan sebagai dislokasi.

Begitu pula dengan trauma kecelakaan karena kurang kehati-hatian dalam melakukan suatu tindakan atau saat berkendara tidak menggunakan helm dan sabuk pengaman memungkinkan terjadi dislokasi. Trauma kecelakaan dapat kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi sehingga dapat merusak struktur sendi dan ligamen. Keadaan selanjutnya terjadinya kompres jaringan tulang yang terdorong ke depan sehingga merobek kapsul/menyebabkan tepi glenoid teravulsi akibatnya tulang berpindah dari posisi normal yang menyebabkan dislokasi.

E. Manifestasi Klinis

Nyeri akut
Perubahan kontur sendi
Perubahan panjang ekstremitas
Kehilangan mobilitas normal
Perubahan sumbu tulang yang mengalami dislokasi
F. Komplikasi

a. Komplikasi dini

Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera, pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut
Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak
Fraktur disloksi
b. Komplikasi lanjut.

Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu, terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis membatasi abduksi
Dislokasi yang berulang: terjadi kalau labrum glenoid robek atau
Kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid
Kelemahan otot
G. Pemeriksaan penunjang

1. Sinar-X (Rontgen)

Pemeriksaan rontgen merupakan pemeriksaan diagnostik noninvasif untuk membantu menegakkan diagnosa medis. Pada pasien dislokasi sendi ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi dimana tulang dan sendi berwarna putih.

2. CT scan

CT-Scan yaitu pemeriksaan sinar-X yang lebih canggih dengan bantuan komputer, sehingga memperoleh gambar yang lebih detail dan dapat dibuat gambaran secara 3 dimensi. Pada psien dislokasi ditemukan gambar 3 dimensi dimana sendi tidak berada pada tempatnya.

3. MRI

MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan gelombang magnet dan frekuensi radio tanpa menggunakan sinar-X atau bahan radio aktif, sehingga dapat diperoleh gambaran tubuh (terutama jaringan lunak) dengan lebih detail. Seperti halnya CT-Scan, pada pemeriksaan MRI ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi.

H. Penatalaksanaan

1. Medis

a. Farmakologi (ISO Indonesia 2011-2012)

1) Pemberian obat-obatan : analgesik non narkotik

a)  Analsik yang berfungsi untuk mengatasi nyeri otot, sendi, sakit kepala, nyeri pinggang. Efek samping dari obat ini adalah agranulositosis. Dosis: sesudah makan, dewasa: sehari 3×1 kapsul, anak: sehari 3×1/2 kapsul.

b) Bimastan yang berfungsi untuk menghilangkan nyeri ringan atau sedang, kondisi akut atau kronik termasuk nyeri persendian, nyeri otot, nyeri setelah melahirkan. Efek samping dari obat ini adalah mual, muntah, agranulositosis, aeukopenia. Dosis: dewasa; dosis awal 500mg lalu 250mg tiap 6 jam.

2. Pembedahan

a. Operasi ortopedi

Operasi ortopedi merupakan spesialisasi medis yang mengkhususkan pada pengendalian medis dan bedah para pasien yang memiliki kondisi-kondisi arthritis yang mempengaruhi persendian utama, pinggul, lutut dan bahu melalui bedah invasif minimal dan bedah penggantian sendi. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan meliputi Reduksi Terbuka dengan Fiksasi Interna atau disingkat ORIF (Open Reduction and Fixation).Berikut dibawah ini jenis-jenis pembedahan ortopedi dan indikasinya yang lazim dilakukan :

1)      Reduksi terbuka : melakukan reduksi dan membuat kesejajaran tulang yang patah setelah terlebih dahulu dilakukan diseksi dan pemajanan tulang yang patah.

2)      Fiksasi interna : stabilisasi tulang patah yang telah direduksi dengan skrup, plat, paku dan pin logam.

3)      Graft tulang : penggantian jaringan tulang (graft autolog maupun heterolog) untuk memperbaiki penyembuhan, untuk menstabilisasi atau mengganti tulang yang berpenyakit.

4)      Amputasi : penghilangan bagian tubuh.

5)      Artroplasti: memperbaiki masalah sendi dengan artroskop(suatu alat yang memungkinkan ahli bedah mengoperasi dalamnya sendi tanpa irisan yang besar) atau melalui pembedahan sendi terbuka.

6)      Menisektomi : eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak.

7)      Penggantian sendi: penggantian permukaan sendi dengan bahan logam atau sintetis.

8)      Penggantian sendi total: penggantian kedua permukaan artikuler dalam sendidengan logam atau sintetis.

2. Non medis

a. Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat.

RICE

1)      R            : Rest (istirahat)

2)      I             : Ice (kompres dengan es)

3)      C            : Compression (kompresi/ pemasangan pembalut tekan)

4)      E            : Elevasi (meninggikan bagian dislokasi)

b. Pencegahan

1)      Cedera akibat olahraga

Gunakan peralatan yang diperlukan seperti sepatu untuk lari
Latihan atau exercise
Conditioning
2)      Trauma kecelakaan

Kurangi kecepatan
Memakai alat pelindung diri seperti helm, sabuk pengaman
Patuhi peraturan lalu lintas
2.  Askep Teoritis Dislokasi

A. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan untuk mengumpulkan data pasien dengan menggunakan tehnik wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tetapi pada pasien dislokasi difokuskan pada :

1)   Keluhan Utama

Keluhan utama pada pasien dislokasi adalah psien mengeluhkan adanya nyeri. Kaji penyebab, kualitas, skala nyeri dan saat kapan nyeri meningkat dan saat kapan nyeri dirasakan menurun.

2)   Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien biasanya mengeluhkan nyeri pada bagian yang terjadi dislokasi, pergerakan terbatas, pasien melaporkan penyebab terjadinya cedera.

3)   Riwayat Penyakit Dahulu

Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab dislokasi, serta penyakit yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses penyembuhan.

4)   Pemeriksaan Fisik

Tampak adanya perubahan kontur sendi pada ekstremitas yang mengalami dislokasi
Tampak perubahan panjang ekstremitas pada daerah yang mengalami dislokasi
Adanya nyeri tekan pada daerah dislokasi
Tampak adanya lebam pada dislokasi sendi
5)   Kaji 14 kebutuhan dasar Henderson. Untuk dislokasi dapat difokuskan kebutuhan dasar manusia yang terganggu adalah:

b)   Rasa nyaman (nyeri) : pasien dengan dislokasi biasanya mengeluhkan nyeri pada bagian dislokasi yang dapat mengganggu kenyamanan klien.

c)    Gerak dan aktivitas: pasien dengan dislokasi dimana sendi tidak berada pada tempatnya semula harus diimobilisasi. Klien dengan dislokasi pada ekstremitas dapat mengganggu gerak dan aktivitas klien.

d)   Makan minum: pasien yang mengalami dislokasi terutama pada rahang sehingga klien mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Efeknya bagi tubuh yaitu ketidakseimbangan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

e)    Rasa aman(ansietas): klien dengan dislokasi tentunya mengalami gangguan rasa aman atau cemas(ansietas) dengan kondisinya.

6)   Pemeriksaan diagnostik

a)      Pemeriksaan rontgen untuk melihat lokasi dari dislokasi.

b)      Pemeriksaan CT-Scan digunakan untuk melihat ukuran dan lokasi tumor dengan gambar 3 dimensi.

c)      Pemeriksaan MRI untuk pemeriksaan persendian dengan menggunakan gelombang magnet dan gelombang frekuensi radio sehingga didapatkan gambar yang lebih detail.

B. Diagnosa Keperawatan

1)      Nyeri akut berhubungan dengan agen penyebab cedera (fisik)

2)      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskletal

3)      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan mengunyah atau menelan.

C. Intervensi Keperawatan

Nursing Care Plan Pasien Dislokasi

Dx.1 Nyeri Akut                                                               (Nanda NIC NOC hal:530)

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional
1 Nyeri akut berhubungan dengan agen penyebab cedera-          Fisik(trauma kecelakaan dan cedera olahraga)-          DS: klien melaporkan adanya nyeri.-          DO: klien tampak berperilaku distraksi (mondar mandir, aktivitas berulang, memegang daerah nyeri), perilaku ekspresif(gelisah, meringis, menangis, menghela napas panjang)

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan dengan kriteria hasil :
Memperlihatkan pengendalian nyeri.
Melaporkan tidak adanya nyeri
Tidak menunjukan adanya nyeri meningkat.(tidak ada ekspresi nyeri pada wajah,tidak gelisah atau ketegangan otot,tidak merintih atau menangis.)

Observasi keadaan umum pasien(tingkat nyeri dan TTV)
Beri posisi nyaman(semi fowler)
Berikan kompres hangat pada lokasi dislokasi
Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
Beri HE tentang penyebab nyeri, dan antisipasi ketidaknyamanan
Kolaborasi dalam pemberian analgetik
Mengetahui keadaan umum pasien dan tingkat nyeri pasien
Posisi semi fowler dapat meminimalkan nyeri pada dislokasi
Kompres hangat berperan dalam vasodilatasi pembuluh darah.
Teknik distraksi dan relaksasi berfungsi dalam mengalihkan fokus nyeri pasien
Penanaman HE pada pasien berfungsi untuk mengurangi kecemasan pasien terhadap kondisinya
Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri pada dislokasi.
Dx 2: Hambatan mobilitas fisik                                                   (Nanda NIC NOC hal:472)

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional
2 Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskletal-          DS: pasien mengeluh sulit dalam bergerak-          DO: tidak dapat melakukan aktivitas secara mandiri, gerakan tidak teratur atau tidak terkoordinasi Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan klien dapat melakukan mobilisasi dengan teratur dengan kriteria hasil :
Klien mengatakan dapat melakukan pergerakan dengan bebas
Gerakan pasien terkoordinir
Pasien dapat melakukan aktivitas secara mandiri

1)      Observasi keadaan umum(tingkat mobilitas dan kekuatan otot)2)      Ajarkan ROM3)      Pengaturan posisi4)      Berikan bantuan perawatan diri: berpindah
5)      Berikan HE tentang latihan fisik

6)      Kolaborasi dengan ahli fisioterapi dalam memberikan terapi yang tepat

1)      Menunjukkan tingkat mobilisasi pasien dan menentukan intervensi selanjutnya2)      Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot3)      Meningkatkan kesejahteraan fisiologis dan psikologis4)      Membantu individu mengubah posisi tubuhnya
5)      Mengubah persepsi pasien terhadap latihan fisik

6)      Mengembalikan posisi tubuh autonom dan volunter selama pengobatan dan pemulihan dari posisi sakit atau cedera

Dx 3: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh   (Nanda NIC NOC Hal: 503)

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional
3 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan mengunyah atau menelan.-          DS: pasien mengeluh susah mengunyah, pasien mengatakan nafsu makan menurun-          DO: pasien tampak lemas, mukosa bibir kering, tampak kurang berminat terhadap makanan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi secara adekuat dengan kriteria hasil:1)      Pasien tidak melaporkan kesulitan mengunyah2)      Nafsu makan pasien kembali baik3)      Keadaan umum pasien kembali normal
Kaji faktor penyabab kesulitan mengunyah
Letakkan makanan pada bagian mulut yang tidak mengalami masalah
Atur posisi pasien(semi fowler)
Kolaborasi dalam pemasangan alat invasif(NGT)
Mengetahui faktor penyebab kesulitan mengunyah dan menentukan intervensi selanjutnya
Mengurangi aktivitas pada rahang yang sakit
Posisi semi fowler dapat mencegah aspirasi
Mempertahankan asupan nutrisi pasien
D. Implementasi Keperawatan

Dilaksanakan sesuai dengan intervensi.

E. Evaluasi

Nyeri dapat teratasi
Pasien dapat melkukan mobilitas secara normal
Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi secara adekuat

Reumatoid Atritis

. 1   Definisi Rheumatoid Artritis

   Rhematoid arthritis merupakan suatu penyakit autoimun kronis dengan gejala nyeri, kekakuan, gangguan pergerakan, erosi sendi dan berbagai gejala inflamasi lainnya. Penyakit yang 75 % diderita oleh kaum hawa ini bisa menyerang semua sendi, namun sebagian besar menyerang sendi-sendi jari (proximal interphalangeal dan metacarpophalangeal).

   Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan struktur-struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang.

Umumnya penyakit ini menyerang pada sendi-sendi bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. Pada penderita stadium lanjut akan membuat si penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya menurun. Gejala yang lain yaitu berupa demam, nafsu makan menurun, berat badan menurun, lemah dan kurang darah. Namun kadang kala si penderita tidak merasakan gejalanya. Diperkirakan kasus Rheumatoid Arthritis diderita pada usia di atas 18 tahun dan berkisar 0,1% sampai dengan 0,3% dari jumlah penduduk Indonesia.

2. 2   Manifestasi Klinis Reumatoid Artritis

Tanda dan gejala setempat :

Ø  Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning stiffness) dan gerakan terbatas, kekakuan berlangsung tidak lebih dari 30 menit dan dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya tidak berlangsung lama.

Ø  Lambat laun membengkak, panas merah, lemah

Ø  Poli artritis simetris sendi perifer à Semua sendi bisa terserang, panggul, lutut, pergelangan tangan, siku, rahang dan bahu. Paling sering mengenai sendi kecil tangan, kaki, pergelangan tangan, meskipun sendi yang lebih besar  seringkali terkena juga

Ø  Artritis erosif à sifat radiologis penyakit ini. Peradangan sendi yang kronik menyebabkan erosi pada pinggir tulang dan ini dapat dilihat pada penyinaran sinar X

Ø  Deformitas à pergeseran ulnar, deviasi jari-jari, subluksasi sendi metakarpofalangea, deformitas boutonniere dan leher angsa. Sendi yang lebih besar mungkin juga terserang yang disertai penurunan kemampuan fleksi ataupun ekstensi. Sendi mungkin mengalami ankilosis disertai kehilangan kemampuan bergerak yang total

Ø  Rematoid nodul à merupakan massa subkutan yang terjadi pada 1/3 pasien dewasa, kasus ini sering menyerang bagian siku (bursa olekranon) atau sepanjang permukaan ekstensor lengan bawah, bentuknya oval atau bulat dan padat.

Tanda dan gejala sistemik :

Lemah, demam tachikardi, berat badan turun, anemia, anoreksia. Bila ditinjau dari stadium, maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu:

1)      Stadium sinovitis

Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai adanya hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat istirahat maupun saat bergerak, bengkak, dan kekakuan.

2)      Stadium destruksi

Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon. Selain tanda dan gejala tersebut diatasterjadi pula perubahan bentuk pada tangan yaitu bentuk jari swan-neck.

3)      Stadium deformitas

Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali, deformitas dan ganggguan fungsi secara menetap. Perubahan pada sendi diawali adanya sinovitis, berlanjut pada pembentukan pannus, ankilosis fibrosa, dan terakhir ankilosis tulang

Artritis rematoid bisa muncul secara tiba-tiba, dimana pada saat yang sama banyak sendi yang mengalami peradangan. Biasanya peradangan bersifat simetris, jika suatu sendi pada sisi kiri tubuh terkena, maka sendi yang sama di sisi kanan tubuh juga akan meradang. Yang pertama kali meradang adalah sendi-sendi kecil di jari tangan, jari kaki, tangan, kaki, pergelangan tangan, sikut dan pergelangan kaki.

Sendi yang meradang biasanya menimbulkan nyeri dan menjadi kaku, terutama pada saat bangun tidur atau setelah lama tidak melakukan aktivitas. Beberapa penderita merasa lelah dan lemah, terutama menjelang sore hari. Sendi yang terkena akan membesar dan segera terjadi kelainan bentuk.

Sendi bisa terhenti dalam satu posisi (kontraktur) sehingga tidak dapat diregangkan atau dibuka sepenuhnya. Jari-jari pada kedua tangan cenderung membengkok ke arah kelingking, sehingga tendon pada jari-jari tangan bergeser dari tempatnya.

2. 3   Pathofisiologi Rheumatoid Artritis

   Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular.  Peradangan yang berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi.  Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago.  Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.

Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.  Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).  Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.  Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.

Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan.  Sementara ada orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi.  Yang lain. terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid) gangguan akan menjadi kronis yang progresif.

Secara singkat dapat dikatakan Reaksi autoimun dalam jaringan sinovial yang melakukan proses fagositosis yang menghasilkan enzim – enzim dalam sendi untuk memecah kolagen sehingga terjadi edema proliferasi membran sinovial dan akhirnya membentuk pannus. Pannus tersebut akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang sehingga akan berakibat menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi.

2. 4   Pemeriksaan Penunjang

1.   Pemeriksaan Laboratorium

            Beberapa hasil uji laboratorium dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis artritis reumatoid. Sekitar 85% penderita artritis reumatoid mempunyai autoantibodi di dalam serumnya yang dikenal sebagai faktor reumatoid. Autoantibodi ini adalah suatu faktor anti-gama globulin (IgM) yang bereaksi terhadap perubahan IgG. Titer yang tinggi, lebih besar dari 1:160, biasanya dikaitkan dengan nodula reumatoid, penyakit yang berat, vaskulitis, dan prognosis yang buruk.

            Faktor reumatoid adalah suatu indikator diagnosis yang membantu, tetapi uji untuk menemukan faktor ini bukanlah suatu uji untuk menyingkirkan diagnosis reumatoid artritis. Hasil yang positif dapat juga menyatakan adanya penyakit jaringan penyambung seperti lupus eritematosus sistemik, sklerosis sistemik progresif, dan dermatomiositis. Selain itu, sekitar 5% orang normal memiliki faktor reumatoid yang positif dalam serumnya. Insidens ini meningkat dengan bertambahnya usia. Sebanyak 20% orang normal yang berusia diatas 60 tahun dapat memiliki faktor reumatoid dalam titer yang rendah.

            Laju endap darah (LED) adalah suatu indeks peradangan yang bersifat tidak spesifik. Pada artritis reumatoid nilainya dapat tinggi (100 mm/jam atau lebih tinggi lagi). Hal ini berarti bahwa laju endap darah dapat dipakai untuk memantau aktifitas penyakit. Artritis reumatoid dapat menyebabkan anemia normositik normokromik melalui pengaruhnya pada sumsum tulang. Anemia ini tidak berespons terhadap pengobatan anemia yang biasa dan dapat membuat penderita cepat lelah. Seringkali juga terdapat anemia kekurangan besi sebagai akibat pemberian obat untuk mengobati penyakit ini. Anemia semacam ini dapat berespons terhadap pemberian besi.

            Pada Sendi Cairan sinovial normal bersifat jernih, berwarna kuning muda hitung sel darah putih kurang dari 200/mm3. Pada artritis reumatoid cairan sinovial kehilangan viskositasnya dan hitungan sel darah putih meningkat mencapai 15.000 – 20.000/ mm3. Hal ini membuat cairan menjadi tidak jernih. Cairan semacam ini dapat membeku, tetapi bekuan biasanya tidak kuat dan mudah pecah. Pemeriksaan laboratorium khusus untuk membantu menegakkan diagnosis lainya, misalnya : gambaran immunoelectrophoresis HLA (Human Lymphocyte Antigen) serta Rose-Wahler test.

2.   Pemeriksaan Radiologi

            Pada awal penyakit tidak ditemukan, tetapi setelah sendi mengalami kerusakan yang berat dapat terlihat penyempitan ruang sendi karena hilangnya rawan sendi. Terjadi erosi tulang pada tepi sendi dan penurunan densitas tulang. Perubahan ini sifatnya tidak reversibel. Secara radiologik didapati adanya tanda-tanda dekalsifikasi (sekurang-kurangnya) pada sendi yang terkena.

2. 5   Penatalaksanaan

Tujuan utama terapi adalah :

1.      Meringankan rasa nyeri dan peradangan

2.      Memperatahankan fungsi sendi dan kapasitas fungsional maksimal penderita.

3.      Mencegah atau memperbaiki deformitas

Program terapi dasar terdiri dari lima komponen dibawah ini yang merupakan sarana pembantu untuk mecapai tujuan-tujuan tersebut yaitu:

1.      Istirahat

2.      Latihan fisik

3.      Panas

4.      Pengobatan

Ø  Aspirin (anti nyeri)dosis antara 8 s.d 25 tablet perhari, kadar salisilat serum yang diharapakan adalah 20-25 mg per 100 ml

Ø  Natrium kolin dan asetamenofen à meningkatkan toleransi saluran cerna terhadap terapi obat

Ø  Obat anti malaria (hidroksiklorokuin, klorokuin) dosis 200 – 600 mg/hari à mengatasi keluhan sendi, memiliki efek steroid sparing sehingga menurunkan kebutuhan steroid yang diperlukan.

Ø  Garam emas

Ø  Kortikosteroid

5.      Nutrisi à diet untuk penurunan berat badan yang berlebih

Bila Rhematoid artritis progresif dan, menyebabkan kerusakan sendi, pembedahan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki fungsi. Pembedahan dan indikasinya sebagai berikut:

a)      Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi tertentu, untuk mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya kembali inflamasi.

b)      Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.

c)      Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut, tumit dan pergelangan tangan.

d)     Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat kembali dataran pada persendian.





2. 6   Proses Keperawatan Reumatoid Artritis

A.  PENGKAJIAN

1.   Riwayat Keperawatan

ü  Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, atau pada tungkai.

ü  Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada sendi.

2.   Pemeriksaan Fisik

1.              Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral), amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.

2.              Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi sinovial

·         Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)

·         Catat bila ada krepitasi

·         Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan

3.      Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral

·         Catat bia ada atrofi, tonus yang berkurang

·         Ukur kekuatan otot

4.      Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya

5.      Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari

3.   Riwayat Psiko Sosial

Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi apalagi pad pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi karean ia merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan harga diri klien.



B.  DIAGNOSA KEPERAWATAN

Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien dengan artritis ditambah dengan adanya data dari pemeriksaan diagnostik, maka diagnosa keperawatan yang sering muncul yaitu:

1.      Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh, sendi, bengkok, deformitas.

2.              Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid.

3.              Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.

4.              intoleransi aktifitas sehari-hari berhubungan dengan terbatasnya gerakan.

C.  INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN



NANDA NOC NIC

1.      Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh, sendi, bengkok, deformitas.P.197

Domain 6 : Persepsi/Kognitif

Kelas 3      : Citra Tubuh

Defenisi     : Kebingungan tentang gambaran mental fisik pribadi

Batasan karakteristik :

·         Prilaku menghindar akibat kehilangan salah satu organ tubuh

·         Respon non verbal akibat perubahan actual tubuh

·         Respon non verbal terhadap penerimaan perubahan tubuh

·         Kehilangan organ tubuh

·         Tidak mau melihat bagian tubuh

·         Tidak mau menyentuh bagian tubuh

NOC 1

Citra Tubuh p. 123

Defenisi: Persepsi positif terhadap penampilan dan fungsi pribadi tubuh

Indicator:

§  Gambaran internal tubuh

§  Keseimbangan antara realita, ideal dan penampilan tubuh

§  Kepuasan penmapilan tubuh

§  Pengaturan penampilan fisik tubuh

§  Pengaturan perubahan fungsi tubuh

NIC 1

Perbaikan Citra Tubuh : 145

Defenisi : Peningkatan persepsi sadar dan ketidaksadarn dan sikap ke depan terhadap tubuhnya

Aktivitas:

o   Menentukan dugaan citra tubuh pasien, sesuai dengan perkembangannya

o   Membantu pasien untuk mendiskusikan perubahan yang terjadi akibat penyakit dan pembedahan

o   Membantu pasien memelihara perubahan tubuh

o   Membantu pasien untuk membedakan penampilan fisik dari perasaan yang beharga

o   Membantu pasien untuk menentukan akibat dari persepsi yang sama penampilan tubuh.

o   Monitoring pandangan diri secara berkala

o   Monitoring apakah pasien melihat perubahan pada bagian tubuh

o   Montoring pernyataan tentang persepsi identitas diri sehubungan denagn bagian tubuh dan berat badan

o   Menentukan apakah perubahan citra tubuh berkontribusi dalam isolasi social

o   Membantu pasien dalam mengidentifikasi penampilan yang akan meningkat



2.              Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid.

Domain 12      : Kenyamanan

Kelas 1            : Kenyamanan Fisik

Defenisi           : Ketidaknyamanan sensori dan ekspresi emosional akibat gangguan jaringan actual dan potensial dan dideskribsikan dengan dengan sustu gangguan (IASP) ; serangan mendadak atau lambat dari berbagai intensitas dari yang ringan hingga hebat , konstan atau berulang tanpa antisipasi atau prediksi terakhir dan waktunya >6 bulan.

Batasan karakteristik :

·      Anorexia

·      Perubahan pola tidur

·      Fatigue

·      Gangguan interaksi social

·      Ekspresi verbal tentang nyeri

NOC 1

Control nyeri p. 326

Defenisi: perilaku individu dalam mengontrol nyeri.

Indicator:

§  Mengakui factor penyebab

§  Mengetahui nyeri

§  Menggunakan obat analgesic

§  Menjelaskan gejala nyeri

§  Melaporkan control nyeri yang telah dilakukan



NOC 2

Level nyeri p. 328

Defenisi :

Indicator :

§  Ekspresi nyeri

§  Frekuensi nyeri

§  Ekspresi wajah terhadap nyeri

NIC

Pain management (Manajemen nyeri) p. 412

Aktivitas:

o  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan factor presipitasi

o  Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan

o  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien

o  Kaji budaya yang mempengaruhi respion nyeri

o  Determinasi akibat nyeri terhadap kualitas hidup

o  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

o  Control ruangan yang dapat mempengaruhi nyeri

o  Kurangi factor presipitasi nyeri

o  Pilih dan lakukan penanganan nyeri

o  Ajarkan pasien untuk memonitor nyeri

o  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

o  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

o  Evaluasi keefektifan control nyeri

o  Tingkatkan istirahat

o  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

3. Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.

NOC :

Perilaku Aman: Mencegah

Jatuh dengan indikator

-   Menghindari jatuh dan terpeleset di lantai

-   Menggunakan tongkat

-   Menjauhkan bahaya yang bisa menyebabkan jatuh

-   Memakai alas kaki yang tidak mudah slip

-   Mengatur tinggi tempat tidur

-   Menggunakan alat Bantu penglihatan

NIC :

1.         Manajemen Lingkungan

-   ciptakan lingkungan yang aman bagi pasien

-   identifilasi kebutuhan rasa aman bagi pasien berdasarkan tingkat fungsi fisik dan kognitif dan riwayat perilaku masa lalu

-   jauhkan lingkungan yang mengancam

-   jauhkan objek yang berbahaya dari lingkungan

-   berikan side rail

-   antarkan pasien selama aktivitas di luar rumah sakit

2.         Mencegah Jatuh :

-   Kaji penyebab defisit fisik pasien

-   Kaji karakteristik lingkungan yang menyebabkan jatuh

-   Monitor gaya jalan pasien, keseimbangan, tingkat kelelahan

-   Berikan penerangan yang cukup

-   Pasang siderail tempat tidur

4. Intoleransi aktifitas sehari-hari berhubungan dengan terbatasnya gerakan.

Intoleransi aktivitas

NOC :

 Self Care :

ADLs

 Toleransi aktivitas

 Konservasi eneergi Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pasien bertoleransi terhadap aktivitas dengan Kriteria Hasil :

 Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR

 Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secaramandiri

 Keseimbangan aktivitas dan istirahat

NIC :

 Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas

 Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan

 Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat

 Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan

 Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas (takikardi, disritmia, sesak nafas, diaporesis, pucat, perubahan hemodinamik)

 Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien

 Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan progran terapi yang tepat.

 Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan

 Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan sosial

 Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan

 Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek

 Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai

 Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang

 Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas

 Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas

 Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan

 Monitor respon fisik, emosi, social dan spiritual


D.  EVALUASI

·                      Prilaku yang adaptif sehubungan dengan adanya masalah konsep diri

·                      Nyeri dapat berkurang

·                      Mampu untuk melakukan aktifitas sehari-hari

·                      Komplikasi dapat dihindari

·                      Meningkatkan mobilitas

·                      memahami cara perawatan di rumah

BAB III

PENUTUP



3. 1   Kesimpulan

1.      Rhematoid arthritis merupakan suatu penyakit autoimun kronis dengan gejala nyeri, kekakuan, gangguan pergerakan, erosi sendi dan berbagai gejala inflamasi lainnya. Penyakit yang 75 % diderita oleh kaum hawa ini bisa menyerang semua sendi, namun sebagian besar menyerang sendi-sendi jari (proximal interphalangeal dan metacarpophalangeal) .

2.      Manifestasi klinisnya antara lain :

Ø  Kekakuan pada dan sekitar sendi yang berlangsung sekitar 30-60 menit di pagi hari

Ø  Bengkak pada 3 atau lebih sendi pada saat yang bersamaan

Ø  Bengkak dan nyeri umumnya terjadi pada sendi-sendi tangan

Ø  Bengkak dan nyeri umumnya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh) dan umumnya menyerang

3.      Penatalaksanaanya antara lain :

Ø  Istirahat

Ø  Latihan fisik

Ø  Panas

Ø  Obat-obatan

Ø  Nutrisi yang tepat

3. 2   Saran

1.      Sebagai calon perawat hendaknya kita mengerti dan memahami tentang rheumatoid arthritis

2.      Dengan memahami tentang rheumatoid arthritis diharapkan kita dapat melaksanakan asuhan keperawatan tentang penyakit tersebut dengan benar

DAFTAR PUSTAKA

Doenges E Marilynn. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
http//:www.wikipedia.com/Rheumatoid_arthritis.html
http//:www.google.com/Nurse_blog/Artritis_rheumatoid.html
http//:www.google.com/arthritis_rheumatoid.org