Featured Video

Senin, 12 Januari 2015

Dislokasi

ASKEP DISLOKASI
olgaa
gambar 2

1.  Konsep Teoritis

A. Pengertian

Dislokasi sendi atau luksasio adalah tergesernya permukaan tulang yang membentuk persendian terhadap tulang lain. (Sjamsuhidajat,2011. Buku Ajar lImu Bedah, edisi 3,Halaman 1046)

Dislokasi sendi adalah suatu keadaan dimana permukaan sendi tulang yang membentuk sendi tak lagi dalam hubungan anatomis. (Brunner & Suddart, 2002, KMB, edisi 8, vol 3,Halaman 2355)

Dislokasi sendi adalah menggambarkan individu yang mengalami atau beresiko tinggi untuk mengalami perubahan posisi tulang dari posisinya pada sendi. (Carpenito, 2000, edisi 6, Halaman 1118)

Dislokasi sendi adalah fragmen frakrtur saling terpisah dan menimbulkan deformitas. (Kowalak, 2011, Buku Ajar Patofisiologi, Halaman 404).

Dislokasi adalah deviasi hubungan normal antara rawan yang satu dengan rawan yang lainnya sudah tidak menyinggung satu dengan lainnya. (Price & Wilson, 2006, edisi 6, vol 2, Halaman1368 ).

Kesimpulan:

Dislokasi adalah tergesernya sendi dari mangkuk sendi yang kemudian dapat menimbulkan deformitas.

B. Klasifikasi

Klasifikasi dislokasi menurut penyababnya (Brunner & Suddart, 2002, KMB, edisi 8, vol 3,Halaman 2356) adalah:

Dislokasi congenital, terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan, paling sering terlihat pada pinggul.
Dislokasi spontan atau patologik, akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang
Dislokasi traumatic, kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa.
Dislokasi berdarsarkan tipe kliniknya dapat dibagi menjadi :

(Brunner & Suddart, 2002, KMB, edisi 8, vol 3,Halaman 2356)

Dislokasi Akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi

Dislokasi Berulang.
Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint.Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

C. Etiologi

olg
gambar 1

1. Cedera olah raga

Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain.

2. Trauma kecelakaan

Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi

D. Patofisiologi

Cedera akibat olahraga dikarenakan beberapa hal seperti tidak melakukan exercise sebelum olahraga memungkinkan terjadinya dislokasi, dimana cedera olahraga menyebabkan terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi sehingga dapat merusak struktur sendi dan ligamen. Keadaan selanjutnya terjadinya kompresi jaringan tulang yang terdorong ke depan sehingga merobek kapsul/menyebabkan tepi glenoid teravulsi akibatnya tulang berpindah dari posisi normal. Keadaan tersebut dikatakan sebagai dislokasi.

Begitu pula dengan trauma kecelakaan karena kurang kehati-hatian dalam melakukan suatu tindakan atau saat berkendara tidak menggunakan helm dan sabuk pengaman memungkinkan terjadi dislokasi. Trauma kecelakaan dapat kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi sehingga dapat merusak struktur sendi dan ligamen. Keadaan selanjutnya terjadinya kompres jaringan tulang yang terdorong ke depan sehingga merobek kapsul/menyebabkan tepi glenoid teravulsi akibatnya tulang berpindah dari posisi normal yang menyebabkan dislokasi.

E. Manifestasi Klinis

Nyeri akut
Perubahan kontur sendi
Perubahan panjang ekstremitas
Kehilangan mobilitas normal
Perubahan sumbu tulang yang mengalami dislokasi
F. Komplikasi

a. Komplikasi dini

Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera, pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut
Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak
Fraktur disloksi
b. Komplikasi lanjut.

Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu, terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis membatasi abduksi
Dislokasi yang berulang: terjadi kalau labrum glenoid robek atau
Kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid
Kelemahan otot
G. Pemeriksaan penunjang

1. Sinar-X (Rontgen)

Pemeriksaan rontgen merupakan pemeriksaan diagnostik noninvasif untuk membantu menegakkan diagnosa medis. Pada pasien dislokasi sendi ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi dimana tulang dan sendi berwarna putih.

2. CT scan

CT-Scan yaitu pemeriksaan sinar-X yang lebih canggih dengan bantuan komputer, sehingga memperoleh gambar yang lebih detail dan dapat dibuat gambaran secara 3 dimensi. Pada psien dislokasi ditemukan gambar 3 dimensi dimana sendi tidak berada pada tempatnya.

3. MRI

MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan gelombang magnet dan frekuensi radio tanpa menggunakan sinar-X atau bahan radio aktif, sehingga dapat diperoleh gambaran tubuh (terutama jaringan lunak) dengan lebih detail. Seperti halnya CT-Scan, pada pemeriksaan MRI ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi.

H. Penatalaksanaan

1. Medis

a. Farmakologi (ISO Indonesia 2011-2012)

1) Pemberian obat-obatan : analgesik non narkotik

a)  Analsik yang berfungsi untuk mengatasi nyeri otot, sendi, sakit kepala, nyeri pinggang. Efek samping dari obat ini adalah agranulositosis. Dosis: sesudah makan, dewasa: sehari 3×1 kapsul, anak: sehari 3×1/2 kapsul.

b) Bimastan yang berfungsi untuk menghilangkan nyeri ringan atau sedang, kondisi akut atau kronik termasuk nyeri persendian, nyeri otot, nyeri setelah melahirkan. Efek samping dari obat ini adalah mual, muntah, agranulositosis, aeukopenia. Dosis: dewasa; dosis awal 500mg lalu 250mg tiap 6 jam.

2. Pembedahan

a. Operasi ortopedi

Operasi ortopedi merupakan spesialisasi medis yang mengkhususkan pada pengendalian medis dan bedah para pasien yang memiliki kondisi-kondisi arthritis yang mempengaruhi persendian utama, pinggul, lutut dan bahu melalui bedah invasif minimal dan bedah penggantian sendi. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan meliputi Reduksi Terbuka dengan Fiksasi Interna atau disingkat ORIF (Open Reduction and Fixation).Berikut dibawah ini jenis-jenis pembedahan ortopedi dan indikasinya yang lazim dilakukan :

1)      Reduksi terbuka : melakukan reduksi dan membuat kesejajaran tulang yang patah setelah terlebih dahulu dilakukan diseksi dan pemajanan tulang yang patah.

2)      Fiksasi interna : stabilisasi tulang patah yang telah direduksi dengan skrup, plat, paku dan pin logam.

3)      Graft tulang : penggantian jaringan tulang (graft autolog maupun heterolog) untuk memperbaiki penyembuhan, untuk menstabilisasi atau mengganti tulang yang berpenyakit.

4)      Amputasi : penghilangan bagian tubuh.

5)      Artroplasti: memperbaiki masalah sendi dengan artroskop(suatu alat yang memungkinkan ahli bedah mengoperasi dalamnya sendi tanpa irisan yang besar) atau melalui pembedahan sendi terbuka.

6)      Menisektomi : eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak.

7)      Penggantian sendi: penggantian permukaan sendi dengan bahan logam atau sintetis.

8)      Penggantian sendi total: penggantian kedua permukaan artikuler dalam sendidengan logam atau sintetis.

2. Non medis

a. Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat.

RICE

1)      R            : Rest (istirahat)

2)      I             : Ice (kompres dengan es)

3)      C            : Compression (kompresi/ pemasangan pembalut tekan)

4)      E            : Elevasi (meninggikan bagian dislokasi)

b. Pencegahan

1)      Cedera akibat olahraga

Gunakan peralatan yang diperlukan seperti sepatu untuk lari
Latihan atau exercise
Conditioning
2)      Trauma kecelakaan

Kurangi kecepatan
Memakai alat pelindung diri seperti helm, sabuk pengaman
Patuhi peraturan lalu lintas
2.  Askep Teoritis Dislokasi

A. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan untuk mengumpulkan data pasien dengan menggunakan tehnik wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tetapi pada pasien dislokasi difokuskan pada :

1)   Keluhan Utama

Keluhan utama pada pasien dislokasi adalah psien mengeluhkan adanya nyeri. Kaji penyebab, kualitas, skala nyeri dan saat kapan nyeri meningkat dan saat kapan nyeri dirasakan menurun.

2)   Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien biasanya mengeluhkan nyeri pada bagian yang terjadi dislokasi, pergerakan terbatas, pasien melaporkan penyebab terjadinya cedera.

3)   Riwayat Penyakit Dahulu

Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab dislokasi, serta penyakit yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses penyembuhan.

4)   Pemeriksaan Fisik

Tampak adanya perubahan kontur sendi pada ekstremitas yang mengalami dislokasi
Tampak perubahan panjang ekstremitas pada daerah yang mengalami dislokasi
Adanya nyeri tekan pada daerah dislokasi
Tampak adanya lebam pada dislokasi sendi
5)   Kaji 14 kebutuhan dasar Henderson. Untuk dislokasi dapat difokuskan kebutuhan dasar manusia yang terganggu adalah:

b)   Rasa nyaman (nyeri) : pasien dengan dislokasi biasanya mengeluhkan nyeri pada bagian dislokasi yang dapat mengganggu kenyamanan klien.

c)    Gerak dan aktivitas: pasien dengan dislokasi dimana sendi tidak berada pada tempatnya semula harus diimobilisasi. Klien dengan dislokasi pada ekstremitas dapat mengganggu gerak dan aktivitas klien.

d)   Makan minum: pasien yang mengalami dislokasi terutama pada rahang sehingga klien mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Efeknya bagi tubuh yaitu ketidakseimbangan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

e)    Rasa aman(ansietas): klien dengan dislokasi tentunya mengalami gangguan rasa aman atau cemas(ansietas) dengan kondisinya.

6)   Pemeriksaan diagnostik

a)      Pemeriksaan rontgen untuk melihat lokasi dari dislokasi.

b)      Pemeriksaan CT-Scan digunakan untuk melihat ukuran dan lokasi tumor dengan gambar 3 dimensi.

c)      Pemeriksaan MRI untuk pemeriksaan persendian dengan menggunakan gelombang magnet dan gelombang frekuensi radio sehingga didapatkan gambar yang lebih detail.

B. Diagnosa Keperawatan

1)      Nyeri akut berhubungan dengan agen penyebab cedera (fisik)

2)      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskletal

3)      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan mengunyah atau menelan.

C. Intervensi Keperawatan

Nursing Care Plan Pasien Dislokasi

Dx.1 Nyeri Akut                                                               (Nanda NIC NOC hal:530)

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional
1 Nyeri akut berhubungan dengan agen penyebab cedera-          Fisik(trauma kecelakaan dan cedera olahraga)-          DS: klien melaporkan adanya nyeri.-          DO: klien tampak berperilaku distraksi (mondar mandir, aktivitas berulang, memegang daerah nyeri), perilaku ekspresif(gelisah, meringis, menangis, menghela napas panjang)

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan dengan kriteria hasil :
Memperlihatkan pengendalian nyeri.
Melaporkan tidak adanya nyeri
Tidak menunjukan adanya nyeri meningkat.(tidak ada ekspresi nyeri pada wajah,tidak gelisah atau ketegangan otot,tidak merintih atau menangis.)

Observasi keadaan umum pasien(tingkat nyeri dan TTV)
Beri posisi nyaman(semi fowler)
Berikan kompres hangat pada lokasi dislokasi
Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
Beri HE tentang penyebab nyeri, dan antisipasi ketidaknyamanan
Kolaborasi dalam pemberian analgetik
Mengetahui keadaan umum pasien dan tingkat nyeri pasien
Posisi semi fowler dapat meminimalkan nyeri pada dislokasi
Kompres hangat berperan dalam vasodilatasi pembuluh darah.
Teknik distraksi dan relaksasi berfungsi dalam mengalihkan fokus nyeri pasien
Penanaman HE pada pasien berfungsi untuk mengurangi kecemasan pasien terhadap kondisinya
Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri pada dislokasi.
Dx 2: Hambatan mobilitas fisik                                                   (Nanda NIC NOC hal:472)

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional
2 Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskletal-          DS: pasien mengeluh sulit dalam bergerak-          DO: tidak dapat melakukan aktivitas secara mandiri, gerakan tidak teratur atau tidak terkoordinasi Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan klien dapat melakukan mobilisasi dengan teratur dengan kriteria hasil :
Klien mengatakan dapat melakukan pergerakan dengan bebas
Gerakan pasien terkoordinir
Pasien dapat melakukan aktivitas secara mandiri

1)      Observasi keadaan umum(tingkat mobilitas dan kekuatan otot)2)      Ajarkan ROM3)      Pengaturan posisi4)      Berikan bantuan perawatan diri: berpindah
5)      Berikan HE tentang latihan fisik

6)      Kolaborasi dengan ahli fisioterapi dalam memberikan terapi yang tepat

1)      Menunjukkan tingkat mobilisasi pasien dan menentukan intervensi selanjutnya2)      Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot3)      Meningkatkan kesejahteraan fisiologis dan psikologis4)      Membantu individu mengubah posisi tubuhnya
5)      Mengubah persepsi pasien terhadap latihan fisik

6)      Mengembalikan posisi tubuh autonom dan volunter selama pengobatan dan pemulihan dari posisi sakit atau cedera

Dx 3: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh   (Nanda NIC NOC Hal: 503)

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Tindakan Rasional
3 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan mengunyah atau menelan.-          DS: pasien mengeluh susah mengunyah, pasien mengatakan nafsu makan menurun-          DO: pasien tampak lemas, mukosa bibir kering, tampak kurang berminat terhadap makanan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi secara adekuat dengan kriteria hasil:1)      Pasien tidak melaporkan kesulitan mengunyah2)      Nafsu makan pasien kembali baik3)      Keadaan umum pasien kembali normal
Kaji faktor penyabab kesulitan mengunyah
Letakkan makanan pada bagian mulut yang tidak mengalami masalah
Atur posisi pasien(semi fowler)
Kolaborasi dalam pemasangan alat invasif(NGT)
Mengetahui faktor penyebab kesulitan mengunyah dan menentukan intervensi selanjutnya
Mengurangi aktivitas pada rahang yang sakit
Posisi semi fowler dapat mencegah aspirasi
Mempertahankan asupan nutrisi pasien
D. Implementasi Keperawatan

Dilaksanakan sesuai dengan intervensi.

E. Evaluasi

Nyeri dapat teratasi
Pasien dapat melkukan mobilitas secara normal
Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi secara adekuat

Reumatoid Atritis

. 1   Definisi Rheumatoid Artritis

   Rhematoid arthritis merupakan suatu penyakit autoimun kronis dengan gejala nyeri, kekakuan, gangguan pergerakan, erosi sendi dan berbagai gejala inflamasi lainnya. Penyakit yang 75 % diderita oleh kaum hawa ini bisa menyerang semua sendi, namun sebagian besar menyerang sendi-sendi jari (proximal interphalangeal dan metacarpophalangeal).

   Rheumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun (penyakit yang terjadi pada saat tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuhnya sendiri) yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi. Penyakit ini menyerang persendian, biasanya mengenai banyak sendi, yang ditandai dengan radang pada membran sinovial dan struktur-struktur sendi serta atrofi otot dan penipisan tulang.

Umumnya penyakit ini menyerang pada sendi-sendi bagian jari, pergelangan tangan, bahu, lutut, dan kaki. Pada penderita stadium lanjut akan membuat si penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan kualitas hidupnya menurun. Gejala yang lain yaitu berupa demam, nafsu makan menurun, berat badan menurun, lemah dan kurang darah. Namun kadang kala si penderita tidak merasakan gejalanya. Diperkirakan kasus Rheumatoid Arthritis diderita pada usia di atas 18 tahun dan berkisar 0,1% sampai dengan 0,3% dari jumlah penduduk Indonesia.

2. 2   Manifestasi Klinis Reumatoid Artritis

Tanda dan gejala setempat :

Ø  Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning stiffness) dan gerakan terbatas, kekakuan berlangsung tidak lebih dari 30 menit dan dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya tidak berlangsung lama.

Ø  Lambat laun membengkak, panas merah, lemah

Ø  Poli artritis simetris sendi perifer à Semua sendi bisa terserang, panggul, lutut, pergelangan tangan, siku, rahang dan bahu. Paling sering mengenai sendi kecil tangan, kaki, pergelangan tangan, meskipun sendi yang lebih besar  seringkali terkena juga

Ø  Artritis erosif à sifat radiologis penyakit ini. Peradangan sendi yang kronik menyebabkan erosi pada pinggir tulang dan ini dapat dilihat pada penyinaran sinar X

Ø  Deformitas à pergeseran ulnar, deviasi jari-jari, subluksasi sendi metakarpofalangea, deformitas boutonniere dan leher angsa. Sendi yang lebih besar mungkin juga terserang yang disertai penurunan kemampuan fleksi ataupun ekstensi. Sendi mungkin mengalami ankilosis disertai kehilangan kemampuan bergerak yang total

Ø  Rematoid nodul à merupakan massa subkutan yang terjadi pada 1/3 pasien dewasa, kasus ini sering menyerang bagian siku (bursa olekranon) atau sepanjang permukaan ekstensor lengan bawah, bentuknya oval atau bulat dan padat.

Tanda dan gejala sistemik :

Lemah, demam tachikardi, berat badan turun, anemia, anoreksia. Bila ditinjau dari stadium, maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu:

1)      Stadium sinovitis

Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai adanya hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat istirahat maupun saat bergerak, bengkak, dan kekakuan.

2)      Stadium destruksi

Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon. Selain tanda dan gejala tersebut diatasterjadi pula perubahan bentuk pada tangan yaitu bentuk jari swan-neck.

3)      Stadium deformitas

Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali, deformitas dan ganggguan fungsi secara menetap. Perubahan pada sendi diawali adanya sinovitis, berlanjut pada pembentukan pannus, ankilosis fibrosa, dan terakhir ankilosis tulang

Artritis rematoid bisa muncul secara tiba-tiba, dimana pada saat yang sama banyak sendi yang mengalami peradangan. Biasanya peradangan bersifat simetris, jika suatu sendi pada sisi kiri tubuh terkena, maka sendi yang sama di sisi kanan tubuh juga akan meradang. Yang pertama kali meradang adalah sendi-sendi kecil di jari tangan, jari kaki, tangan, kaki, pergelangan tangan, sikut dan pergelangan kaki.

Sendi yang meradang biasanya menimbulkan nyeri dan menjadi kaku, terutama pada saat bangun tidur atau setelah lama tidak melakukan aktivitas. Beberapa penderita merasa lelah dan lemah, terutama menjelang sore hari. Sendi yang terkena akan membesar dan segera terjadi kelainan bentuk.

Sendi bisa terhenti dalam satu posisi (kontraktur) sehingga tidak dapat diregangkan atau dibuka sepenuhnya. Jari-jari pada kedua tangan cenderung membengkok ke arah kelingking, sehingga tendon pada jari-jari tangan bergeser dari tempatnya.

2. 3   Pathofisiologi Rheumatoid Artritis

   Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular.  Peradangan yang berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi.  Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago.  Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.

Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.  Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).  Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.  Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.

Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan.  Sementara ada orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi.  Yang lain. terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid) gangguan akan menjadi kronis yang progresif.

Secara singkat dapat dikatakan Reaksi autoimun dalam jaringan sinovial yang melakukan proses fagositosis yang menghasilkan enzim – enzim dalam sendi untuk memecah kolagen sehingga terjadi edema proliferasi membran sinovial dan akhirnya membentuk pannus. Pannus tersebut akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang sehingga akan berakibat menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi.

2. 4   Pemeriksaan Penunjang

1.   Pemeriksaan Laboratorium

            Beberapa hasil uji laboratorium dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis artritis reumatoid. Sekitar 85% penderita artritis reumatoid mempunyai autoantibodi di dalam serumnya yang dikenal sebagai faktor reumatoid. Autoantibodi ini adalah suatu faktor anti-gama globulin (IgM) yang bereaksi terhadap perubahan IgG. Titer yang tinggi, lebih besar dari 1:160, biasanya dikaitkan dengan nodula reumatoid, penyakit yang berat, vaskulitis, dan prognosis yang buruk.

            Faktor reumatoid adalah suatu indikator diagnosis yang membantu, tetapi uji untuk menemukan faktor ini bukanlah suatu uji untuk menyingkirkan diagnosis reumatoid artritis. Hasil yang positif dapat juga menyatakan adanya penyakit jaringan penyambung seperti lupus eritematosus sistemik, sklerosis sistemik progresif, dan dermatomiositis. Selain itu, sekitar 5% orang normal memiliki faktor reumatoid yang positif dalam serumnya. Insidens ini meningkat dengan bertambahnya usia. Sebanyak 20% orang normal yang berusia diatas 60 tahun dapat memiliki faktor reumatoid dalam titer yang rendah.

            Laju endap darah (LED) adalah suatu indeks peradangan yang bersifat tidak spesifik. Pada artritis reumatoid nilainya dapat tinggi (100 mm/jam atau lebih tinggi lagi). Hal ini berarti bahwa laju endap darah dapat dipakai untuk memantau aktifitas penyakit. Artritis reumatoid dapat menyebabkan anemia normositik normokromik melalui pengaruhnya pada sumsum tulang. Anemia ini tidak berespons terhadap pengobatan anemia yang biasa dan dapat membuat penderita cepat lelah. Seringkali juga terdapat anemia kekurangan besi sebagai akibat pemberian obat untuk mengobati penyakit ini. Anemia semacam ini dapat berespons terhadap pemberian besi.

            Pada Sendi Cairan sinovial normal bersifat jernih, berwarna kuning muda hitung sel darah putih kurang dari 200/mm3. Pada artritis reumatoid cairan sinovial kehilangan viskositasnya dan hitungan sel darah putih meningkat mencapai 15.000 – 20.000/ mm3. Hal ini membuat cairan menjadi tidak jernih. Cairan semacam ini dapat membeku, tetapi bekuan biasanya tidak kuat dan mudah pecah. Pemeriksaan laboratorium khusus untuk membantu menegakkan diagnosis lainya, misalnya : gambaran immunoelectrophoresis HLA (Human Lymphocyte Antigen) serta Rose-Wahler test.

2.   Pemeriksaan Radiologi

            Pada awal penyakit tidak ditemukan, tetapi setelah sendi mengalami kerusakan yang berat dapat terlihat penyempitan ruang sendi karena hilangnya rawan sendi. Terjadi erosi tulang pada tepi sendi dan penurunan densitas tulang. Perubahan ini sifatnya tidak reversibel. Secara radiologik didapati adanya tanda-tanda dekalsifikasi (sekurang-kurangnya) pada sendi yang terkena.

2. 5   Penatalaksanaan

Tujuan utama terapi adalah :

1.      Meringankan rasa nyeri dan peradangan

2.      Memperatahankan fungsi sendi dan kapasitas fungsional maksimal penderita.

3.      Mencegah atau memperbaiki deformitas

Program terapi dasar terdiri dari lima komponen dibawah ini yang merupakan sarana pembantu untuk mecapai tujuan-tujuan tersebut yaitu:

1.      Istirahat

2.      Latihan fisik

3.      Panas

4.      Pengobatan

Ø  Aspirin (anti nyeri)dosis antara 8 s.d 25 tablet perhari, kadar salisilat serum yang diharapakan adalah 20-25 mg per 100 ml

Ø  Natrium kolin dan asetamenofen à meningkatkan toleransi saluran cerna terhadap terapi obat

Ø  Obat anti malaria (hidroksiklorokuin, klorokuin) dosis 200 – 600 mg/hari à mengatasi keluhan sendi, memiliki efek steroid sparing sehingga menurunkan kebutuhan steroid yang diperlukan.

Ø  Garam emas

Ø  Kortikosteroid

5.      Nutrisi à diet untuk penurunan berat badan yang berlebih

Bila Rhematoid artritis progresif dan, menyebabkan kerusakan sendi, pembedahan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki fungsi. Pembedahan dan indikasinya sebagai berikut:

a)      Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi tertentu, untuk mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya kembali inflamasi.

b)      Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.

c)      Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut, tumit dan pergelangan tangan.

d)     Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat kembali dataran pada persendian.





2. 6   Proses Keperawatan Reumatoid Artritis

A.  PENGKAJIAN

1.   Riwayat Keperawatan

ü  Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, atau pada tungkai.

ü  Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada sendi.

2.   Pemeriksaan Fisik

1.              Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral), amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.

2.              Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi sinovial

·         Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)

·         Catat bila ada krepitasi

·         Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan

3.      Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral

·         Catat bia ada atrofi, tonus yang berkurang

·         Ukur kekuatan otot

4.      Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya

5.      Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari

3.   Riwayat Psiko Sosial

Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi apalagi pad pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi karean ia merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan harga diri klien.



B.  DIAGNOSA KEPERAWATAN

Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien dengan artritis ditambah dengan adanya data dari pemeriksaan diagnostik, maka diagnosa keperawatan yang sering muncul yaitu:

1.      Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh, sendi, bengkok, deformitas.

2.              Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid.

3.              Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.

4.              intoleransi aktifitas sehari-hari berhubungan dengan terbatasnya gerakan.

C.  INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN



NANDA NOC NIC

1.      Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh, sendi, bengkok, deformitas.P.197

Domain 6 : Persepsi/Kognitif

Kelas 3      : Citra Tubuh

Defenisi     : Kebingungan tentang gambaran mental fisik pribadi

Batasan karakteristik :

·         Prilaku menghindar akibat kehilangan salah satu organ tubuh

·         Respon non verbal akibat perubahan actual tubuh

·         Respon non verbal terhadap penerimaan perubahan tubuh

·         Kehilangan organ tubuh

·         Tidak mau melihat bagian tubuh

·         Tidak mau menyentuh bagian tubuh

NOC 1

Citra Tubuh p. 123

Defenisi: Persepsi positif terhadap penampilan dan fungsi pribadi tubuh

Indicator:

§  Gambaran internal tubuh

§  Keseimbangan antara realita, ideal dan penampilan tubuh

§  Kepuasan penmapilan tubuh

§  Pengaturan penampilan fisik tubuh

§  Pengaturan perubahan fungsi tubuh

NIC 1

Perbaikan Citra Tubuh : 145

Defenisi : Peningkatan persepsi sadar dan ketidaksadarn dan sikap ke depan terhadap tubuhnya

Aktivitas:

o   Menentukan dugaan citra tubuh pasien, sesuai dengan perkembangannya

o   Membantu pasien untuk mendiskusikan perubahan yang terjadi akibat penyakit dan pembedahan

o   Membantu pasien memelihara perubahan tubuh

o   Membantu pasien untuk membedakan penampilan fisik dari perasaan yang beharga

o   Membantu pasien untuk menentukan akibat dari persepsi yang sama penampilan tubuh.

o   Monitoring pandangan diri secara berkala

o   Monitoring apakah pasien melihat perubahan pada bagian tubuh

o   Montoring pernyataan tentang persepsi identitas diri sehubungan denagn bagian tubuh dan berat badan

o   Menentukan apakah perubahan citra tubuh berkontribusi dalam isolasi social

o   Membantu pasien dalam mengidentifikasi penampilan yang akan meningkat



2.              Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid.

Domain 12      : Kenyamanan

Kelas 1            : Kenyamanan Fisik

Defenisi           : Ketidaknyamanan sensori dan ekspresi emosional akibat gangguan jaringan actual dan potensial dan dideskribsikan dengan dengan sustu gangguan (IASP) ; serangan mendadak atau lambat dari berbagai intensitas dari yang ringan hingga hebat , konstan atau berulang tanpa antisipasi atau prediksi terakhir dan waktunya >6 bulan.

Batasan karakteristik :

·      Anorexia

·      Perubahan pola tidur

·      Fatigue

·      Gangguan interaksi social

·      Ekspresi verbal tentang nyeri

NOC 1

Control nyeri p. 326

Defenisi: perilaku individu dalam mengontrol nyeri.

Indicator:

§  Mengakui factor penyebab

§  Mengetahui nyeri

§  Menggunakan obat analgesic

§  Menjelaskan gejala nyeri

§  Melaporkan control nyeri yang telah dilakukan



NOC 2

Level nyeri p. 328

Defenisi :

Indicator :

§  Ekspresi nyeri

§  Frekuensi nyeri

§  Ekspresi wajah terhadap nyeri

NIC

Pain management (Manajemen nyeri) p. 412

Aktivitas:

o  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan factor presipitasi

o  Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan

o  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien

o  Kaji budaya yang mempengaruhi respion nyeri

o  Determinasi akibat nyeri terhadap kualitas hidup

o  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

o  Control ruangan yang dapat mempengaruhi nyeri

o  Kurangi factor presipitasi nyeri

o  Pilih dan lakukan penanganan nyeri

o  Ajarkan pasien untuk memonitor nyeri

o  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

o  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri

o  Evaluasi keefektifan control nyeri

o  Tingkatkan istirahat

o  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

3. Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot, rasa nyeri.

NOC :

Perilaku Aman: Mencegah

Jatuh dengan indikator

-   Menghindari jatuh dan terpeleset di lantai

-   Menggunakan tongkat

-   Menjauhkan bahaya yang bisa menyebabkan jatuh

-   Memakai alas kaki yang tidak mudah slip

-   Mengatur tinggi tempat tidur

-   Menggunakan alat Bantu penglihatan

NIC :

1.         Manajemen Lingkungan

-   ciptakan lingkungan yang aman bagi pasien

-   identifilasi kebutuhan rasa aman bagi pasien berdasarkan tingkat fungsi fisik dan kognitif dan riwayat perilaku masa lalu

-   jauhkan lingkungan yang mengancam

-   jauhkan objek yang berbahaya dari lingkungan

-   berikan side rail

-   antarkan pasien selama aktivitas di luar rumah sakit

2.         Mencegah Jatuh :

-   Kaji penyebab defisit fisik pasien

-   Kaji karakteristik lingkungan yang menyebabkan jatuh

-   Monitor gaya jalan pasien, keseimbangan, tingkat kelelahan

-   Berikan penerangan yang cukup

-   Pasang siderail tempat tidur

4. Intoleransi aktifitas sehari-hari berhubungan dengan terbatasnya gerakan.

Intoleransi aktivitas

NOC :

 Self Care :

ADLs

 Toleransi aktivitas

 Konservasi eneergi Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pasien bertoleransi terhadap aktivitas dengan Kriteria Hasil :

 Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR

 Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secaramandiri

 Keseimbangan aktivitas dan istirahat

NIC :

 Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas

 Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan

 Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat

 Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan

 Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas (takikardi, disritmia, sesak nafas, diaporesis, pucat, perubahan hemodinamik)

 Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien

 Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan progran terapi yang tepat.

 Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan

 Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan sosial

 Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan

 Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek

 Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai

 Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang

 Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas

 Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas

 Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan

 Monitor respon fisik, emosi, social dan spiritual


D.  EVALUASI

·                      Prilaku yang adaptif sehubungan dengan adanya masalah konsep diri

·                      Nyeri dapat berkurang

·                      Mampu untuk melakukan aktifitas sehari-hari

·                      Komplikasi dapat dihindari

·                      Meningkatkan mobilitas

·                      memahami cara perawatan di rumah

BAB III

PENUTUP



3. 1   Kesimpulan

1.      Rhematoid arthritis merupakan suatu penyakit autoimun kronis dengan gejala nyeri, kekakuan, gangguan pergerakan, erosi sendi dan berbagai gejala inflamasi lainnya. Penyakit yang 75 % diderita oleh kaum hawa ini bisa menyerang semua sendi, namun sebagian besar menyerang sendi-sendi jari (proximal interphalangeal dan metacarpophalangeal) .

2.      Manifestasi klinisnya antara lain :

Ø  Kekakuan pada dan sekitar sendi yang berlangsung sekitar 30-60 menit di pagi hari

Ø  Bengkak pada 3 atau lebih sendi pada saat yang bersamaan

Ø  Bengkak dan nyeri umumnya terjadi pada sendi-sendi tangan

Ø  Bengkak dan nyeri umumnya terjadi dengan pola yang simetris (nyeri pada sendi yang sama di kedua sisi tubuh) dan umumnya menyerang

3.      Penatalaksanaanya antara lain :

Ø  Istirahat

Ø  Latihan fisik

Ø  Panas

Ø  Obat-obatan

Ø  Nutrisi yang tepat

3. 2   Saran

1.      Sebagai calon perawat hendaknya kita mengerti dan memahami tentang rheumatoid arthritis

2.      Dengan memahami tentang rheumatoid arthritis diharapkan kita dapat melaksanakan asuhan keperawatan tentang penyakit tersebut dengan benar

DAFTAR PUSTAKA

Doenges E Marilynn. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
http//:www.wikipedia.com/Rheumatoid_arthritis.html
http//:www.google.com/Nurse_blog/Artritis_rheumatoid.html
http//:www.google.com/arthritis_rheumatoid.org

Osteomielitis


D.     Manifestasi klinis (Henderson, 1997)
1.      Demam
2.      Nafsu makan menurun
3.      Nyeri tekan saat pemeriksaan fisik
4.      Gangguan sendi karena adanya pembengkakan
Pada anak-anak, infeksi tulang yang didapat melalui aliran darah, menyebabkan demam, menyebabkan nyeri pada tulang yang terinfeksi. Daerah diatas tulang bisa mengalami luka dan membengkak, dan pergerakan akan menimbulkan nyeri.Infeksi tulang belakang biasanya timbul secara bertahap, menyebabkan nyeri punggung dan nyeri tumpul jika disentuh. Nyeri akan memburuk bila penderita bergerak dan tidak berkurang dengan istirahat.
Infeksi tulang yang disebabkan oleh infeksi jaringan lunak di dekatnya atau yang berasal dari penyebaran langsung, menyebabkan nyeri dan pembengkakan di daerah diatas tulang, dan abses bisa terbentuk di jaringan sekitarnya. Infeksi ini tidak menyebabkan demam, dan pemeriksaan darah menunjukkan hasil yang normal.Penderita yang mengalami infeksi pada sendi buatan atau anggota gerak, biasanya memiliki nyeri yang menetap di daerah tersebut.Jika suatu infeksi tulang tidak berhasil diobati, bisa terjadi osteomielitis menahun (osteomielitis kronis).Kadang-kadang infeksi ini tidak terdeteksi selama bertahun-tahun dan tidak menimbulkan gejala selama beberapa bulan atau beberapa tahun.
Osteomielitis menahun sering menyebabkan nyeri tulang, infeksi jaringan lunak diatas tulang yang berulang dan pengeluaran nanah yang menetap atau hilang timbul dari kulit. Pengeluaran nanah terjadi jika nanah dari tulang yang terinfeksi menembus permukaan kulit dan suatu saluran (saluran sinus) terbentuk dari tulang menuju kulit.

E.     Komplikasi (Brunner, suddarth. (2001)
Komplikasi osteomyelitis dapat terjadi akibat perkembangan infeksi yang tidak terkendali dan pemberian antibiotik yang tidak dapat mengeradikasi bakteri penyebab. Komplikasi osteomyelitis dapat mencakup infeksi yang semakin memberat pada daerah tulang yang terkena infeksi atau meluasnya infeksi dari fokus infeksi ke jaringan sekitar bahkan ke aliran darah sistemik. Secara umum komplikasi osteomyelitis adalah sebagai berikut:
1.      Abses Tulang
2.      Bakteremia
3.      Fraktur Patologis
4.      Meregangnya implan prosthetik (jika terdapat implan prosthetic)
5.      Sellulitis pada jaringan lunak sekitar.
6.      Abses otak pada osteomyelitis di daerah kranium.

F.      Patofisiologi (Brunner, suddarth. (2001)
Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi tulang. Organisme patogenik lainnya yang sering dijumpai pada Osteomielitis meliputi : Proteus, Pseudomonas, dan Escerichia Coli. Terdapat peningkatan insiden infeksi resistensi penisilin, nosokomial, gram negative dan anaerobik. Awitan Osteomielitis stelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3 bulan pertama (akut fulminan – stadium 1) dan sering berhubngan dengan  penumpukan hematoma atau infeksi superficial. Infeksi awitan lambat  (stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan. Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan. Respon inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan vaskularisasi, dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombisis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dan nefrosis tulang sehubungan dengan penigkatan tekanan jaringan dan medula. Infeksi kemudian berkembang ke kavitas medularis dan ke bawah periosteum dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya. Kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan membentuk abses tulang. Pada perjalanan alamiahnya, abses dapat keluar spontan namun yang lebih sering harus dilakukan insisi dan drainase oleh ahli bedah. Abses yang terbentuk dalam dindingnya terbentuk daerah jaringan mati (sequestrum) tidak mudah mencari dan mengalir keluar. Rongga tidak dapat mengempis dan menyembuh, seperti yang terjadi pada jaringan lunak lainnya. Terjadi pertumbuhan tulang baru(involukrum) dan mengelilingi sequestrum. Jadi meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, namun sequestrum infeksius kronis yang ada tetap rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup penderita. Dinamakan osteomielitis tipe kronik.

Staphylococcus aureus
Proteus, Pseudomonas
Escerichia Coli

Iskemia dan nefrotis tulang
menyebar
dikontrol
Terjadi pertumbuhan tulng baru(involukrum
Nyeri b/d agen injury fisik
Membentuk abses tulang
Hambatan mobilitas fisik b/d kerusakan integritas ulang
Keluar spontan
Insisi dan drainase
Membentuk jaringan mati (sequestrum) yang tidak mudah mencair dan lunak mengelilingi sequestrum
Jaringan lunak
Osteomielitis kronik
Tampak seperti sembuh
Rentan mengeluarkan abses seumur hidup pasien
Infeksi stadum 1(akut) terjadi 2 minggu sejak infeksi,melalui pembuluh darah
Infeksi stadium 2 (sub akut) 1-2 bln sejak infeksi,pemicunya karena penyakit pendahulu
Infeksi stadium 2(kronik)2 bln sejak infeksi,karena fraktur
Inflamasi,peningkatan vaskularisasi,edema
Gangguan integritas kulit b/d imobilitas fisik
Ansietas b/d status kesehatan
Resiko infeksi b/d pertahan tubuh primer yang tidak adekuat



































G.     Pemeriksaan penunjang (Brunner, suddarth. (2001)
1.      Pemeriksaan darah
Sel darah putih meningkat sampai 30.000 L gr/dl disertai peningkatan laju endap darah
2.      Pemeriksaan titer antibody – anti staphylococcus
Pemeriksaan kultur darah untuk menentukan bakteri (50% positif) dan diikuti dengan uji sensitivitas
3.      Pemeriksaan feses
Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri  salmonella
4.      Pemeriksaan biopsy tulang
Merupakan proses pengambilan contoh tissue tulang yang akan digunakan untuk  serangkaian tes.
5.      Pemeriksaan ultra sound
Yaitu pemeriksaan yang dapat memperlihatkan adannya efusi pada sendi
6.      Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan photo polos dalam 10 hari pertama tidak ditemukan kelainan radiologik. Setelah 2 minggu akan terlihat berupa refraksi tulang yang bersifat difus dan kerusakan tulang dan pembentukan tulang yang baru.
            Pemeriksaan tambahan :
1.      Bone scan : dapat dilakukan pada minggu pertama
2.      MRI : jika terdapat fokus gelap pada T1 dan fokus yang terang pada T2, maka kemungkinan besar adalah osteomielitis.

H.     Penatalaksanaan medis (Brunner, suddarth. (2001)
1.      Istirahat dan pemberian analgetik untuk menghilangkan nyeri.  Sesuai kepekaan penderita dan reaksi alergi penderita
2.      penicillin cair 500.000 milion unit IV  setiap 4 jam.
3.      Erithromisin 1-2gr IV setiap 6 jam.
4.      Cephazolin 2 gr IV setiap 6 jam
5.      Gentamicin 5 mg/kg BB IV selama 1 bulan.
6.      Pemberian cairan intra vena dan kalau perlu tranfusi darah
7.      Drainase bedah apabila tidak ada perubahan setelah 24 jam pengobatan antibiotik tidak menunjukkan perubahan yang berarti, mengeluarkan jaringan nekrotik, mengeluarkan nanah, dan menstabilkan tulang serta ruang kososng yang ditinggalkan dengan cara mengisinya menggunakan tulang, otot, atau kulit sehat.
8.      Istirahat di tempat tidur untuk menghemt energi dan mengurangi hambatan aliran pembuluh balik.
9.      Asupan nutrisi tinggi protein, vit. A, B,C,D dan K.
a.       Vitamin K : Diperlukan untuk pengerasan tulang karena vitamin K dapat mengikat kalsium.Karena tulang itu bentuknya berongga, vitamin K membantu mengikat kalsium dan menempatkannya ditempat yang tepat.
b.      Vitamin A,B dan C  : untuk dapat membantu pembentukan tulang.
c.       Vitamin D :Untuk membantu pengerasan tulang dengan cara mengatur untuk kalsium dan fosfor pada tubuh agar ada di dalam darah yang kemudian diendapkan pada proses pengerasan tulang. Salah satu cara pengerasan tulang ini adalah pada tulang kalsitriol dan hormon paratiroid merangsang pelepasan kalsium dari permukaan tulang masuk ke dalam darah.

I.       Pencegahan osteomielitis (Depkes RI, 1995).
1.      Berhenti merokok
Merokok dapat menyumbat arteri dan meningkatkan tekanan darah Anda, yang keduanya buruk bagi sirkulasi Anda. Hal ini juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Jika Anda merokok, sangat disarankan Anda berhenti sesegera mungkin.
2.      Diet sehat
Makanan berlemak tinggi dapat menyebabkan penumpukan simpanan lemak di arteri Anda, dan kelebihan berat badan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Untuk meningkatkan sirkulasi Anda, diet tinggi serat rendah lemak dianjurkan, termasuk banyak buah segar dan sayuran (setidaknya lima porsi sehari) dan biji-bijian. Makan makanan yang sehat juga dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan Anda.
3.      Mengelola berat badan Anda
Jika Anda kelebihan berat badan atau obesitas, cobalah untuk menurunkan berat badan dan kemudian mempertahankan berat badan yang sehat dengan menggunakan kombinasi dari diet kalori terkontrol dan olahraga teratur. Setelah Anda telah mencapai berat badan yang sehat akan membantu menjaga tekanan darah Anda pada tingkat normal, yang akan membantu meningkatkan sirkulasi Anda. Anda dapat menggunakan Body Mass Index (BMI) kalkulator untuk memeriksa.
4.      Mengurangi alkohol
Jika Anda minum alkohol, jangan melebihi batas harian yang direkomendasikan,tiga sampai empat unit per hari untuk pria 2-3 unit sehari untuk wanita .Sebuah unit alkohol kira-kira setengah pint bir yang normal-kekuatan, segelas kecil anggur atau ukuran tunggal (25ml) roh. Secara teratur melebihi batas alkohol yang direkomendasikan akan meningkatkan baik tekanan darah dan kadar kolesterol, yang akan membuat sirkulasi Anda buruk. Hubungi dokter Anda jika Anda menemukan kesulitan untuk moderat minum Anda. Layanan dan obat-obatan Konseling dapat membantu Anda mengurangi asupan alkohol Anda.
5.      Olahraga teratur
Olahraga teratur akan menurunkan tekanan darah Anda, membuat jantung dan sistem peredaran darah lebih efisien dan dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh lemah. Bagi kebanyakan orang, 150 menit dari moderat untuk olahraga berat seminggu dianjurkan. Namun, jika kesehatan Anda secara keseluruhan miskin, mungkin perlu bagi Anda untuk berolahraga menggunakan program khusus disesuaikan dengan kebutuhan Anda saat ini dan tingkat kebugaran. GP Anda akan dapat menyarankan Anda tentang tingkat yang paling cocok bagi anda berolah raga. Jika Anda merasa sulit untuk mencapai 150 menit latihan seminggu, mulai dari tingkat yang Anda merasa nyaman dengan. Sebagai contoh, Anda bisa melakukan lima sampai 10 menit latihan ringan sehari sebelum secara bertahap meningkatkan durasi dan intensitas aktivitas Anda sebagai kebugaran Anda mulai membaik

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A.     Pengkajian (Nursalam, 2001)
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari beberapa sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien.Pengkajian yang dilakukan pada klien dengan osteomielitis meliputi:
1.      Identifikasi klien
Terdiri dari nama, jenis kelamin, usia, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan,bahasa yang digunakan, pekerjaan dan alamat.
2.      Riwayat keperawatan
a.       Riwayat kesehatan masa lalu
Identifikasi adanya trauma tulang, fraktur terbuka,atau infeksi lainnya (bakteri pneumonia,sinusitis,kulit atau infeksi gigi dan infeksi saluran kemih) pada masa lalu. Tanyakan mengenai riwayat pembedahan tulang.
b.      Riwayat kesehatan sekarang
Apakah klien terdapat pembengkakan,adanya nyeri dan demam.
c.       Riwayat kesehatan keluarga
Adakah dalam keluarga yang menderita penyakit keturunan. (misalnya diabetes, terapi kortikosteroid jangka panjang) dan cedera, infeksi atau bedah ortopedi sebelumnya)
d.      Riwayat psikososial
Adakah ditemukan depresi, marah ataupun stress.
3.      Kebiasaan sehari-hari
a.       Pola nutrisi      : anoreksia, mual, muntah.
b.      Pola eliminasi  : adakah retensi urin dan konstipasi,karena pada pasien yang kurang aktifitas maka pasien tersebut akan mengalami konstipasi dan bisa berakibat urine tertahan apabila kalsium pada tulang kandungannya terlalu tinggi.
c.       Pola aktivitas   :
No
Kemampuan perawatan diri
0
1
2
3
4
1.      
Makan/minum



2.      
Mandi



3.      
Toileting



4.      
Berpakaian



5.      
Mobilitas ditempat tidur



6.      
Berpindah



7.      
ROM




4.      Pemeriksaan fisik
a.       Kaji gejala akut seperti nyeri lokal, pembengkakan, eritema, demam dan keluarnya pus dari sinus disertai nyeri.
b.      Kaji adanya faktor resiko Identifikasi adanya kelemahan umum akibat reaksi sistemik infeksi. (pada osteomielitis akut)
c.       Observasi adanya daerah inflamasi, pembengkakan nyata, dan adanya cairan purulen.
d.      Identisikasi peningkatan tanda-tanda vital.
e.       Area sekitar tulang yang terinfeksi menjadi bengkak dan terasa lembek bila di palpasi.

B.      Diagnosis (NANDA,2012-2014)
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan tentang respon manusia dari individu atau kelompok dimana perawat secara akountabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan.Diagnosa pada pasien dengan osteomielitis adalah sebagai berikut
1.      Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik.
2.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas tulang.
3.      Gangguan intergritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik.
4.      Ansietas berhubungan dengan status kesehatan
5.      Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat



C.      Perencanaan (NIC,NOC,Fifth edition)

NO
Tanggal
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.      

Nyeri akut b/d agen injuri fisik
Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan,
Pain level :
a.       Pasien dapat melaporkan nyerinya.
b.      Nyeri dapat dilihat dari ekspresi wajah pasien.
c.       Pasien dapat mengetahui panjangnya episode nyeri.
Pain Menegement :
a.       Observasi ketidaknyamanan yang ditunjukkan pasien melalui bahasa non verbal, khususnya untuk pasien yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif.
b.      Mengekplorasi perasaan pasien tentang pengetahuan dan manfaat menegemen nyeri.
c.       Mengedukasi pasien tentang prinsip menegemen nyeri.
d.      Berkolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat anti nyeri ( contoh : asam nefenamat ).
a.       Dengan mengobservasi ketidaknyamanan yang ditunjukkan pasien,perawat dapat mengetahui pasien dalam keadaan tidak nyaman
b.      Dengan mengexplorasi pengetahuan pasien,perawat dapat mengetahui tingkat menegemen nyeri pasien
c.       Dengan mengedukasi pasien ,perawat dapat meningkatkan managemen nyeri pasien
d.      Dengan berkolaborasi dengan dokter perawat dapat mengetahui tingkat nyeri pasien  berkurang
2.      

Hambatan mobilitas fisik b/d kerusakan integritas tulang
Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan,
Aktivity tolerance :
a.       Pasien dapat berjalan melangkah.
b.      Kekuatan tubuh bagian atas pasien meningkat.
c.       Kekuatan tubuh pasien bagian bawah meningkat.
Aktivity Terapi :
a.       Memonitor emotional, pesikis, sosial, dan spiritual terhadap respon aktivitas.
b.      Membantu pasien mengidentifikasi ADL nya
c.       Mengintruksikan pasien atau keluarga untuk membantu ADL pasien yang didinginkannya.
d.      Berkolaborasi terhadap occupational, pisical atau membuat rencana terapi dan memonitor program aktivitas yang dibutuhkan.
a.     Dengan memonitor emotional, pesikis, sosial, dan spiritual,perawat dapat mengetahui respon aktivitas pasien.
b.     Dengan membantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang disukainya,perawat dapat mengetahui  ADL pasien.
c.     Dengan mengintruksikan pasien atau keluarga bagaimana,perawat dapat mengetahui ADL yang diinginkan pasien .
d.     Dengan berkolaborasi terhadap occupational, pisical,perawat dapat mengetahui rencana terapi yang akan diberikan pada pasien.

3.      

Gangguan integritass kulit b/d imobilitas fisik
Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan,
Tissue integrity : skin and mucuus membranes :
a.       Kerusakan integritas kulit pasien berkurang ( 5 menjadi 3 ).
b.      Tekstur kulit pasien normal ( kenyal ).
c.       Turgor kulit pasien normal  kembali dalam waktu 2 detik

Wound care:
a.       Monitor kesadaran pasien dengan lebarnya luka
b.      Lakukan debridemen pada jaringan yang sudah mati
c.       Merekomendasikan cara yang efektif untuk melindungi luka
d.      Berkolaborasi dengan dokter untuk memberikan antibiotik

a.       Dengan Monitor kesadaran pasien,perawat dapat mengetahui keadaan luka pasien.
b.      Dengan melakukan debridemen, perawat dapat mengetahui nekrotik pasien berkurang.
c.       Dengan merekomendasikan cara yang efektif untuk melindungi luka,perawat dapat mengetahui luka pasien terlindungi.
d.      Dengan berkolaborasi dengan dokter untuk memberikan antibiotik,perawat dapat mengetahui pasien terhindar dari infeksi.

4.      

Ansietas b/d stasus kesehatan
Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan,
Anxiety level :
a.       Pasien tidak mengalami panik
b.      Pola tidur passien tidak terganggu.
c.       Ekspresi wajah tertekan passien berkurang.

Anxiety Reduxtion :
a.       Mengontrol stimulasi yang tepat dan yang dibutuhkan.
b.      Membantu pasien mengidentifikasi situasi cemas.
c.       Mengintruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi (nafas dalam,mendengarkan musik)
d.      Berkolaborasi dengan dokter untuk meberikan obat penenang.

a.       Dengan mengontrol stimulasi yang tepat,perawat dapat mengetahui stimulasi tersebut berdampak tidak pada pasien
b.      Dengan membantu pasien engidentifikasi cemas,perawat dapat mengetahui apa yang membuat pasien cemas
c.       Dengan mengintruksikan pasien menggunakanteknik relaksasi,perawat dapat mengetahui apakah teknik tersebut mengurangi kecemasan pasien
d.      Dengan berkolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat penenang,perawat dapat megetahui apakah cemas pasien  berkurag.
5.      

Resiko infeksi b/d pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat
Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan,
Risk Control :
a.       Pasien mengetahui faktor resiko.
b.      Pasien mengetahui strategi faktor resiko.
Infection control :
a.       Memonitor nutrisi pasien
b.      Selalu menggunakan peralatan yang steril pada waktu melakukan tindakan kepada pasien
c.       Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang tata cara menjaga luka supaya tidak terkena infeksi
d.      Aberrkolaborasi dengan dokter untuk memberikan antibiotik pada pasien
a.       Dengan Memonitor nutrisi pasien,perawat dapat mengetahui apakah kebutuhan nutrisi pasien tercukupi.
b.      Dengan  selalu menggunakan peralatan yang steril,perawat dapat mengetahui luka pasien tetap steril.
c.       Dengan mengajarkan pada pasien dan keluarga tentang tata cara menjaga luka supaya,perawat dapat mengetahui luka pasien tidak terkena infeksi.
d.      Dengan berkolaborasi dengan dokter untuk memberikan antibiotik,perawat dapat mengetahui pasien terhindar dari

BAB IV
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Osteomielitis adalah infeksi yang terjadi pada tulang.Oateomielitis dapat di klasifiksikan menjadi dua,yaitu :
1.      Osteomielitis Primer ,yaitu penyebarannya secara hematogen dimana mikroorganisme berasal dari focus ditempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah.
2.      Osteomielitis Sekunder ,yaitu terjadi akibat penyebaran kuman dari sekitarnya akibat dari bisul, luka fraktur dan sebagainya.
Osteomielitis dapat disebabkan oleh bakteri,antara lain :
1.      Staphylococcus aureus sebanyak 90%.
2.      Haemophylus influenzae (50%) pada anak-anak dibawah umur 4 tahun.
3.      Streptococcus hemolitikus.
4.      Pseudomonas aurenginosa.
5.      Escherechia coli.
6.      Clastridium perfringen.
7.      Neisseria gonorhoeae.
8.      Salmonella thyposa.
Manifestasi klinis dari Osteomielitis,antara lain :
1.      Demam
2.      Nafsu makan menurun
3.      Nyeri tekan saat pemeriksaan fisik
4.      Gangguan sendi karena adanya pembengkakan.
Kompliasi dari osteomielitis,yaitu:
1.      Abses Tulang
2.      Bakteremia
3.      Fraktur Patologis
4.      Meregangnya implan prosthetik (jika terdapat implan prosthetic)
5.      Sellulitis pada jaringan lunak sekitar
6.      Abses otak pada osteomyelitis di daerah kranium.
Patofisiologi dari Osteomielitis yaitu :
Staphylococcus aureus,Proteus, Pseudomonas, dan Escerichia Coli menginfeksi tulang sehingga terdapat peningkatan insiden infeksi resistensi penisilin, nosokomial, gram negative dan anaerobik.Dapat menyebabkan Osteomielitis stadium 1,stadium2,stadium 3.Respon inisial terhadap infeksi adalah salah satu dari inflamasi, peningkatan vaskularisasi, dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombisis pada pembuluh darah terjadi pada tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dan nefrosis tulang sehubungan dengan penigkatan tekanan jaringan dan medula. Infeksi kemudian berkembang ke kavitas medularis dan ke bawah periosteum dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di sekitarnya
Pemeriksaan penunjang dari osteomielitis,yaitu:
1.      Pemeriksaan darah
2.       Pemeriksaan titer antibody – anti staphylococcus
3.      Pemeriksaan biopsy tulang
4.      pemeriksaan feses
5.      MRI
6.      Pemeriksaan radiologis
7.      Bone scan
8.      Pemeriksaan ultra sound.
9.      Obat yang bisa diberikan pada pasien ,yaitu:
a.       penicillin cair 500.000 milion unit IV  setiap 4 jam
b.      Erithromisin 1-2gr IV setiap 6 jam
c.       Cephazolin 2 gr IV setiap 6 jam
d.      Gentamicin 5 mg/kg BB IV selama 1 bulan
e.       Pemberian cairan intra vena dan kalau perlu tranfusi darah.
Cara pencegahan Osteomielitis dapat dilakukan dengan cara :
1.      Berhenti merokok
2.      Diet sehat
3.      Mengelola berat badan
4.      Menghindari alkohol
5.      Olahraga tertur
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien osteomielitis adalah
1.      Nyeri berhubungan dengan agen injury fisik
2.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan integritas tulang
3.      Gangguan intergritas kulit berhubungan dengan imobilisasi fisik
4.      Ansietas berhubungan dengan status kesehatan
5.      Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat

B.     Saran
Cukup sekian makalah dari kami,semoga memberi sumbangsih yang poitif terhadap pembaca.Semoga pembaca semakin mengetahui tentang penyakit Osteomielitis dan dapat menjaga pola hidup sehingga dapat terhindar dari penyakit Osteomielitis.

Osteoporosis

Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Osteoporosis
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN OSTEOPOROSIS

A.    Konsep Dasar Anatomi Fisiologi Muskuloskeletal
Sistem muskuloskeletal meliputi tulang, persendian, otot, tendon dan bursae. Pertumbuhan dan perkembangan struktur ini terjadi selama masa kanak-kanak dan remaja. Struktur tulang dan jaringan ikat menyusun kurang lebih 25% berat badan, dan otot menyusun kurang lebih 50%. Kesehatan dan fungsi sistem muskuloskeletal sangat bergantung pada sistem tubuh yang lain. Struktur tulang memberi perlindungan terhadap organ vital, termasuk otak, jantung, dan paru. Kerangka tulang merupakan kerangka yang kuat untuk menyangga struktur tubuh. Otot yang melekat ke tulang memungkinkan tubuh bergerak.

Pembagian skeletal, yaitu :

Axial skeleton terdiri dari kerangka tulang kepala dan leher, tengkorak, kolumna vertebrae, tulang iga, tulang hioid sternum.
Apendikular skeleton, terdiri dari :
Kerangka tulang lengan dan kaki
Ekstremitas atas ( skapula, klavikula, humerus, ulna, radial ) dan tangan ( karpal, metakarpal, falang )
Ekstremitas bawah ( tulang pelvik, femur, patela, tibia, fibula ) dan kaki ( tarsal, metatarsal, falang )
Kelompok tulang tubuh manusia :

Tulang-tulang panjang
a)      Humerus, radius, ulna, femur, tibia, fibula.

b)      Tulang-tulang ini tidak benar-benar lurus, tetapi agak melengkung, tujuannya supaya tulang menjadi kuat menahan beban dan tekanan.

Tulang-tulang pendek
a)      Perbandingan tebal dan panjang hampir sama,terdapat pada pergelangan tangan dan kaki, bentuknya seperti kubus.

Tulang-tulang pipih
a)      Tulang iga, tempurung kepala, panggul dan belikat.

b)      Bentuk pipih berfungsi untuk perlindungan otak, rongga dada dan perlekatan yang luas.

Tulang-tulang tidak teratur
a)      Tulang-tulang pada wajah dan vertebra

b)      Ada kelompok tulang yang lain, tetapi fungsinya berbeda, yaitu tulang-tulang sesamoid.

Sel-sel penyusun tulang terdiri dari :

Osteoblas berfungsi menghasilkan jaringan osteosid dan menyekresi sejumlah besar fosfatase alkali yang berperan penting dalam pengendapan kalsium dan fosfat kedalam matriks tulang.
Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
osteoklas adalah sel-sel berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorpsi. Sel-sel ini menghasilkan enzim proteolitik yang memecah matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang, sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam darah.
Pertumbuhan dan metabolisme tulang dipengaruhi oleh sejumlah mineral dan hormone meliputi :

Kalsium dan fosfor. Keseimbangan kalsium dan fosfor dipertahankan oleh kalsitonin dan hormone paratiriod (PTH).
Kalsitonin. Diproduksi oleh kelenjar tiroid dan menrunkan konsentrasi Ca serum.
Vitamin D. diperlukan agar kalsium dan fosfor dapat diabsorpsi dari usus dan dugunakan tubuh.
Hormon paratiroid (PTH)
Hormon pertumbuhan
Glukokortikoid. Mengatur metabolisme protein.
Hormon seksual
a)    Ekstrogen. Menstimulasi aktivitas osteoblastik dan cenderung menghambat peran hormone paratiroid.

b)Androgen. Seperti testosterone, meningkatkan anabolisme dan masa tulang.

      Kerangka ada dua macam yaitu skelet aksis yang terdiri dari kurang lebih 80 tulang. Disusun oleh ruas-ruas tulang belakang dan tulang-tulang di sekitarnya (tulang iga dan tulang dada). Jenis kedua adalah skelet apendiks yang bawah serta tulang-tulang penghubung anggota dengan skeleton aksis, misalnya scapula panggul dan klavikula.

      Tulang-tulang tersebut membentuk persendian. Sendi dibagi berdasarkan fungsi dan bentuk. Sendi adalah hubungan antara dua tulang atau lebih. Berdasarkan fungsinya sendi dibagi menjadi :

Sinartrosis (tidak bergerak, tulang kepala). Tulang yang dihubungkan oleh jaringan fibrous atau kartilago.
Diartrosis (bergerak). Persendian yang dapat bergerak lebih leluasa.
Amfiartrosis (kadang bergerak).
Berdasarkan bentuknya sendi dibagi menjadi :

Ada tidak rongga atau celah sendi
Jenis jaringan pengikat tulang
Berdasarkan pengikatnya sendi dibagi menjadi :

Pengikat jaringan fibrosa. Sendi ini tidak mempunyai celah. Tulang dihubungkan oleh jaringan  ikat fibrosa dan berubah sifatnya.
Sindermosis. Jaringan fibrosa membentuk ligamentum.
Glomphosis. Mungkin ada gerakan atau tidak. Hubungannya disebut sinkondrosis. Terdapat pada tulang iga dan tulang dada.
      Gerakan sendi dipengaruhi oleh letak bagian lunak sendi yang disebut aposigi (sendi siku yang tidak dapat bertemu), ketegangan ligamentum (sendi lutut), ketegangan otot (sendi paha), atau bentuk permukaan tulang pembentuk sendi.

      Beberapa jenis gerakan sendi adalah rotasi : berputar pada sumbu, sirkumduksi : berputar pada satu titik. Satu sumbu dapat ditemui pada sendi siku, sedangkan dengan dua sumbu pada sendi pergelangan tangan.

      Bursae adalah kantong yang berisi cairan yang memudahkan gerakan pada suatu sendi. Bursae dapat terganggu oleh radang yang disebut bursitis, ditandai dengan edema, panas, merah, dan nyeri serta perubahan funsi sendi.

      Beberapa jenis otot adalah otot polos (terdapat pada usus, saluran kemih, pembuluh darah), otot lurik (terdapat pada otot jantung dan otot kerangka). karena adanya kontraksi, terjadi gerakan tubuh dan mampu beradaptasi dengan lingkungan.

      Gangguna gerakan (arthritis) bisa karena rusaknya permukaan tulang rawan/sendi dan kurangnya pelumas (termasuk di sini adala reumatik). Beberapa sistem yang berperan dalam musculoskeletal adalah :

Sistem kerangka, yang menyiapkan pengungkit tulang\
Sistem otot, yang menyediakan tenaga untuk menggunakan pengungkit
Sistem saraf, yang mengatur kegiatan tubuh.

B.     Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Osteoporosis
Pengertian Osteoporosis
Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total. Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal (Brunner&Suddarth, 2000).

Osteoporosis adalah gangguan metabolisme tulang sehingga masa tulang berkurang. Resorpsi terjadi lebih cepat dari pada formasi tulang, sehingga tulang menjadi tipis (Pusdiknakes, 1995). Jadi osteoporosis adalah kelainan atau gangguan yang terjadi karena penurunan masa tulang total.

Etiologi Osteoporosis
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut:

a.      Determinan Massa Tulang
1)      Faktor genetik

Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia. Jacii seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena osteoporosis

2)      Faktor mekanis

Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetk. Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Dengan perkataan lain dapat disebutkan bahwa ada hubungan langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar. Sebagai contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya; sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu yang lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg faktor genetik

3)      Faktor makanan dan hormon

Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan genetiknya.

b.      Determinan Penurunan Massa Tulang
1)      Faktor genetik

Faktor genetik berpengaruh terhadap risiko terjadinya fraktur. Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besar badannya. Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang tobih banyak dari pada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama

2)      Faktor mekanis

Di lain pihak, faktor mekanis mungkin merupakan faktor yang terpenting dalarn proses penurunan massa tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi  hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan bertambahnya usia; dan karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya   usia.

3)      Kalsium

Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya Lisia, terutama pada wanita post menopause. Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause, dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik, menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi melalui urin yang bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.

4)      Protein

Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium.

Pada umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium yang negatif

5)      Estrogen.

Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.

6)      Rokok dan kopi

Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.

7)      Alkohol

Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu  dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti .

Patofisiologi Osteoporosis
      Osteoporosis menunjukan adanya penurunan absolut dari jumlah tulang yang diperlukan sebagai kekuatan penyanggah mekanik. Berkurangnya masa tulang, dan demikian pula dengan massa otot sesungguhnya berkaitan dengan proses menua. Hanya apabila berkurangnya (hilangnya) jaringan tulang cukup luas sampai menimbulkan gejala maka disebut osteoporosis.

Osteoporosis dapat dikategorikan menjadi 2 kategor, meliputi :

Primer        : bentuk yang lebih umum
Sekunder   : berkurangnya jaringan tulang yang berkaitan dengan bermacam-macam sindrom patologik yang jelas. Hal ini meliputi :
Malnutrisi sebagai akibat kekurangan protein dalam diet atau karena sindrom malabsorpsi
Beberapa kelainan endokrin seperti sindrom cushing tirotoksikosis
Immobilisasi yang cukup lama.
Berkurangnya kalsium

dalam diet

                                    Rangsangan sekresi PTH        aktivasi osteoklas        rearbsorpsi

                                                                                                kalsium tulang

            berkurangnya                                                                          meningkatnya

                        arbsorpsi kalsium                                                                     sensitivitas osteoklas

                                                                                                                         terhadap PTH

                        menurunnya sintesis vitamin D

                        yang aktif oleh ginjal

                  kadar ekstrogen yang rendah

                        skema tentang kemungkinan patogenesis osteoporosis post manepouse. Garis putus-putus menunjukan hambatan balik (Robins&Kumar, 1995).

Manifestasi Klinik Osteoporosis
Gejala yang paling sering dan paling mencemaskan pada osteoporosis adalah :

Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Ciri-ciri khas nyeri akibat fraktur kompressi pada vertebra (paling sering Th 11 dan 12) adalah:
Nyeri timbul mendadak
Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang
Nyeri berkurang pada saat istirahat di t4 tidur
Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan  dan akan bertambah oleh karena melakukan aktivitas
Deformitas vertebra thorakalis à Penurunan tinggi badan

Komplikasi Osteoporosis
Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur kompresi. Fraktur kompresi ganda vertebra mengakibatkan deformitas skelet.

Pemeriksaan Penunjang Osteoporosis
      Pemeriksaan non-invasif yaitu ;

Pemeriksaan analisis aktivasi neutron yang bertujuan untuk memeriksa kalsium total dan massa tulang.
Pemeriksaan absorpsiometri
Pemeriksaan komputer tomografi (CT)
Pemeriksaan biopsi yaitu bersifat invasif dan berguna untuk memberikan informasi mengenai keadaan osteoklas, osteoblas, ketebalan trabekula dan kualitas meneralisasi tulang. Biopsi dilakukan pada tulang sternum atau krista iliaka.
Pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kimia darah dan kimia urine biasanya dalam batas normal.sehingga pemeriksaan ini tidak banyak membantu kecuali pada pemeriksaan biomakers osteocalein (GIA protein).

Penatalaksanaan Medis
Adapun penatalaksanaan pada klien dengan osteoporososis meliputi :

a.       Pengobatan
1)      Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yg dapat meningkatkan pembentukan tulan adalah Na-fluorida dan steroid anabolik

2)      Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapat mengahambat resorbsi tulang adalah kalsium, kalsitonin, estrogen dan difosfonat

b.      Pencegahan
Pencegahan sebaiknya dilakukan pada usia pertumbuhan/dewasa muda, hal ini bertujuan:

1)      Mencapai massa tulang dewasa Proses konsolidasi) yang optimal

2)      Mengatur makanan dan life style yg menjadi seseorang tetap bugar seperti:

a)      Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)

b)      Latihan teratur setiap hari

c)      Hindari :

                                                              i.      Makanan tinggi protein

                                                            ii.      Minum alkohol

                                                          iii.      Merokok

                                                          iv.      Minum kopi

                                                            v.      Minum antasida yang mengandung aluminium

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Osteoporosis
a.      Pengkajian
Adapun pengkajian yang dilakukan pada klien dengan osteoporosis meliputi :

1)      Riwayat keperawatan. Dalam pengkajian riwayat keperawatan, perawat perlu mengidentifikasi adanya :

a)      Rasa nyeri/sakit tulang punggung (bagian bawah), leher, dan pinggang

b)      Berat badan menurun

c)      Biasanya di atas 45 tahun

d)     Jenis kelamin sering pada wanita

e)      Pola latihan dan aktivitas

f)       Keadaan nutrisi (mis, kurang vitamin D dan C, serta kalsium)

g)      Merokok, mengonsumsi alkohol dan kafein

h)      Adanya penyakit endokrin: diabetes mellitus, hipertiroid, hiperparatiroid, Sindrom Cushing, akromegali, Hipogonadisme

2)      Pemeriksaan fisik :

a)      Lakukan penekanan pada tulang punggung terdapat nyeri tekan atau nyeri pergerakan

b)      Periksa mobilitas pasien

c)      Amati posisi pasien yang nampak membungkuk

3)      Riwayat Psikososial. Penyakit ini sering terjadi pada wanita. Biasanya sering timbul kecemasan, takut melakukan aktivitas, dan perubahan konsep diri. Perawat perlu mengkaji masalah-masalah psikologis yang timbul akibat proses ketuaan dan efek penyakit yang menyertainya.

b.      Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data pengkajian, diagnosis keperawatan untuk klien osteoporosis sebagai berikut :

1)      Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan proses penyakit.

2)      Gangguan konsep diri : perubahan citra tubuh dan harga diri yang berhubungan dengan proses penyakit

3)      Nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan spasme otot

4)      Risiko terhadap cedera : fraktur, yang berhubungan dengan tulang osteoporotik

5)      Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi

c.       Tujuan
Sasaran umum pasien dapat meliputi dapat meningkatkan mobilitas dan aktivitas fisik, dapat menggunakan koping yang positif, nyeri reda, cedera tidak terjadi, dan memahami osteoporosis dan proram pengobatan.

d.      Intervensi
Intervensi keperawatan yang dilakukan sesuai dengan diagnosis yang ditemukan, meliputi :

1)      Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan proses penyakit

Intervensi :

a)      Gunakan matras dengan tempat tidur papan untuk membantu memperbaiki posisi tulang belakang

b)      Bantu pasien menggunakan alat bantu walker atau tongkat

c)      Bantu dan anjarkan latihan ROM setiap 4 jam untuk meningkatkan fungsi persendian dan mencegah kontraktur

d)     Anjurkan menggunakan brace punggung atau korset, pasien perlu dilatih menggunakannya dan jelas tujuannya

e)      Kolaborasi dalam pemberian analgetik, ekstrogen, kalsium, dan vitamin D

f)       Kolaborasi dengan ahli gizi dalam program diet tinggi kalsium serta vitamin C dan D

g)      Kolaborasi dengan petugas laboratorium dalam memantau kadar kalsium

2)   Gangguan konsep diri : perubahan citra tubuh dan harga diri yang berhubungan dengan proses penyakit

Intervensi :

a)      Bantu pasien mengekspresikan perasaan dan dengarkan dengan penuh perhatian. Perhatian sungguh-sungguh dapat meyakinkan pasien bahwa perawat bersedia membantu mengatasi masalahnya dan akan tercipta hubungan yang harmonis sehingga timbul koordinasi

b)      Klasifikasi jika terjadi kesalahpahaman tentang proses penyakit dan pengobatan yang telah diberikan. Klasifikasi ini dapat meningkatkan koordinasi pasien selama perawatan

c)      Bantu pasien mengidentifikasi pengalaman masa lalu yang menimbulkan kesuksesan atau kebanggan saat itu. Ini dapat membantu upaya mengenal diri kembali

d)     Identifikasi bersama pasien tentang alternative pemecahan masalah yang positif. Hal ini akan mengembalikan rasa percaya diri

e)      Bantu untuk meningkatkan komunikasi dengan keluarga dan teman

3)      Nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan spasme otot

Intervensi :

a)      Anjurkan istirahat di tempat tidur dengan posisi telentang atau miring

b)      Atur posisi lutut fleksi, meningkatkan rasa nyaman dengan merelaksasi otot

c)      Kompres hangat intermiten dan pijat pungung dapat memperbaiki otot

d)     Anjurkan posisi tubuh yang baik dan ajarkan mekanika tubuh

e)      Gunakan korset atau brace punggung, saat pasien turun dari tempat tidur

f)       Kolaborasi dalam pemberian analgesik untuk mengurangi rasa nyeri

4)      Risiko terhadap cedera : fraktur, yang berhubungan dengan tulang osteoporotis

Intervensi :

a)      Anjurkan untuk melakukan aktivitas fisik untuk memperkuat otot, mencegah atrofi, dan memperlambat demineralisasi tulang progresif

b)      Latihan isometrik dapat digunakan untuk memperkuat otot batang tubuh

c)      Anjurkan pasien untuk berjalan, mekanika tubuh yang baik, dan postur tubuh yang baik

d)     Hindari aktivitas membungkuk mendadak, melengok, dan mengangkat beban lama

e)      Lakukan aktivitas di luar ruangan dan dibawah sinar matahari untuk memperbaiki kemampuan tubuh menghasilkan vitamin D

5)      Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi

a)      Jelaskan pentingnya diet yang tepat, latihan, dan  aktivitas fisik yang sesuai, serta istirahat yang cukup

b)      Jelaskan penggunaan obat serta efek samping obat yang diberikan secara detail

c)      Jelaskan pentingnya lingkungan yang aman. Misalnya, lantai tidak licin, tangga menggunakan pegangan untuk menghindari jatuh

d)     Anjurkan mengurangi kafein, alcohol, dan merokok

e)      Jelaskan pentingnya perawatan lanjutan

e.       Evaluasi
Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan :

1)      Aktivitas dan mobilitas fisik terpenuhi

a)      Melakukan ROM secara teratur

b)      Menggunakan alat bantu saat aktivitas

c)      Menggunakan brace / korset saat aktivitas

2)      Koping pasien positif

a)      Mengekspresikan perasaan

b)      Memilih alternatif pemecah masalah

c)      Meningkatkan komunikasi

3)      Mendapatkan peredaan nyeri

a)   Mengalami redanya nyeri saat beristirahat

b)   Mengalami ketidaknyamanan minimal selama aktivitas kehidupan sehari-hari

c)   Menunjukkan berkurangnya nyei tekan pada tempat fraktur

4)      Tidak mengalami fraktur baru

a)      Mempertahankan postur yang bagus

b)      Mempegunakan mekanika tubuh yang baik

c)      Mengkonsumsi diet seimbang tinggi kalsium dan vitamin D

d)     Rajin menjalankan latihan pembedahan berat badan (berjalan-jalan setiap hari)

e)      Istirahat dengan berbaring beberapa kali sehari

f)       Berpartisipasi dalam aktivitas di luar rumah

g)      Menciptakan lingkungan rumah yang aman

h)      Menerima bantuan dan supervisi sesuai kebutuhan

5)      Mendapatkan pengetahuan mengenai oesteoporosis dan program penanganannya.

a)      Menyebutkan hubungan asupan kalsium dan latihan terhadap massa tulang

b)      Mengkonsumsi kalsium diet dalam jumlah yang mencukupi

c)      Meningkatkan  tingkat latihan

d)     Gunakan terapi hormon yang diresepkan

e)      Menjalani prosedur skrining sesuai anjuran