Featured Video

Rabu, 14 Januari 2015

Sentralisasi obat

DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................................... ii
Kata Pengantar .............................................................................................................. iii
Daftar Isi......................................................................................................................... iv
Bab I : Pendahuluan
1.1. Latar belakang...........................................................................................     1
1.2. Tujuan............................................................................................................. 1
Bab II : Pembahasan                                                                                         
2.1  Sentralisasi Obat............................................................................................. 2
2.2. Kontrol tidak penuh (desentraliasi)........................................................... .... 2
2.3. Lampiran  proposal pelaksanaan sentralisasi obat ......................................... 3
2.4. Lampiran : petunjuk pengisian....................................................................... 2
2.5. Lampiran : surat persetujuan sentralisasi obat................................................ 3
2.6. Tinjauan Teori CDC....................................................................................... 3
Bab IV : Penutup
4.1. Kesimpulan................................................................................................      13
4.2. Saran..........................................................................................................     13
Daftar Pustaka







BAB I
PEMBAHASAN

1.1 Latar belakang
Dewasa ini harga obat/alat kesehatan cukup tinggi/mahal dan diluar jangkauan masyakat, utamanya bagi klien dirumah sakit yang mayoritas menggunakan berbagai merek obat paten bagi etiap pasien. Penggunaan berbagai jenis dan merek obat dengan harga yang cukup tinggi tersebut tentu saja tidak hanya berpengaruh secara ekonomi semata; namun lebih dari itu; resiko penyimpangan penggunaan obat diluar hal semestinya juga mampu menimbulkan kerugian bagi klien itu sendiri. Resiko resistensi tubuh terhadap obat dan resiko resistensi kuman penyakit dapat terjadi manakala konsumsi obat oleh penderita tidaklah terkontrol dengan baik.
Kontroling terhadap penggunaan dan konsumsi obat; sebagai salah satu peran perawat; perlu dilakukan suatu pola/alur yang sistematis sehingga penggunaan obat benar-benar dapat dikontrol oleh perawat sehingga resiko-resiko kerugian baik secara materiil maupun non materiil dapat dieliminir. Upaya sistematik meliputi uraian terinci tentang pengelolaan obat secara ketat oleh perawat diperlukan sebagai bentuk tanggung jawab perawat dalam menyelenggarakan kegiatan keperawatan.
Namun dalam kenyataannya dirumah sakit; tidak jarang ditemukan adanya jumlah tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan; sehingga beberapa tugas dan peran perawat harus “diserahkan” pada keluarga atau klien itu sendiri. termasuk didalamnya adalah penggunaan obat. Untuk itu perlu diupayakan langkah peningkatan mutu pelayanan dengan sentraliasi obat dan pengontrolan keluarga dalam menciptakan suatu bentuk “pendelegasian” peran dari perawat kepada keluarga; khususnya dalam pengelolaan obat sehingga resiko-resiko penyimpangan dapat diminimalkan.
1.2 Tujuan
Tujuan umum :
1.      Meningkatkan mutu kepada klien,terutama dalam pemberian obat
2.      Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat secara hukum maupun moral
3.      Mempermudah pengelolaan obat secara efektif dan efiien
Tujuan khusus :
1.       Menyeragamkan pengelolaan obat
2.       Mengamankan obat-obat yang dikelolah
3.       Mengutamakan ketepatan pemberian obat dengan tepat; dosis; waktu;cara                 

Bab 2
Pembahasan

2.1 Definisi
Sentralisasi obat adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat yang akan diberikan kepada pasien diserahkan pengelolaan sepenuhnya oleh perawat (nursalam,2002)
Tujuan pengelolaan obat
·         Tujuan pengelolaan obat adalah menggunakan obat secara bijaksana dan menghindari pemborosan,sehingga kebutuhan asuhan keperawatan pasien dapat terpenuhi.
·         Penggunaan obat hanya merupakan salah satu segi pelayanan kesehatan tetapi merupakan yang paling penting.
Obat itu penting manajemen penyediaan obat-obatan dalam unit kesehatan Merupakan  salah satu tanggung jawab pekerja kesehatan Obat itu mempunyai kekuatan obat harus digunakan dengan ketrampilan ,pengetahuan dan ketepatan ,bila obat dapat berbahaya obat itu mahal pemborosan dan penggunaan  obat yang salah dapat                              mengakibatkan berkurangnya persediaan, yang menyebabkan beberapa pasien tidak dapat diobati sebagaimana mestinya
·         Hal-hal berikut ini adalah beberapa alasan paling sering mengapa obat perlu disentralisasi
1.      Memberikan bermacam-macam obat untuk satu pasien
2.      Menggunakan obat yang mahal dan bermerek,padahal obat standar yang lebih murah dengan mutu terjamin memiliki efektifitas dan keamanan yang sama
3.      Meresepkan obat sebelum diagnosis pasti dibuat”hanya untuk mencoba”.
4.      Menggunakan dosis yang lebih besar daripada yang diperlukan
5.      Memberikan obat kepada pasien yang tidak mempercayainya, dan banyak yang membuang atau lupa untuk minum
6.      Memesan obat lebih dari pada yang di butuhkan, sehingga banyak tersisa sesudah batas kadalwarsa
7.      Tidak menyediakan lemari es, sehingga vaksin dan obat menjadi tidak efektif
8.      Meletaktan obat di tempat yang lembab, terkenak cahaya atau panas
9.      Mengeluarkan obat(dari tempat penyimpanan) terlalu banyak pada suatu waktu sehingga dipakai berlebihan atau dicuri(mc mahon,1999).
·         Tehnik pengolahan obat(sentralisasi)
Pengeluaran dan pemgagian obat sepenuhnya dilakukan oleh perawat.
1.penanggung jawab pengelolaan obat adalah kepala ruangan yang secara operasional dapat didelegasikan kepada staff yang ditunjuk.
2. keluaga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan obat.
3. Penerinaan Obat
1)      Obat yang telah diresepkan di tunjukkan kepada perawat dan obat yang telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada perawat dengan menerima lembar terima obat.
2)      Perawat menuliskan nama pasien, register, jenis obat, jumlah dan sediaan dalam kartu control, dan diketahui oleh keluarga atau pasien dalam buku masuk obat. Keluarga atau pasien selanjutnya mendapatkan penjelasan kapan atau bilamana obat tersebut akan habis. Serta penjelasan tentang 5T.
3)      Pasien atau keluarga selanjutnya mendapatkan salinan obat yang harus diminum beserta kartu sediaan obat.
4)      Obat yang telah diserahkan selanjutnya disampaikan oleh perawat dalam kotak obat (Nursalam, 2002).
4.      Pembagian obat
1)      Obat yang telah diterima untuk selanjutnya disalin dalam buku daftar pemberian obat.
2)      Obat yang telah disimpan untuk selanjutnya diberikan oleh perawat dengan memerhatikan alur yang tercantum dalam buku daftar penerimaan obat: dengan terlebih dahulu dicocokan dengan terapi yang diinstruksikan dokter dan kartu obat yang ada pada pasien.
3)      Pada saaat pemberian obat, perawat menjelaskan macam obat, kegunaan obat, jumlah obat, dan efek samping. Usahakan tempat atau wadah obat kembali ke perawat setelah obat dikonsumsi. Pantau efek samping pada pasien.
4)      Sediaan obat yang ada selanjutnya diperiksa setiap pagi oleh kepala ruang atau petugas yang ditujukan dan didokumentasikan dalam buku masuk obat. Obat-obatan yang hampir habis akan diinformasikan kepada keluarga dan kemudian dimintakan resep kepada dokter penganggung jawab pasien (Nursalam, 2002).
5.      Penambahan obat baru
1)      Bilamana terdapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau perubahan alur pemberian obat, maka informasi ini aakan dimasukkan dalam buku masuk obat dan sekaligus dilakukan perubahan dalam kartu sediaan obat.
2)      Pada pemberian obat yang bersifat tidak rutin, maka dokumentasi hanya dilakukan pada buku masuk obat dan selanjutnya diinformasikan kepada keluarga dengan kartu khusus obat (Nursalam, 2002).
6.      Obat khusus
1)      Obat dikategorikan khusus apabila sediaan memiliki harga yang cukup mahal, menggunakan alur pemberian yang cukup sulit, memiliki efek samping yang cukup besar atau hanya diberiakn dalam waktu tertentu.
2)      Pemberian obat khusus dilakukan menggunakan kartu kusus obat ,dilaksanakan oleh perawat primer
3)      Informasi yang diberikan kepada pasien atau keluarga : nama obat, waktu pemberian, efek smping, penanggungjawab,pemberian, dan wadah obat sebaiknya diserahkan atau ditunjukkan kepada keluarga setelah pemberian. Usahakan terdapat saksi dari keluarga saatb pemberian obat (nursalam, 2002).

Seorang menejer keperawatan kesehatan dapat mendidik staf mengenai obat dengan cara-cara berikut ini :
1)      Membuat catatan mengenai obat-obatan yang sering dipakai, jelaskan penggunaan dan efek samping, kemudian berikan salinan kepada  semua staf.
2)      Tuliskan dosis yang tepat obat-obatan yang sering digunakan dan gantungkan di dinding.
3)      Adakan pertemuan staf untuk membahas penyebab beborosan obat.
4)      Beritahu kepada semua staf mengenai harga bermacam-macam obat.
5)      Aturlah kuliah atau program diskusi dan bahaslah mengenai satu jenis obat setiap minggu pada waktu pertemuan staf.
6)      Taruhlah satu atau lebih eksemplar buku farmakologi sederhana di perpustakaan (Mc Mahon, 1999).

Mendidik Pasien Tentang Obat

Kadang-kadang pasien meminum obat degan carayang salah,baik dengan mengurangi dosis agar pengobatannya lebih lama atau menembahnya dengan harapan akan lebih cepat sembuh. Mereka minum obat pada waktu yang tidak tepat atau lupa akan dosisnya. Pasien yang mendapat pengobatan jangka panjang sering berhenti meminum obatnya terlalu dini. Hal ini tejadi karena pasien tidak mengerti akan kerja obat dalam tubuh. Akibatnya, mereka kadang-kadang tidak sembuh dan obat terbuang percuma.

Para pekerja kesehatan harus sangat peduli untuk menerangkan pada pasien bagaimana cara meminum obat mereka, terangkan dengan cara sederhana mengapa obat-obat tertentu harus diminum dengan cara tertentu. Dengan demikian pasien akan belajar bahwa:
·         Masing-masing obat mempunyai cara kerja tersendiri. Obat yang dapat dipakai pada satu keadaan tidak bermanfaat untuk keadaan lain.
·         Besarnya dosis sangat penting,bila terlalu sedikit cara kerjanya terlalu lemah untuk memperbaiki keadaan, dan bila terlalu kuat dapat meracuni pasien. Dosis untuk anak-anak lebih sedikit dari pada dosis untuk dewasa.
·         Pengobatan harus teratur untuk menjamain bahwa kadar obat yang diinginkan dalam tubuh tercapai.
·         Semua tahapan pengobatan harus dijalani dengan lengkap, bila tidak pasien dapat kembali jatuh sakit dengan keadaan yang lebih parah daripada sebelumnya.
·         Obat harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak, yang mungkin memakannya karena mirip gula-gula dan dapat meracuni mereka.
Diagram alur pelaksanaan sentralisasi obat (Nursalam,2002)

Text Box: DOKTER 
                                                                                                                                                                            

Pendekatan perawat

  
                                                                                                                                                  

Text Box: PASIEN/  KELUARGA      







Text Box: 1.Surat persetujuan sentralisasi dari perawat
2.Lembaran serah terima obat
3.Buku serah terima / Masuk obat



     
         











   

Text Box: PENGATURAN PENGOLAHAN OLEH PERAWATA






               


Petunjuk Penulisan Sentralisai Obat (Contoh di Ruang Kardiologi RSUD DR.SOETOMO Surabaya)

1. Buku Serah Terima Obat.
   Bagian-bagiannya adalah:
·         Nomer urut
·         Hari / tanggal /jam
·         Dituliskan hari, tanggal,dan jan terima obat, misalnya: Senin, 1 Mei 2002 jam: 10.00 WIB
·         Nama pasien / umur / kamar / tempat tidur
·         Dituliskan nama pasien, umur, nomor kamar dan tempat tidur dimana klien dirawat. Misalnya:Ny. X / 50 / 5 / 2
·         Nama, jumlah dan bentuk
·         Ditulisan nama dan jumlah obat yang diserahkan klien / keluarga. Misalnya:Lisonopril / X / tab
·         Dosis dan cara
·         Dituliskan dosis dan cara pemberian obat, misalnya: 3x5 gr / oral
·         Tanda tangan dan nama yang menyerahkan obat
·         Dituliskan tanda tangan dan nama klien atau keluarga yang menyerahkan obat kepada perawat.
·         Tanda tangan dan nama yang menerima obat
·         Dituliskan  tanda tangan dan nama perawat yang menerima obat dari klien atau keluarga.
·         Keterangan
·         Dituliskan keterangan yang perlu sehubungan dengan pasien, misalnya: JPS atau yang lain

2. Buku Pemberian Obat
             Bagian-bagiannya adalah:
·         Nomor Urut
·         Nama pasien / umur / kamar / nomer tempat tidur
Dituliskan nama pasien , umur, nomer kamar dan tempat tidur dimana klien dirawat misalnya:Ny. X / 50 / 5 / 2
·         Hari / tanggal / jam pemakaian obat
Dituliskan hari tanggal dan jam pemberian obat  misalnya: senin 1 mei / 2002 / 07.00 WIB
·         Hari / tanggal /  jam penyerahan obat sisa
Dituliskan hari, tanggal dan jam penyerahan obat sisa kepada perawat jaga shift selanjutnya misalnya:senin / 1 mei  2002 / 14.00 WIB
·         Terapi / dosis / cara pemberian obat
Sesuaikan nomer urut penerimaan obat  misalnya:lisonopril / 3x5 mg / oral
·         Jadwal pemberain dan dosis obat
Dituliskan sesuai jadwal dan dosis pemberain obat  misalnya: 5-5-5 ( artinya: 5 mg tiap pagi, siang dan sore hari ), atau ½ - ½ - ½ ( artinya: ½  tablet tiap pagi, siang, dan sore hari ) -  karena 1 tablet obat lisonopril terdiri dari 10 mg ( 10 mg / tab )
·         Sisa obat
Dituliskan nama dan jumlah sisa obat setelah pemberain  misalnya: lisonnopril / 8,5
·         Tanda tangan dan nama pemberian obat
Dituliskan  tanda tangan dan nama perawat pemberi obat
·         Tanda tangan dan nama yang menyerahkan sisa obat
Dituliskan tanda tangan dan nama perawat  yang menyerahkan sisa obat
·         Tanda tangan dan nama penerima sisa obat
Dituliskan tanda tangan dan nama perawat penerima sisa obat pada shift berikutnya
·         Keterangan
Dituliskan:
·         Perubahan atau hal-hal yang perlu diketahui, misalnya: alergi, obat habis, atau obat ganti

2.2. PENGELOLAAN OBAT KONTROL TIDAK PENUH ( DESENTRALISASI )
                 Pengelolaan obat diserahkan kepada keluarga seeluarga telah keluarga / pasien mendapatkan pengertian yang memadai seputar penggunaan obat dari perawat .

1.      PENERIMAAN DAN PENCATATAN OBAT
a.       Obat yang telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada perawat
b.      Obat yang diserahkan dicatatan dalam buku masuk obat
c.       Perawat menyerahkan kartu pemberian obat kepada keluarga / pasien
d.      Keluarga/ pasien mendapatkan penyuluhan tentang : rute pemberian obat , waktu pemberian obat ,tujuan pemberian dan efek samping yang mungkin timbul
e.       Perawat menyerahkan kembali obat pada keluarga / pasien ; pasien / keluarga mendatangi lembar penyuluhan

2.      PEMBERIAN OBAT
a.       Obat diberikan oleh keluarga atau diminum sendiri oleh klien,perawat melakukan kontroling terhadap pemberian obat memungkan .
b.      Obat yang telah diminum dicek adanya efek samping , juga dilakukan pengecekan obat tiap hari ( pagi ) untuk menentukan apakah obat benar-benar diminum tepat dosis .
c.       Obat yang hilang / berkurang /jumlah tlarifikasikidak sesuai dengan perhitungan ; diklasifikasikana pada keluarga/ pasien

3.      PENAMBAHAN OBAT
a.       Penambahan obat baru harus dilaporkan pada perawat untuk dicatat dalam buku masuk obat
b.      Bila terdapat obat jenis baru , maka dilakukan penyuluhan khusus tentang obat baru tersebut sebelum di serahkan pada pasien

4.      OBAT KHUSUS
a.       Penjelasan / penyuluhan tentang obat khusus akan diberikan oleh perawat primer
b.      Pemberian obat khusus sebaiknya dilakukan oleh perawat
                  MEMPERSIAPKAN DAFTAR OBAT STANDAR
Sifat pekerjaan kesehatan dan pengetahuan mengenai penyakit dan pengobatannya harus berubah seiring dengan penemuan obat-obat baru. Sebagian akibatnya, ‘daftar standar’ seringkali ‘ketinggalan jaman ‘ atau tidak adekuat lagi daftar obat standar mungkin perlu diubah atas alasan-alasan berikut ini :
a.       Terdapat penyakit baru yang belum pernah ditangani , atau pasien yang sebelumnya  merupakan pasien rawat di rumah sakit , sekarang berobat jalan
b.      Terdapat obat-obat baru
c.       Anggaran untuk membeli obat tidak cukup lagi untuk membeli semua obat yang tertera dalam daftar sehingga diperlukan obat pengganti yang lebih murah
MENGHITUNG KEPERLUAN OBAT
Memesan obat lebih dari pada yang diperlukan mengakibatkan pemborosan,karena sebagian obat akan tersisa sampai lewat batas waktu penggunaanya memesan obat kurang dari pada yang diperlukan akan mengakibatkan kekurangan , dan pasien tetap sakit karena tidak dapat diobati. Oleh karena itu sangat penting diperkirakan dengan tetap berapajumlah setiap obat yang diperlukan. Hal ini dapat dilakukan berdasarkan pengalaman sebelumnya dipusat kesehatan atau dengan perhitungan.
Rumus untuk menghitung
Dosis rata-rata =  jumlah pasien yng biasanya diobati dgn obat itu
                              Pemberian obat  X  diantara selang waktu pembeli.
Selang waktu pemberian  adalah selang waktu antara dua kali kedatangan obat berturut-turut , biasanya tiga atau enem bulan
jumlah pasien yang diobati dengan obat tertentu atau yang terjangkit yang akan diobati dengan obat tersebut dpengobatan perhitungkan dari catatan atau pendaftaran klinik.
MEMPERSIAPKAN OBAT UNTUK BAGIAN RAWAT JALAN
Pengobatan dosis penu menggunakan tablet obat tertentu dapat  dipersiapkan dengan cara mengemasannya dalam amplop kecil atau kertas terlipat sebelum klinik atau bagian rawat jalan dimulai. Sehingga pada saat pasien memerlukannya obat-obatan tersebut sudah siap .tindakan ini memiliki beberapa keuntungan :
·         Pasien menerima pengobatan dosis penuh yang tepat.
·         Menghemat waktu , sehingga menunggu dan antri saat taplet dihitung dapat dihindari.
·         Dapat memberi petunjuk tercetak dalam bungkus atau dituliskan di amplop untuk memberitaukan kepada pasien bagai mana dan kapan obat di minum. Harus di pikirkan tanda khusus untuk memberikan keterngan yang sama bagi pasien buta hurup , misal gambar matahari terbit menandakan pagi hari .
·         Cara ini terutama barguna untuk klinik tertentu yang memberikan pengopbatan standat kepada semua pasien, misal tablet besi dan asam folat untuk wamita hamil .
·         Pengamatan dan pengawasan pengeluaran obat menjadi lebih mudah .
BAGAIMANA MEMPERSIAPKAN KEMASAN OBAT
Tatacara berikut ini harus diikuti untuk mengemas obat :
1)      Buat daftar obat-obatan yang sering diresepkan .
2)      Tuliskan rincian pengobatan yang bisa untuk tiap-tiap kelompok umur , misal 1-4 tahun , 5-9 tahun ,10-15 tahun ,dan dewasa
3)      Tulis pengobatan sretiap hari sedemikian rupa sehingga pasien dapat
Memahaminya dengan mudah misalnya ;
Dewasa
Minumlah SATU tablet tiga kali sehari :
Satu pada saat bangun tidur
Satu pada tengah hari
Satu pada saat sebelum tidur
Dan teruskan pengobatan untuk……….hari .
4)      Cetak dan perbanyak petunjuk bila mungkin , gunakanlah kertas dengan warna yang berbeda untuk masing-masing kelompok umur .
5)      Beli atau buatlah amplop-amplop kecil .
6)      Masukkan jumlah obat yang tepat untuk pengobaatan dosis penuh ke dalam masing-masing amplop . rekatkan petunjuknya pada amplop .
2.3  lampiran: proposal pelaksanaan sentralisasi obat
      PENDAHULUAN
                     Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan dirasakan sebagai suatu fenomena yang harus direspons oleh perawat . respons yang ada harus bersifat kondusif dengan belajar banyak langkah-langkah kongkrit dalam pelaksanaanya ( Nursalam ,2002 ) , salah satunya adalah pengelolaan sentralisasi obat . pengecekan terhadap penggunaan dan jkonsumsi obat, sebagai salah satu peran perawat , perlu dilakukan suatu pola atau alur yang sistematis sehingga resiko kerugian baik secara material maupun secara non material dapat dieliminasi . kegiatan sentralisasi obat meliputi pembuat membuat petunjuk astrategi persiapan sentrlisasi obat , persiapan sarana yang dibutuhkan dan membuat tunjuk teknis peyelenggaraan sentralisasi obat. Pengelolaan sentralisasi yang optimal merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
    TUJUAN
A.    TUJUAN UMUM
Mengaplikasikan peran perawat primer dalam pengelolaan sentralisasi obat dan mendokumentasikan hasil pengelolaan sentrlisasi obat .
B.     TUJUAN KHUSUS
1.      Mengelola obat pasien : pemberian obat secara tepat dan benar sesuai dengan prinsip 6T + 1W dan mendokumentasikan hasil pengolaan .
2.      Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman perawat primer dan perawat associate dalam penerapan prinsip 6T + 1W .
3.      Meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga atas asuhan perawatan yang di berikan
4.      Meningkatkan kepercayaan pasien dan keluarga perawat dan sentralisasi obat .
5.      Meningkatkan kepatuhan pasien terhadap proghram terapi.
     PERAN
a.      Peran perawat primer dan perawat associate
v  Menjelaskan tujuan dilaksanakannya sentralisasi obat.
v   menjekaskan manfaat dilaksanakannya sentralisasi obat.
v  Memfasilitasi surat persetujuan pengelolaan dan pencatatan obat.
v  Melakukan pencatatan dan kontrol terhadap pemakaian obat selama pasien dirawat.

b.      Perawat primer lain dan supervisior
v  Memberikan perlindungaan terhadap pasien terhadap tindakan malpraktek.
v  Menilai kepatuhan pasien terhadap progam terapi.
v  Memotivasi pasien untuk mematuhi program terapi.

PELAKSANAAN
Kegiatan sentrlisasi obat akan dilaksanakan pada minggu pertama dan kedua untuk uji coba dan aplikasi minggu ke tiga sampai minggu ke empat selama mahasiswa praktik diruang paru wanita .metode yang digunakan adalah pendekatan secara langsung dengan pasien dengan komunikasi terapeutik untuk meyakinkan pasien agar bersedia mengikuti pengolaan sentralisasi obat dan menggunakan format pengolaan sentrlisasi obat.
METODE
v  Pengawasan nama obat, jumlah , rencana pemakaian , penerima dan pemberi obat sesuai dengan identitas pasien dan dicatat dalam buku serah terima obat.
v  Pengawasan dan pencatatan nama obat , dosis , frekuensi , jadwal dan jam pemberian obat  , jenis pemberiaan obat oral atau injeksi , sesuai dengan identitas pasien pada format kontrol dan pemakaian obat.
INSTRUMEN
v  Informed consent pengelolaan sentralisasi obat.
v  Format kontrol dan pemakian obat.
v  Buku sentralisasi obat ( buku serah terima obat ).
v  Lemari obat dan kotak sentralisasi obat.
v  Leaflet.
PENGORGANISASIAAN
a.       Kepala ruangan                  :
b.      Perawat primer                  :
c.       Perawat associate             :
KRETERIA EVALUASI
a.       Stuktur ( input )
ü  Pelaksanan sentralisasi obat dilaksanakan diruan paru.
ü  Persiapan dilkukan sebelumnya.
ü  Perawat yang bertugas.
b.      Proses
ü  Pelaksanaan sentralisasi obat dilakukan sesuai dengan ruangan yang telah ditentukan dan pasien yang telah menyetujui infrom concent untuk dilakukan sentralisasi obat.
ü  Pelaksanaan sentrlisasi obat sesuai alur yang ditetapkan.
c.       Hasil
ü  Pasien puas dengan hasil pelaksanaan sentralisasi obat.
ü  Obat dapat diberikan secara tepat dan benar 6T dan 1W.
ü  Perawat mudah mengontrol pemberian obat.
ü   Pendokumentasian pemberian obat dapat dilakukan dengan benar.

2.4.lampiran: petunjuk pengisian

A.    PETUNJUK TEKNIK PENGISIAN FORMAT SURAT PERSETUJUAN SENTRALISASI OBAT
1)      Nama ,umur, jenis kelamin , alamat dpat diisi dengan nama pasien sendiri , anak , istri , orangtua , dll
2)      Nama pasin , umur , jenis kelamin , alamat , no.reg diisi sesuai data pasien yang bersangkutan.
3)      Ruang diisi sesuai tempat pasien dirawat.
4)      Pengisian tanggal sesuai dengan tanggal pelaksanaan infomed consent.
5)      Format ditandatangani oleh perawat yang menerangkan data dan pasien yang menyetujui dilakukan tindakan sentralisasi obat , disertai para sksi-saksi.

B.     PETUNJUK TEKNIS PENGISIAN FORMAT PEMBERIAN OBAT ORAL DAN OBAT SUNTIK
1)      Pengisian nama pasien , no.reg , umur ,ruangan.
2)      Kolom nama obat diisi sesuai dengan obat yang diberikan sesuai dosis dan nama dokter yang merawat.
3)      Kolom tanggal diisi tanggal penerimaan obat , secara vertikal begitu juga pada kolom terima yaitu jumlah obat yang diterima dan frekunsi obat diberikan.
4)      Kolom pemakaian obat diisi sesusi sesuai shif , jam berapa obat diberikan beserta paraf perawat.
5)      Kolom sisa obat diisi oleh perawat pada setiap shif pagi , siang , dan malam , yaitu jumlah obat beserta paraf perwat pada akhir dinas.

C.     PETUNJUK TEKNIS PENGISIAN FORMAT SERAH TERIMA OBAT
1)      Pengisian nama pasien , umur , no.reg ,ruangan.
2)      Kolom tanggal diisi sesuai dengan tanggal serah terima obat.
3)      Kolom nama obat dan jumlah diisi sesuai dengan nama obat dan jumlah yang diterima
4)      Kolom tanda tangan / nama tarang yang menyerahkan diisi oleh keluarga / pasien atau perawat pada sasat pasien pulang.
5)      Kolom tandatangan / nama terang yang diserahkan diisi oleh perawat atau keluarga yang menerima.
6)      Kolom keterangan diisi bila ada hal-hal yang berkaitan dengan serah terima obat.
      

Lampiran: surat persetujuan sentralisasi obat
SURAT PERSETUJUAN DILAKUKAN SENTRALISASI OBAT

Yang bertanda tangan di bawah ini
Nama              :
Umur              :
Jenis kelamin :
Alamat                        :
Untuk             : ( ) diri sendiri                       ( ) istri             ( ) suami
                           ( ) anak                    ( ) orang tua   ( ) lainnya
Nama pasien  :
Umur              :
Jenis kelamin :
Alamat                        :
Ruang             :
No reg             :

Menyatakan (setuju/tidak setuju) untuk dilakukan sentralisasi obat, setelah mendapat penjelasan tentang sentralisasi obat, yaitu pengaturan pemakaian obat yang diatur atau dikoordinasikan oleh perawat sesuai ketentuan dosis yang di berikan dokter
Sentralisasi dengan prosedur sebagai berikut:
Ø  Pasien atau keluarga mengisi surat persetujuan untuk kerja sama dalam pengelolaan sentralisasi obat
Ø  Setiap ada resep dari dokter di serahkan dahulu kepada perawat yang bertugas saat itu
Ø  Obat dari apotek diserahkan pada perawat
Ø  Nama obat, dosis, jumlah yang diterima akan di catat dalam buku serah terima dan di tandatangani oleh keluarga atau pasien dan perawat yang menerima
Ø  Obat akan di simpan di kantor perawatan
Ø  Setiap hari perawat membagi obat sesuai dosis
Ø  Bila pasien pulang dan obat masih ada atau belum habis sisa obat akan diberikan pada pasien atau keluarga

Dengan demikian, menyatakan bertanggung jawab atas pernyataan yang di buat dan tidak akan melakukan penututan atau gugatan dikemudian hari atas tindakan tersebut.
Demikian persetujuan ini di buat dengan sebenar-benarnya untuk digunakan sebagai mana mestinya.
Surabaya…………………..2010
Perawat yang menerangkan                                                                        yang menyetujui
(……………………………………….)                                                         (…………………………………………)
Saksi 1:…………….......(…………………………..)
Saksi 2:…………………..(…………………………….)
NB: harap di isi dengan nama jelas dan tanda tangan *)



LAMPIRAN FORMAT SERAH TERIMA OBAT
Nama pasien    :                                                                       ruangan           :
Umur               :                                                                       no reg              :
tgl
No
Nama obat
dosis
Keterangan
(terima/serahkan)
Tanda tangan/ nama terang yang diserahkan
keterangan







DAFTAR PUSTAKA
WHO. 1999. Managament pelayanan keperawatan primer  edisi 2. Jakarta: EGC
Nursalam. 2007. Managament Keperawatan Amplikasi dalam praktek keperawatan Profesional Ed 2. Jakarta: Salemba Medika
Nursalam. 2002. Managament keperawatan Ed 1. Jakarta : Salemba Medika
Nursalam. 2008. Managament Keperawatan Ed 2. Jakarta : Salemba Medika
WHO. 1996. Managament pelayanan kesehatan primer Ed 2.

Supervisi


1. Supervisi

1.1. Pengertian Supervisi
Sebagai salah satu dari fungsi manajemen, pengertian supervisi telah berkembang secara khusus. Secara umum yang dimaksud dengan supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya (Azwar, 1996).
Muninjaya (1999) menyatakan bahwa supervisi adalah salah satu bagian proses atau kegiatan dari fungsi pengawasan dan pengendalian (controlling). Swanburg (1990) melihat dimensi supervisi sebagai suatu proses kemudahan sumber-sumber yang diperlukan untuk penyelesaian suatu tugas ataupun sekumpulan kegiatan pengambilan keputusan yang berkaitan erat dengan perencanaan dan pengorganisasian kegiatan dan informasi dari kepemimpinan dan pengevaluasian setiap kinerja karyawan. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan supervisi adalah kegiatan-kegiatan yang terencana seorang manajer melalui aktifitas bimbingan, pengarahan, observasi, motivasi dan evaluasi pada stafnya dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehari-hari (Arwani, 2006).

1.2. Manfaat dan Tujuan Supervisi

Apabila supervisi dapat dilakukan dengan baik, akan diperoleh banyak manfaat. Manfaat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut (Suarli & Bachtiar, 2009) :
1) Supervisi dapat meningkatkan efektifitas kerja. Peningkatan efektifitas kerja ini erat hubungannya dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan bawahan, serta makin terbinanya hubungan dan suasana kerja yang lebih harmonis antara atasan dan bawahan.
2) Supervisi dapat lebih meningkatkan efesiensi kerja. Peningkatan efesiensi kerja ini erat kaitannya dengan makin berkurangnya kesalahan yang dilakukan bawahan, sehingga pemakaian sumber daya (tenaga, harta dan sarana) yang sia-sia akan dapat dicegah.

Apabila kedua peningkatan ini dapat diwujudkan, sama artinya dengan telah tercapainya tujuan suatu organisasi. Tujuan pokok dari supervisi ialah menjamin pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah direncanakan secara benar dan tepat, dalam arti lebih efektif dan efesien, sehingga tujuan yang telah ditetapkan organisasi dapat dicapai dengan memuaskan (Suarli & Bachtiar, 2008).

1.3. Frekuensi Pelaksanaan Supervisi

Supervisi harus dilakukan dengan frekuensi yang berkala. Supervisi yang dilakukan hanya sekali bisa dikatakan bukan supervisi yang baik, karena organisasi/lingkungan selalu berkembang. Oleh sebab itu agar organisasi selalu
dapat mengikuti berbagai perkembangan dan perubahan, perlu dilakukan berbagai penyesuaian. Supervisi dapat membantu penyesuaian tersebut yaitu melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan bawahan.
Tidak ada pedoman yang pasti mengenai berapa kali supervisi harus dilakukan. Yang digunakan sebagai pegangan umum, supervisi biasanya bergantung dari derajat kesulitan pekerjaan yang dilakukan, serta sifat penyesuaian yang akan dilakukan. Jika derajat kesulitannya tinggi serta sifat penyesuaiannya mendasar, maka supervisi harus lebih sering dilakukan.

1.4. Prinsip-prinsip Pokok dalam Supervisi

Kegiatan supervisi mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang kondusif dan nyaman yang mencakup lingkungan fisik, atmosfer kerja, dan jumlah sumber sumber yang dibutuhkan untuk memudahkan pelaksanaan tugas. Untuk itu diperlukan beberapa prinsip pokok pelaksanaan supervisi. Prinsip pokok supervisi secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut (Suarli dan Bahtiar, 2009):
1) Tujuan utama supervisi ialah untuk lebih meningkatakan kinerja bawahan, bukan untuk mencari kesalahan. Peningkatan kinerja ini dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung terhadap pekerjaan bawahan, untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan untuk mengatasinya.
2) Sejalan dengan tujuan utama yang ingin dicapai, sifat supervisi harus edukatif dan suportif, bukan otoriter.

3) Supervisi harus dilakukan secara teratur atau berkala. Supervisi yang hanya dilakukan sekali bukan supervisi yang baik.
4) Supervisi harus dapat dilaksanakan sedemikan rupa sehingga terjalin kerja sama yang baik antara atasan dan bawahan, terutama pada saat proses penyelesaian masalah, dan untuk lebih mengutamakan kepentingan bawahan.
5) Strategi dan tata cara supervisi yang akan dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan masing-masing bawahan secara individu. Penerapan strategi dan tata cara yang sama untuk semua kategori bawahan, bukan merupakan supervisi yang baik.
6) Supervisi harus dilaksanakan secara fleksibel dan selalu disesuaikan dengan perkembangan.

1.5. Pelaksana Supervisi

Menurut Bactiar dan Suarly, (2009) yang bertanggung jawab dalam melaksanakan supervisi adalah atasan yang memiliki kelebihan dalam organisasi. Idealnya kelebihan tersebut tidak hanya aspek status dan kedudukan, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan. Berdasarkan hal tersebut serta prinsip-prinsip pokok supervisi maka untuk dapat melaksanakan supervisi dengan baik ada beberapa syarat atau karasteristik yang harus dimilki oleh pelaksana supervisi (supervisor). Karasteristik yang dimaksud adalah:

1) Sebaiknya pelaksana supervisi adalah atasan langsung dari yang disupervisi. Atau apabila hal ini tidak mungkin, dapat ditunjuk staf khusus dengan batas-batas wewenang dan tanggung jawab yang jelas.
2) Pelaksana supervisi harus memilki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk jenis pekerjaan yang akan disupervisi.
3) Pelaksana supervisi harus memiliki keterampilam melakukan supervisi artinya memahami prinsip-prinsip pokok serta tehnik supervisi.
4) Pelaksana supervisi harus memilki sifat edukatif dan suportif, bukan otoriter.
5) Pelaksana supervisi harus mempunyai waktu yang cukup, sabar dan selalu berupaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku bawahan yang disupervisi.

1.6. Teknik Supervisi

Tehnik pokok supervisi pada dasarnya identik dengan tehnik penyelesaian masalah. Bedanya pada supervisi tehnik pengumpulan data untuk menyelesaikan masalah dan penyebab masalah menggunakan tehnik pengamatan langsung oleh pelaksana supervisi terhadap sasaran supervisi, serta pelaksanaan jalan keluar. Dalam mengatasi masalah tindakan dapat dilakukan oleh pelaksana supervisi, bersama-sama dengan sasaran supervisi secara langsung di tempat . Dengan perbedaan seperti ini, jelaslah bahwa untuk dapat melaksanakan supervisi yang baik ada dua hal yang perlu diperhatikan (Bachtiar dan Suarli, 2009):

1. Pengamatan langsung

Pengamatan langsung harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan.
a. Sasaran pengamatan. Pengamatan langsung yang tidak jelas sasarannya dapat menimbulkan kebingungan, karena pelaksana supervisi dapat terperangkap pada sesuatu yang bersifat detail. Untuk mencegah keadaan yang seperti ini, maka pada pengamatan langsung perlu ditetapkan sasaran pengamatan, yakni hanya ditujukan pada sesuatu yang bersifat pokok dan strategis saja (selective supervision).
b. Objektivitas pengamatan. Pengamatan langsung yang tidak terstandardisasi dapat menggangu objektivitas. Untuk mencegah keadaan yang seperti ini, maka pengamatan langsung perlu dibantu dengan dengan suatu daftar isi yang telah dipersiapkan. Daftar tersebut dipersiapkan untuk setiap pengamatan secara lengkap dan apa adanya.
c. Pendekatan pengamatan. Pengamatan langsung sering menimbulkan berbagai dampak dan kesan negatif, misalnya rasa takut dan tidak senang, atau kesan menggangagu kelancaran pekerjaan. Untuk mengecek keadaan ini pengamatan langsung harus dilakukan sedemikian rupa sehingga berbagai dampak atau kesan negatif tersebut tidak sampai muncul. Sangat dianjurkan pengamatan tersebut dapat dilakukan secara edukatif dan suportif, bukan menunjukkan kekuasaan atau otoritas.

2. Kerja sama

Agar komunonikasi yang baik dan rasa memiliki ini dapat muncul, pelaksana supervisi dan yang disupervisi perlu bekerja sama dalam penyelesaian masalah, sehingga prinsip-prinsip kerja sama kelompok dapat diterapkan. Masalah, penyebab masalah serta upaya alternatif penyelesaian masalah harus dibahas secara bersama-sama. Kemudian upaya penyelesaian masalah tersebut dilaksanakan secara bersama-sama pula.
2. Supervisi Keperawatan

Dalam bidang keperawatan supervisi mempunyai pengertian yang sangat luas, yaitu meliputi segala bantuan dari pemimpin/penanggung jawab kepada perawat yang ditujukan untuk perkembangan para perawat dan staf lainnya dalam mencapai tujuan asuhan keperawatan kegiatan supervisi semacam ini merupakan dorongan bimbingan dan kesempatan bagi pertumbuhan dan perkembangan keahlian dan kecakapan para perawat (Suyanto, 2008). Supervisi terhadap kinerja perawat pelaksana dalam pendokumentasian asuhan keperawatan dapat dilakukan dengan memberikan bimbingan, pengarahan, observasi dan pemberian motivasi serta evaluasi terhadap pendokumentasian tiap-tiap tahap proses keperawatan. Kelengkapan dan kesesuaian dengan standar merupakan variabel yang harus disupervisi (wiyana, 2008).

2.1. Pelaksana Supervisi Keperawatan

Materi supervisi atau pengawasan disesuaikan dengan uraian tugas dari masing-masing staf perawat pelaksana yang disupervisi terkait dengan kemampuan asuhan keperawatan yang dilaksanakan. Supervisi keperawatan dilaksanakan oleh personil atau bagian yang bertangguung jawab antara lain (Suyanto,2008):
1) Kepala ruangan

Bertanggung jawab untuk melakukan supervisi pelayanan keperawatan yang diberikan pada pasien di ruang perawatan yang dipimpinnya. Kepala ruangan mengawasi perawat pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan baik secara langsung maupun tidak langsung disesuaikan dengan metode penugasan yang diterapkan di ruang perawatan tersebut. Sebagai contoh ruang perawatan yang menerapkan metode TIM, maka kepala ruangan dapat melakukan supervisi secara tidak langsung melalui ketua tim masing-masing (Suarli dan Bahtiar , 2009).
2) Pengawas perawatan (supervisor)

Ruang perawatan dan unit pelayanan yang berada di bawah unit pelaksana fungisional (UPF) mempunyai pengawas yang bertanggung jawab mengawasi jalannya pelayanan keperawatan.
3) Kepala bidang keperawatan

Sebagai top manager dalam keperawatan, kepala bidang keperawatan, kepala bidang keperawatan bertanggung jawab melakukan supervisi baik secara langsung atau tidak langsung melalui para pengawas keperawatan.

Mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang aman dan nyaman, efektif dan efesien. Oleh karena itu tugas dari seorang supervisor adalah mengorientasikan staf dan pelaksana keperawatan terutama pegawai baru, melatih staf dan pelaksana staf keperawatan, memberikan pengarahan dalam pelaksanaan tugas agar menyadari, mengerti terhadap peran, fungsi sebagai staf dan pelaksana asuhan keperawatan, memberikan pelayanan bimbingan pada pelaksana keperawatan dalam memberikan asuahan keperawatan.
2.2. Sasaran Supervisi Keperawatan

Setiap sasaran dan target dilaksanakan sesuai dengan pola yang disepakati berdasarkan struktur dan hirearki tugas. Sasaran atau objek dari supervisi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan, serta bawahan yang melakukan pekerjaan. Jika supervisi mempunyai sasaran berupa pekerjaan yang dilakukan, maka disebut supervisi langsung, sedangkan jika sasaran berupa bawahan yang melakukan pekerjaan disebut supervisi tidak langsung. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kinerja pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan (Suarli dan Bachtiar, 2009)
Sasaran yang harus dicapai dalam pelaksanaan supervisi antara lain: pelaksanaan tugas keperawatan, penggunaan alat yang efektif dan ekonomis, system dan prosedur yang tidak menyimpang, pembagian tugas dan wewenang, penyimpangan/penyeleengan kekuasaan, kedudukan dan keuangan (Suyanto, 2008).

2.3. Kompetensi Supervisor Keperawatan

Tanggung jawab utama seorang supervisor adalah mencapai hasil sebaik mungkin dengan mengkoordinasikan system kerjanya. Para supervisor mengkoordinasikan pekerjaan karyawan dengan mengarahkan, melancarkan, membimbingan, memotivasi, dan mengendalikan (Dharma, 2003). Seorang keperawatan dalam menjalankan tugasnya sehari-hari harus memiliki kemampuan dalam (Suyanto, 2008):
a. Memberikan pengarahan dan petunjuk yang jelas, sehingga dapat dimengerti oleh staf dan pelaksana keperawatan.
b. Memberikan saran, nasehat dan bantuan kepada staf dan pelaksanan keperawatan.
c. Memberikan motivasi untuk meningkatkan semangat kerja kepada staf dan pelaksanan keperawatan.
d. Mampu memahami proses kelompok (dinamika kelompok).
e. Memberikan latihan dan bimbingan yang diperlukan oleh staf dan pelaksana keperawatan.
f. Melakukan penilaian terhadap penampilan kinerja perawat.
g. Mengadakan pengawasan agar asuhan keperawatan yang diberikan lebih baik.

3. Pelaksanaan Supervisi Keperawatan 3.1. Tehnik Supervisi keperawatan

Supervisi keperawatan merupakan suatu proses pemberian sumber-sumber yang dibutuhkan perawat untuk menyelesaiakan tugas dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dengan supervisi memungkinkan seorang manajer keperawatan dapat menemukan berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan asuahan keperawatan di ruang yang bersangkutan melalui analisis secara komprehensif bersama-sama dengan anggota perawat secara efektif dan efesien. Melalui kegiatan supervisi seharusnya kualitas dan mutu pelayanan keperawatan menjadi fokus dan menjadi tujuan utama, bukan malah menyibukkan diri mencari kesalahan atau penyimpangan (Arwani, 2006).
Teknik supervisi dibedakan menjadi dua, supervisi langsung dan tak langsung.
3.1.1. Teknik Supervisi Secara Langsung.

Supervisi yang dilakukan langsung pada kegiatan yang sedang dilaksanakan. Pada waktu supervisi diharapkan supervisor terlibat dalam kegiatan agar pengarahan dan pemberian petunjuk tidak dirasakan sebagai perintah Bittel, 1987 (dalam Wiyana, 2008). Cara memberikan supervisi efektif adalah :1) pengarahan harus lengkap dan mudah dipahami; 2) menggunakan kata-kata yang tepat; 3) berbicara dengan jelas dan lambat; 4) berikan arahan yang logis; 5) Hindari banyak memberikan arahan pada satu waktu; 7) pastikan arahan yang diberikan dapat dipahami; 8) Pastikan

bahwa arahan yang diberikan dilaksanakn atau perlu tindak lanjut Supervisi lansung dilakukan pada saat perawat sedang melaksanakan pengisian formulir dokumentasi asuhan keperawatan. Supervisi dilakukan pada kinerja pendokumentasian dengan mendampingi perawat dalam pengisian setiap komponen dalam proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.
Langkah-langkah yang digunakan dalam supervisi langsung (Wiyana, 2008):
a) Informasikan kepada perawat yang akan disupervisi bahwa pendokumentasiannya akan disupervisi.
b) Lakukan supervisi asuhan keperawatan pada saat perawat melakukan pendokumentasian. Supervisor melihat hasil pendokumentasian secara langsung dihadapan perawat yang mendokumentasikan.
c) Supervisor menilai setiap dokumentasi sesuai standar dengan asuhan keperawatan pakai yaitu menggunakan form A Depkes 2005.
d) Supervisor menjelaskan, mengarahkan dan membimbing perawat yang disupervisi komponen pendokumentasian mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi kepada perawat yang sedang menjalankan pencacatan dokumentasi asuhan keperawatan sesuai form A dari Depkes.
e) Mencatat hasil supervisi dan menyimpan dalam dokumen supervisi.

3.1.2. Secara Tidak Langsung.

Supervisi tidak langsung adalah supervisi yang dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan. Perawat supervisor tidak melihat langsung apa yang terjadi di lapangan sehingga memungkinkan terjadinya kesenjangan fakta. Umpan balik dapat diberikan secara tertulis (Bittel, 1987) dalam Wiyana, 2008.
Langkah-langkah Supervisi tak langsung.
a) Lakukan supervisi secara tak langsung dengan melihat hasil dokumentasi pada buku rekam medik perawat.
b) Pilih salah satu dokumen asuhan keperawatan.
c) Periksa kelengkapan dokumentasi sesuai dengan standar dokumentasi asuhan keperawatan yang ditetapkan rumah sakit yaitu form A dari Depkes.
d) Memberikan penilaian atas dokumentasi yang di supervisi dengan memberikan tanda bila ada yang masih kurang dan berikan cacatan tertulis pada perawat yang mendokumentasikan.
e) Memberikan catatan pada lembar dokumentasi yang tidak lengkap atau sesuai standar.

3.2. Prinsip Supervisi Keperawatan

Agar seorang manajer keperawatan mampu melakukan kegiatan supervisi secara benar, harus mengetahui dasar dan prinsip-prinsip supervisi. Prinsip-prinsip tersebut harus memenuhi syarat antara lain didasarkan atas hubungan

professional dan bukan hubungan pribadi, kegiatan harus direncanakan secara matang, bersifat edukatif, memberikan perasaan aman pada perawat pelaksana dan harus mampu membentuk suasana kerja yang demokratis. Prinsip lain yang harus dipenuhi dalam kegiatan supervisi adalah harus dilakukan secara objektif dan mampu memacu terjadinya penilaian diri (self evaluation), bersifat progresif, inovatif, fleksibel, dapat mengembangkan potensi atau kelebihan masing-masing orang yang terlibat, bersifat kreatif dan konstruktif dalam mengembangkan diri disesuaikan dengan kebutuhan, dan supervisi harus dapat meningkatkan kinerja bawahan dalam upaya meningkatkan kualitas asuhan keperawatan ( Arwani, 2006).
Ada beberapa prinsip supervisi yang dilakukan di bidang keperawatan (Nursallam, 2007) antara lain: 1) Supervisi dilakukan sesuai dengan struktur organisasi, 2) Supervisi menggunakan pengetahuan dasar manajemen, keterampilan hubungan antar manusia dan kemempuan menerapkan prinsip manajemen dan kepemimpinan, 3) Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas, terorganisasi dan dinyatakan melalui petunjuk, peraturan urian tugas dan standard, 4) Supervisi merupakan proses kerja sama yang demokratis antara supervisor dan perawat pelaksana. 5) Supervisi merupakan visi, misi, falsafah, tujuan dan rencana yang spesifik, 6) Supervisi menciptakan lingkungan yang kondusif, komunikasi efektif, kreatifitas dan motivasi, 7) Supervisi mempunyai tujuan yang berhasil dan berdaya guna dalam pelayanan keperawatan yang memberi kepuasan klien, perawat dan manajer.

3.3. Kegiatan Rutin Supervisor

Untuk dapat mengkoordinasikan system kerja secara efektif, para supervisor harus melakukan dua jenis kegiatan, yaitu kegiatan tugas dan kegiatan supervisi. Kegiatan tugas adalah kegiatan yang melibatkan supervisor dalam pelaksanaan lansung suatu pekerjaan. Kegiatan supervisi adalah kegiatan yang mengkoodinasikan pekerjaan yang dilkukan orang lain. Supervisor yang efektif menekankan kegiatan supervisi (Dharma, 2003). Kegiatan dalam supervisi adalah sebagai berikut (Wiyana, 2008) :
3.3.1. Persiapan.

Kegiatan Kepala Ruangan (supervisor) meliputi: 1) Menyusun jadwal supervisi, 2) Menyiapkan materi supervisi (format supervisi, pedoman pen dokumentasian). 3) Mensosialisasikan rencana supervisi kepada perawat pelaksana
3.3.2. Pelaksanaan supervisi.

Kegiatan kepala ruangan (supervisor) pada tahap pelaksanaan supervisi meliputi : 1) Mengucapkan salam pada perawat yang disupervisi, 2) Membuat kontrak waktu supervisi pendokumentasian dilaksanakan. 3) Bersama perawat mengidentifikasi kelengkapan pendokumentasian untuk masing-masing tahap, 4) Mendiskusikan pencapaian yang telah diperoleh perawat dalam pedokumentasian asuhan keperawatan, 4) Mendiskusikan pencapaian yang harus ditingkatkan pada masing-masing tahap, 5) Memberikan bimbingan / arahan pendokumentasian asuhan keperawatan, 6) Mencatat hasil supervisi.

3.3.3. Evaluasi.

Kegiatan kepala ruangan (supervisor) pada tahap evaluasi meliputi: 1) Menilai respon perawat terhadap pendokumentasian yang baru saja di arahkan, 2) Memberikan reinforcement pada perawat, 3) Menyampaikan rencana tindak lanjut supervisi
3.4. Model-model Supervisi Keperawatan

Selain cara supervisi yang telah diuraikan, beberapa model supervisi dapat diterapkan dalam kegiatan supervisi antara lain (Suyanto, 2008):
3.4.1 Model konvensional

Model supervisi dilakukan melalui inspeksi langsung untuk menemukan masalah dan kesalahan dalam pemberian asuahan keperawatan. Supervisi dilakukan untuk mengoreksi kesalahan dan memata-matai staf dalam mengerjakan tugas. Model ini sering tidak adil karena hanya melihat sisi negatif dari pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan para perawat pelaksana sehingga sulit terungkap sisi positif, hal-hal yang baik ataupun keberhasilan yang telah dilakukan
3.4.2 Model ilmiah

Supervisi dilakukan dengan pendekatan yang sudah direncanakan sehingga tidak hanya mencari kealahan atau masalah saja. Oleh karena itu supervisi yang dilakukan dengan model ini memilki karasteristik sebagai berikut yaitu, dilakukan secara berkesinambungan, dilakukan dengan prosedur, 
instrument dan standar supervisi yang baku, menggunakan data yang objektif sehingga dapat diberikan umpan balik dan bimbingan.
3.4.3 Model klinis

Supervisi model klinis bertujuan untuk membantu perawat pelaksana dalam mengembangkan profesionalisme sehingga penampilan dan kinerjanya dalam pemberian asuahn keperawatan meningkat. Supervisi dilakukan secara sistematis melalui pengamatan pelayanan keperawatan yang diberikan oleh seorang perawat selanjutnya dibandingkan dengan standar keperawatan.
3.4.4 Model artistic

Supervisi model artistic dilakukan dengan pendekatan personal untuk menciptakan rasa aman sehingga supervisor dapat diterima oleh perawat pelaksana yang disupervisi. Dengan demikian akan tercipta hubungan saling percaya sehingga hubungna antara perawat dan supervisor akan terbuka dam mempermudah proses supervisi.
4. KINERJA 4.1 Defenisi Kinerja

Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan karyawan. Kinerja karyawan adalah yang mempengaruhi seberapa banyak pekerja memberi kontribusi kepada perusahaan yang antara lain termasuk kuantitas, output, kualitas output, kehadiran di tempat kerja dan sikap kooperatif (Mathis & Jackson, 2002). Menurut Prawirosentono, (1999) bahwa kinerja merupakan hasil karya yang dapat dicapai seseorang atau kelompok

dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing untuk mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral dan etika.
4.2 Sistem Penilaian Kinerja

Setiap pimpinan harus dapat melakukan penilaian objektif terhadap kinerja karyawan sehingga perlu dikembangkan instrument penilaian kinerja. Penilaian kinerja dalam organisasi adalah proses organisasi mengevaluasi hasil kerja atau prestasi kerja para pemegang jabatan. Ada beberapa alasan dan pertimbangan mengapa kinerja harus dinilai yaitu: 1) penilaian kinerja memberikan informasi bagi pertimbangan pemberian promosi dan penetapan gaji; 2) Penilaian kinerja memberikan umpan balik bagi para manajer maupun karyawan untuk elkukan instrospeksi dan meninjau kembali perilakuk selama ini, baik yang positif maupun yang negatif untuk kemudian dirumuskan kembali sebagai perilaku yang mendukung tumbuh kembangnya budaya organisasi secara keseluruhan; 3) Penilaian kinerja diperlukan untuk pertimbangan pelatiahan dan pelatiahn kembali (retraining) serta pengembangan (Soeroso, 2003).
Nicholls (2000) menggambarkan dampak negatif penilaian kinerja sebagai efek sisipus. Ada beberapa efek negatif yang ditimbulkan penilaian kinerja diantaranya:

1. Penurunan tingkat produktivitas yang biasanya terjadi dalam waktu penurunan 1-6 bulan pertama setelah evaluasi kinerja dilakukan. Penurunan tingkat produktivitas dalam skala besar dapat menimbulkan kerugian yang bermakna.
2. Penurunan kinerja jangka panjang terjadi apabila standard kinerja yang dibuat hanya yang realistis dan mudah dicapai sehinnga dalam jangka panjang yang terjadi justru kemerosotan kinerja.
3. Setiap penilaian menimbulkan dampak emosional seperti stress, depresi, kegelisahan dan lain-lain.
4. Apabila sistem penilaian dianggap tidak adil, dapat merusak moral dan motivasi.
5. Hanya menekankan pada kinerja individu dan bukan kinerja tim.
6. Mendorong pandangan jangka pendek dan berfokus pada kinerja jangka pendek. Hal ini terjadi apabila penilaian kinerja yang dilakukan adalah untuk kinerja jangka pendek sehingga karyawan kurang mementingkan kinerja jangka panjang.
7. Melembagakan budaya dan gaya kepemimpinan paternalistik. Hal ini kuarang menguntungkan terutama apabila system manajemen kinerja justru digunakan untuk mempertahankan status quo.
8. Hasil penilaian kinerja dapat menjadi hukuman seumur hidup.
9. Biaya penerapan system manajemen kinerja cukup mahal

4.3 Kinerja Perawat

Kinerja perawat adalah tindakan yang dilakukan oleh seorang perawat dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya masing-masing, tidak melanggar hukum, aturan serta sesuai moral dan etika, dimana kinerja yang baik dapat memberikan kepuasan pada pengguna jasa. Untuk aktifitas seorang perawat adalah mengumpulkan data kesehatan mengenai pasien, membuat diagnosis menurut ilmu keperawatan, menetapkan tujuan keperawatan, melaksanakan keperawatan, serta evaluasi terhadap perawatan. Selain aktivitas perawat tersebut terkait dengan kinerja perawat dapat dilihat dari pelayanan kesehatan yang diberikan perawat kepada pasiennya (Tanjary, 2009).
Indikator kinerja perawat adalah variabel untuk mengukur prestasi suatu pelaksanaan kegiatan dalam waku tertentu. Indikator yang berfokus pada hasil asuhan keperawatan kepada pasien dan proses pelayanannya disebut indikator kinerja (Prajawanto,2009). Kinerja perawat dapat dilihat sesuai dengan peran fungsi perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan.
4.4 Faktor yang mempengaruhi kinerja perawat

Menurut Asa’ad (2000) dalam Tanjary, 2009 faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja perawat adalah karakteristik, motivasi, kemampuan, keterampilan, persepsi, sikap serta lingkungan kerja. Adapun yang termasuk dalam karakteristik perawat meliputi umur, pendidikan, tingkat pengetahuan, masa kerja, serta status. Umur berpengaruh terhadap kinerja perawat karena

semakin berumur seorang perawat memiliki tanggung jawab moral dan loyal terhadap pekerjaan serta lebih terampil karena lama bekerja menjadi perawat.
Pendidikan perawat berpengaruh terhadap kinerja perawat karena semakin tinggi pendidikan yang ditempuh semakin banyak ilmu pengetahuan serta ketrampilan yang dimiliki oleh perawat sehingga akan dapat membantu dalam meningkatkan kinerjanya (Tanjary, 2009). Perawat pelaksana yang berpendidikan D3 keperawatan memiliki kinerja yang lebih baik daripada perawat pelaksana berpendidikan SPK (Sekolah Pendidikan Kesehatan).
Tingkat pengetahuan seorang perawat berpengaruh terhadap kinerja karena semakin tinggi tingkat pengetahuan yang diperoleh perawat akan dapat membantu perawat dalam menyelesaikan pekerjaannya sehingga dapat meningkatkan kinerjanya. Masa kerja berpengaruh terhadap kinerja perawat karena semakin lama masa kerja seorang perawat semakin banyak pengalaman yang diperolehnya dalam menyelesaikan pekerjaannya sehingga dapat meningkatkan kinerjanya. Status pekerjaan berpengaruh terhadap kinerja perawat karena semakin tinggi jabatan yang diembannya maka semakin tinggi motivasi dalam pekerjaannya sehingga akan dapat meningkatkan kinerja perawat (Tanjary,2009).
Motivasi juga mempengaruhi kinerja seseorang. Motivasi seseorang akan timbul apabila mereka diberi kesempatan untuk mencoba cara baru dan mendapat umpan balik dari hasil yang diberikan. Oleh karena itu penghargaan psikis dalam hal ini sangat diperlukan agar seseorang merasa dihargai dan

diperhatikan serta dibimbing manakala melakukan suatu kesalahan (Bactiar & Suarly, 2009).
4.5 Penilaian Kinerja Perawat

Penilaian kinerja merupakan suatu komponen dari system manajemen kinerja yang digunakan organisasi untuk memotivasi pekerja. Tujuan utama penilaian kinerja adalah untuk memperbaiki kinerja. Penilaian kinerja perawat adalah pengukuran efesiensi, kompetensi dan efektifitas proses keperawatan dan aktivitas yang digunakan oleh perawat dalam merawat klien guna untuk mempertahankan, memperbaiki dan memotivasi perawat (Huber, 2000).
Penilaian kinerja merupakan alat yang paling dapat dipercaya oleh manajer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan produktivitas. Proses penilaian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi.perawat manajer dapat menggunakan proses aprasial kinerja untuk mengatur arah kerja dalam memilih, melatih, bimbingan perencanaan karir, serta pemberian penghargaan kepada perawat yang berkompeten (Nursalam, 2002).
Ada beberapa manfaat dari penilaian kerja tersebut, dapat dijabarkan menjadi 6 yaitu (Nursallam, 2002):
a. Meningkatkan prestasi kerja staf baik secara individu atau kelompok dengan memberikan kesempatan pada mereka untuk memenuhi

kebutuhan aktualisasi di dalam kerangka pencapaian tujuan pelayanan RS.
b. Peningkatan yang terjadi pada prestasi staf secara perorangan pada gilirannya akan mempengaruhi atau mendorong SDM secara keseluruhannya.
c. Merangsang minat dalam pengembangan pribadi dengan tujuan meningkatkan hasil karya dan prestasi dengan cara memberikan umpan balik kepada mereka tentang prestasinya.
d. Membantu RS untuk dapat menyusun program pengembangan dan pelatihan staf yang lebih tepat guna. Sehingga RS akan mempunyai tenaga yang cakap dan tampil untuk pengembangan pelayanan perawatan dimasa depan.
e. Menyediakan alat dan sarana untuk membandingkan prestasi kerja meningkastkan gajinya atu system imbalan yang baik.
f. Memberikan kesempatan kepada pegawai atau staf untuk mengeluarkan perasaannya tentang pekerjaannya atau hal lain yang ada kaitannya melalui jalur komunikasi dan dialog, sehingga dapat mempererat hubungan antara atasan dan bawahan.

Dengan manfaat diatas maka dapat diidentifikasi siapa saja staf yang mempunyai potensi untuk dikembangkan karirnya dapat dicalonkan untuk menduduki jabatan serta tanggung jawab yang lebih besar pada masa yang akan datang atau mendapatkan imbalan yang lebih baik. Sedangkan karyawan yang terhambat disebabkan karena kemauannya serta motivasi dan sikap yang

kurang baik maka perlu dilakukan pembinaan yang berupa teguran atau konseling oleh atasannya langsung (Nursalam, 2002).
4.6 Cara Penilaian Kinerja Perawat

Dalam hal peningkatan tenaga keperawatan, Carpetino 1999 (dalam Nursalam, 2002) mengemukakan bahwa perkembangan pelayanan keperawatan saat ini telah melahirkan paradigma keperawatan yang menuntut adanya pelayanan keperawatan yang bermutu. Hal ini dapat dilihat dari adanya dua fenomena sistem pelayanan keperawatan yakni perubahan sifat pelayanan dari fokasional menjadi profesional dan terjadinya pergeseran fokus pelayanan asuhan keperawatan. Fokus asuhan keperawatan berubah dari peran kuratif dan promotif menjadi peran promotif, pereventif, kuratif dan rehabilitatif.
Untuk menilai atau mengukur kualitas pelayanan keperawatan kepada klien digunakan standar praktik keperawatan yang merupakan pedoman bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Standar keperawatan dapat digunakan sebagai instrumen penilaian kerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, implementasi keperawatan sampai evaluasi keperawatan (Nursallam, 2002).
A. Standar I: Pengkajian Keperawatan

Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat dan berkesinambungan. Kriteria pengkajian keperawatan meliputi:

1) Pengimpulan data dilakukan dengan cara anamnesa, observasi, pemeriksaan fisisk serta dari pemeriksaan penunjang.
2) Sumber data adalah klien, keluarga atau orang yang terkait, tim kesehatan rekam medis dan catatan lain.
3) Data yang dikumpulkan difokuskan untuk mengidentifikasi status kesehatan klien masa lalu, status kesehatan klien saat ini, status biologis- psikologis-sosial-spiritual, respon terhadap terapi, harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal, resiko-resiko tinggi.
B. Standar II: Diagnosis Keperawatan

Perawat menganalisa data pengkajian untuk merumuskan diagnosa keperawatan. Adapun kriteria dalam proses ini adalah:
1) Proses diagnosa terdiri dari analisa, interpretasi data, identifikasi masalah klien, dan perumusan diagnosa masalah keperawatan.
2) Diagnosa keperawatan terdiri dari: masalah (p), penyebab (E), dan tanda atau gejala (S), atau terdiri dari masalh dan penyebab (PE).
3) Bekerja dengan klien, dan petugas kesehatan lain untuk memvalidasi diagnosa keperawatan.
4) Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa berdasarkan data terbaru.
C. Standar III: Perencanaan Keperawatan

Perawat membuat rencana tindakan untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan klien. Kriteria prosesnya meliputi

1) Perncanaan terdiri dari penetapan prioritas masalah, tujuan dan rencana tindakan perawatan.
2) Bekerja sama dengan klien dalam menyusun rencana tindakan keperawatan.
3) Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi atau kebutuhan klien.
4) Mendokumentasikan rencana keperawatan
D. Standar IV : Implementasi keperawatan

Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi dalam rencana asuahan keperawatan. Kriteria dalam proses ini meliputi:
1) Bekerja sama dengan klien dalam tindakan rencana keperawatan.
2) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
3) Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi kesehatan klien.
4) Memberikan pendidikan kepada klien dan keluarga mengenai konsep, keterampilan asuahan diri serat membantu klien memodifikasi lingkungan yang digunakan.
5) Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawtan berdasarkan respon klien
E. Standar V : Evaluasi Keperawatan

Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan keperawatan dalam pencapaian tujuan dan merevisi data dasar dan perencanaan. Adapun kriteria prosesnya adalah:

1) Menyusun rencana evaluasi dari intervensi secara komprehensif, tepat waktu dan terus menerus.
2) Menggunakan data dasar dan respon klien dalam mengukur perkembanagn ke arah pencapaian tujuan.
3) Memvalidasi dan menganalisis data baru dengan teman sejawat.
4) Bekerja sama dengan klien dan keluarga untuk memodifikasi rencana asuahan keperawatan.
5) Mendokumentasikan hasil evaluasi dan memodifikasi hasil perencanaan.

Standard tersebut adalah pernyataan deskriptif mengenai tingkat penampilan yang diinginkan ada kulaitas struktur, proses atau hasil yang dapat dinilai (Nursallam, 2002). Tujuan pendokumentasikan asuhan keperawatan adalah untuk memudahkan menentukan kualitas perawat, klien, menjamin pendokumentasian kemajuan dan hubungan dengan hasil yang berfokus pada klien dan memudahkan konsistensi antar disiplin dan mengkomunikasikan tujuan tindakan dan kemajuan. Sumber penilaian adalah dokumentasi keperawatan yang merupakan bukti tindakan keperawatan yang sudah dilakukan dan disimpan pada masing-masing status atau pada tempat khusus, sebagai bukti tanggung jawab dan tanggung gugat (Doenges, 2000)











DAFTAR PUSTAKA

Pawlash, George. E. and Oliva, Peter F.Supervision for Today’s Schools 8thedition. Danvers MA : John Wiley & Son Inc, 2008 p 10).

Discharge Planing




BAB 1

PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Discharge Planning adalah suatu proses dimana mulainya pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan kesinambungan perawatan baik dalam proses penyembuhan maupun dalam mempertahankan derajat kesehatannya sampai pasien merasa siap untuk kembali ke lingkungannya. Discharge Planning menunjukkan beberapa proses formal yang melibatkan team atau memiliki tanggung jawab untuk mengatur perpindahan sekelompok orang ke kelompok lainnya (RCP,2001).
Perawat adalah salah satu anggota team Discharge Planner, dan sebagai discharge planner perawat mengkaji setiap pasien dengan mengumpulkan dan menggunakan data yang berhubungan untuk mengidentifikasi masalah aktual dan potensial, menentukan tujuan dengan atau bersama pasien dan keluarga, memberikan tindakan khusus untuk mengajarkan dan mengkaji secara individu dalam mempertahankan atau memulihkan kembali kondisi pasien secara optimal dan mengevaluasi kesinambungan Asuhan Keperawatan. Hal ini merupakan usaha keras perawat demi kepentingan pasien untuk mencegah dan meningkatkan kondisi kesehatan pasien, dan sebagai anggota tim kesehatan, perawat berkolaborasi dengan tim lain untuk merencanakan, melakukan tindakan, berkoordinasi dan memfasilitasi total care dan juga membantu pasien memperoleh tujuan utamanya dalam meningkatkan derajat kesehatannya.
1.2    Rumusan Masalah
Bagaimanakah konsep tentang discharge planning dalam asuhan keperawatan pada pasien ?
1.3    Tujuan
1.3.1        Tujuan umum
Untuk mengetahui konsep tentang discharge planning dalam asuhan keperawatan pada pasien.

1.3.2        Tujuan khusus
1.         Untuk mengetahui pengertian discharge planning
2.         Untuk mengetahui tujuan discharge planning
3.         Untuk mengetahui manfaat discharge planning
4.         Untuk mengetahui prinsip discharge planning
5.         Untuk mengetahui komponen discharge planning
6.         Untuk mengetahui tahap-tahap discharge planning
7.         Untuk mengetahui alur dan mekanisme discharge planning
8.         Untuk mengetahui tindakan kepeawatan pada waktu perencanaan pulang
9.         Untuk mengetahui jenis pemulangan pasien
10.     Untuk mengetahui hal-hal yang perlu diperhatikan dalam discharge planning
1.4    Manfaat
1.4.1        Bagi institusi
Menambah referensi tentang konsep discharge planning dalam Manajemen Keperawatan agar dapat melaksanakan asuhan keperawatan secara konprehensif pada pasien.
1.4.2        Bagi mahasiswa
Menambah pengetahuan tentang konsep discharge planning dalam Manajemen Keperawatan agar dapat melaksanakan asuhan keperawatan secara konprehensif pada pasien.
1.4.3        Bagi masyarakat
Menurunkan jumlah kekambuhan, penurunan kembali ke rumah sakit, dan kunjungan ke ruangan kedaruratan yang tidak perlu kecuali untuk beberapa diagnosa serta dapat kembantu klien untuk memahami kebutuhan setelah perawatan dan biaya pengobatan.



BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Pengertian Discharge Planning
Discharge planning  adalah proses sistematis yang diberikan kepada pasien ketika akan meninggalkan tempat pelayanan kesehatan, baik pulang kerumah maupun akan melakukan perawatan dirumah sakit lain (Taylor)
Kozier (2004) mendefinisikan discharge planning sebagai proses mempersiapkan pasien untuk meninggalkan satu unit pelayanan kepada unit yang  lain didalam atau diluar suatu agen pelayanan kesehatan umum.
Jackson (1994) menyatakan bahwa discharge planning merupakan proses mengidentifikasi kebutuhan pasien dan perencanaannya dituliskan untuk memfasilitasi keberlanjutan suatu pelayanan kesehatan dari suatu lingkungan yang lain.
Rindhianto (2008) mendefinisikn discharge planning sebagai perencanaan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada klien dan keluarganya tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan sehubunagan dengan kondisi penyakitnya.
Discharge planning (perencanaan pulang) merupakan komponen sistem perawatan berkelanjutan, pelayanan yang diperlukan klien secara berkelanjutan dan bantuan untuk perawatan berlanjut pada klien dan membantu keluarga menemukan jalan pemecahan masalah dengan baik, pada saat tepat dan sumber yang tepat dengan harga yang terjangkau (Doenges & Moorhouse, 2000).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa discharge planning adalah komponen sistem perawatan berkelanjutan sebagai perencanaan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya yang dituliskan untuk meninggalkan satu unit pelayanan kepada unit yang  lain didalam atau diluar suatu agen pelayanan kesehatan umum, sehingga pasien dan keluarganya mengetahui tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan sehubunagan dengan kondisi penyakitnya.
3
 
2.2    Tujuan Discharge Planning
Tujuan utama adalah membantu klien dan keluarga untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Discharge planning yang efektif juga menjamin perawatan yang berkelanjutan di saat keadaan yang penuh dengan stress.
Menurut Naylor (1990), tujuan discharge planning adalah meningkatkan kontinuitas perawatan, meningkatkan kualitas perawatan dan memaksimalkan manfaat sumber pelayanan kesehatan. Discharge Planning dapat  mengurangi hari rawatan pasien, mencegah kekambuhan, meningkatkan perkembangan kondisi kesehatan pasien dan menurunkan beban perawatan pada keluarga dapat dilakukan melalui Discharge Planning. Discharge planning ini menempatkan perawat pada posisi yang penting dalam proses pengobatan pasien dan dalam team discharge planner rumah sakit, pengetahuan dan kemampuan perawat dalam proses keperawatan dapat memberikan kontinuitas perawatan melalui proses discharge planning
Menurut Mamon et al (1992), pemberian discharge planning dapat meningkatkan kemajuan pasien, membantu pasien untuk mencapai kualitas hidup optimum sebelum dipulangkan. Beberapa penelitian bahkan menyatakan bahwa discharge planning memberikan efek yang penting dalam menurunkan komplikasi penyakit, pencegahan kekambuhan dan menurunkan angka mortalitas dan morbiditas (Leimnetzer et al,1993: Hester, 1996).
Seorang Discharge Planners bertugas membuat rencana, mengkoordinasikan dan memonitor dan memberikan tindakan dan proses kelanjutan perawatan (Powell,1996).
Perawat dianggap sebagai seseorang yang memiliki kompetensi lebih dan punya keahlian dalam melakukan pengkajian secara akurat, mengelola dan memiliki komunikasi yang baik dan menyadari setiap kondisi dalam masyarakat. (Harper, 1998 ).
2.3    Manfaat Discharge Planning
2.3.1        Bagi Pasien :
1.    Dapat memenuhi kebutuhan pasien
2.    Merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari proses perawatan sebagai bagian yang aktif dan bukan objek yang tidak berdaya
3.    Menyadari haknya untuk dipenuhi segala kebutuhannya
4.    Merasa nyaman untuk kelanjutan perawatannya dan memperoleh support sebelum timbulnya masalah.
5.    Dapat memilih prosedur perawatannya
6.    Mengerti apa yang terjadi pada dirinya dan mengetahui siapa yang dapat dihubunginya
7.    Menurunkan jumlah kekambuhan, penurunan kembali di rumah sakit, dan kunjungan ke ruangan kedaruratan yang tidak perlu kecuali untuk beberapa diagnosa
8.    Membantu klien untuk memahami kebutuhan setelah perawatan dan biaya pengobatan
2.3.2        Bagi Perawat :
1.         Merasakan bahwa keahliannya di terima dan dapat di gunakan
2.         Menerima informasi kunci setiap waktu
3.         Memahami perannya dalam sistem
4.         Dapat mengembangkan ketrampilan dalam prosedur baru
5.         Memiliki kesempatan untuk bekerja dalam setting yang berbeda dan cara yang berbeda
6.         Bekerja dalam suatu sistem dengan efektif
7.         Sebagai bahan pendokumentasian dalam keperawatan
2.4    Prinsip Discharge Planning
1.      Kordinasi (saling berhubungan)
2.      Interdisiplin (saling menjaga, disiplin ilmu,keterampilan sesuai standar keperawatan)
3.      Pengenalan secara dini mungkin (penjelasan tentang apa yang kita informasi)
4.      Perencanaan secara hati-hati
5.      Melibatkan klien dan keluarga dalam memberikan perawatan

Karakteristik indikasi kebutuhan discharge planning
1.      Kurang pengetahuan tentang pengobatan
2.      Isolasi sosial
3.      Diagnosa baru penyakit kronik
4.      Operasi besar
5.      Perpanjangan operasi besar
6.      Orang labil
7.      Penatalaksanaan dirumah secara kompleks
8.      Kesulitan finansial
9.      Ketidakmampuan menggunakan sumber rujukan /fasilitas pelayanan kesehatan
10.  Penyakit  terminal
Prioritas klien yang mendapatkan discharge planning
1.      Umur diatas 70 tahun
2.      Maltipe diagnosis
3.      Resiko kematian yang tinggi
4.      Terbatas mobilitas fisik
5.      Keterbatasan merawat diri sendiri
6.      Penurunan status kognisi/kognitif
7.      Resiko terjadi cedera
8.      Tunawisma
9.      Fakir miskin
10.  Penyakit kronis
11.  Pasien diagnosis baru
12.  Penyalahgunaan zat
13.  Sering keluar masuk emergency
2.5    Komponen Discharge Planning
1.    Jadwal kontrol dan menjelaskan pentingnya melakukan kontrol.
2.    Perawatan di rumah
     Meliputi pemberian  pengajaran  atau pendidikan kesehatan (health education) mengenai : diet, mobilisasi, waktu kontrol dan tempat kontrol. Pemberian  pembelajaran  disesuaikan  dengan tingkat  pemahaman  pasien  dan keluarga. mengenai perawatan selama pasien di rumah nanti.
3.    Obat-obatan yang masih diminum dan jumlahnya
Pada pasien yang akan pulang dijelaskan obat-obatan yang masih diminum, dosis, cara pemberian, dan waktu yang tepat minum obat.
4.    Obat-obatan yang dihentikan
Meskipun ada obat-obatan yang tidak diminum lagi oleh pasien, obat-   obatan tersebut tetap dibawakan ke pasien.
5.    Hasil pemeriksaan
Hasil pemeriksaan luar sebelum MRS dan hasil pemeriksaan selama MRS dibawakan ke pasien waktu pulang
6.    Surat-surat seperti : surat keterangan sakit, surat kontrol dan lain-lain.
2.6    Tahap-tahap Discharge Planning
2.6.1        Pengkajian
Pengkajian mencakup pengumpulan dan pengorganisasian data tentang klien. Ketika melakukan pengkajian kepada klien, keluarga merupakan bagian dari unit perawatan. Klien dan keluarga harus aktif dilibatkan dalam proses discharge agar transisi dari rumah sakit ke rumah dapat efektif. Elemen penting dari pengkajian discharge planning adalah :
1.      Data kesehatan
2.      Data pribadi
3.      Pemberi perawatan
4.      Lingkungan
5.      Keuangan dan pelayanan yang dapat mendukung
2.6.2        Diagnosa
Diagnosa keperawatan didasarkan pada pengkajian discharge planning, dikembangkan untuk mengetahui kebutuhan klien dan keluarga. Keluarga sebagai unit perawatan memberi dampak terhadap anggota keluarga yang membutuhkan perawatan. Keluarga penting untuk menentukan apakah masalah tersebut aktual atau potensial.
2.6.3        Perencanaaan : Hasil yang diharapkan
Menurut Luverne & Barbara (1988), perencanaan pemulangan pasien membutuhkan identifikasi kebutuhan spesifik klien. Kelompok perawat berfokus pada kebutuhan rencana pengajaran yang baik untuk persiapan pulang klien, yang disingkat dengan METHOD, yaitu:
1.      Medication (obat)
Pasien sebaiknya mengetahui obat yang harus dilanjutkan setelah pulang.
2.      Environment (Lingkungan)
Lingkungan tempat klien akan pulang dari rumah sakit sebaiknya aman. Pasien juga sebaiknya memiliki fasilitas pelayanan yang dibutuhkan untuk kontinuitas perawatannya.
3.      Treatrment (pengobatan)
Perawat harus memastikan bahwa pengobatan dapat berlanjut setelah klien pulang, yang dilakukan oleh klien atau anggota keluarga. Jika hal ini tidak memungkinkan, perencanaan harus dibuat sehingga seseorang dapat berkunjung ke rumah untuk memberikan keterampilan perawatan.
4.      Health Teaching (Pengajaran Kesehatan)
Klien yang akan pulang sebaiknya diberitahu bagaimana mempertahankan kesehatan. Termasuk tanda dan gejala yang mengindikasikan kebutuhan pearwatan kesehatan tambahan.
5.      Outpatient referral
Klien sebaiknya mengenal pelayanan dari rumah sakit atau agen komunitas lain yang dapat meningkatan perawatan yang kontinu.
6.      Diet
Klien sebaiknya diberitahu tentang pembatasan pada dietnya. Ia sebaiknya mampu memilih diet yang sesuai untuk dirinya.
2.6.4        Implementasi
Implementasi adalah pelaksanaan rencana pengajaran dan referral. Seluruh pengajaran yang diberikan harus didokumentasikan pada catatan perawat dan ringkasan pulang (Discharge summary). Instruksi tertulis diberikan kepada klien. Demonstrasi ulang menjadi harus memuaskan. Klien dan pemberi perawatan harus memiliki keterbukaan dan melakukannya dengan alat yang akan digunakan di rumah.
Penyerahan homecare dibuat sebelum klien pulang. Informasi tentang klien dan perawatannya diberikan kepada agen tersebut. Seperti informasi tentang jenis pembedahan, pengobatan (termasuk kebutuhan terapi cairan IV di rumah), status fisik dan mental klien, faktor sosial yang penting (misalnya kurangnya pemberi perawatan, atau tidak ada pemberi perawatan) dan kebutuhan yang diharapkan oleh klien. Transportasi harus tersedia pada saat ini
2.6.5        Evaluasi
Evaluasi terhadap discharge planning adalah penting dalam membuat kerja proses discharge planning. Perencanaan dan penyerahan harus diteliti dengan cermat untuk menjamin kualitas dan pelayanan yang sesuai. Evaluasi berjalan terus-menerus dan membutuhkan revisi dan juga perubahan.
Evaluasi lanjut dari proses pemulangan biasanya dilakukan seminggu setelah klien berada di rumah. Ini dapat dilakukan melalui telepon, kuisioner atau kunjungan rumah (homevisit). Keberhasilan program rencana pemulangan tergantung pada enam variabel :
1.      Derajat penyakit
2.      Hasil yang diharapkan dari perawatan
3.      Durasi perawatan yang dibutuhkan
4.      Jenis-jenis pelayanan yang diperlukan
5.      Komplikasi tambahan
6.      Ketersediaan sumber-sumber





2.7    Alur atau Mekanisme Discharge Planning

Keluar Rumah Sakit
Monitor (sebagai program service savety) oleh : keluarga dan petugas.
Perencanaan pulang
Lain-lain
Program HE:
1.    Kontrol dan obat/perawatan
2.    Diet
3.    Aktivitas dan istirahat
4.    Perawatan diri
Penyelesaian administrasi

Selama Perawatan
Pasien baru  diterima oleh Karu dan PP
1.    PP menyampaikan: kemungkinan penyakit pasien, perkiraan lama pasien dirawat, intervensi keperawatan/medis yang biasa dilakukan di ruangan, biaya perawatan,
2.    PP mengorientasikan ruangan kepada keluarga pasien.

1.    Menyampaikan pendidikan kesehatan:
-          Konsep penyakit
-          Terapi & intervensi yang akan diberikan
-          Pola diet
-          Aktivitas dan istirahat
-          Tanggal & tempat kontrol
2.    Menjelaskan prosedur, manfaat, dan efek samping dari setiap terapi dan intervensi yang akan diberikan pada klien & keluarga:
-          Proses perawatan di ruangan
-          Pemenuhan kebutuhan nutrisi yg adekuat
3.    Mendokumentasikan
PP membawa status pasien, kemudian mengkaji, merencanakan dan mendelegasikan pada PA


Awal Masuk
Rumah  Sakit




















2.8    Tindakan Keperawatan pada Waktu Perencanaan Pulang
Tindakan perawatan yang diberikan pada waktu perencanaan pulang  yaitu  meliputi  :
a.  Pendidikan (edukasi, redukasi, reorientasi) pendidikan kesehatan diharapkan bisa mengurangi angka kambuh dan meningkatkan  pengetauan  pasien.
b.  Program pulang  bertahap
Bertujuan untuk melatih pasien kembali  kelingkungan keluarga dan masyarakat  antara lain apa yang harus dilakukan pasien di rumah sakit, apa yang harus dilakukan  keluarga.
c.  Rujukan
Integritas pelayanan kesehatan harus mempunyai  hubungan langsung antara perawatan community dengan rumah sakit sehingga dapat  mengetahui  perkembangan  pasien  dirumah.
2.9    Jenis pemulangan Pasien
1.      Conditinal  discharge  (pulang  sementara atau cuti), keadaan  pulang  ini dilakukan  apabila  kondisi  pasien  bagus  tidak  terdapat  kompilikasi. Pasien  untuk sementara dirawat di rumah namun harus ada pengawasan dari  pihak rumah sakit atau Puskesmas terdekat.
2.      Absolute  discharge (pulang mutlak atau selmanya) cara ini merupakan akhir dari hubungan pasien dengan  rumah sakit. Namun apabila pasien perlu dirawat kembali maka prosedur perawatan dapat dilakukan kembali.
3.      Judical discharge (pulang paksa) kondisi ini pasien  diperbolehkan  pulang walaupun kondisi  kesehatan tidak memungkinkan  untuk pulang, tetapi pasien  harus  dipantau  dengan  melakukan  kerjsama  dengan  perawat puskesmas  terdekat.
2.10     Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Discharge Planning
Meskipun pasien telah dipulangkan, penting bagi pasien dan keluarga mengetahui apa yang telah dilaksanakan dan bagaimana mereka dapat meneruskan untuk meningkatkan status kesehatan pasien. Selain itu, ringkasan pulang tersebut dapat disampaikan oleh perawat praktisi/perawat home care dan mungkin dikirim ke dokter primer/dokter yang terlibat untuk dimasukkan dalam catatan institusi untuk meningkatkan kesinambungan perawatan dengan kerja yang kontinu ke arah tujuan dan pemantauan kebutuhan yang berubah (Doenges & Moorhouse, 2000).
Discharge Planning harus disesuaikan dengan :
1.      Kebutuhan klien, tersedianya tim kesehatan
2.      Dimulai sejak awal masuk rumah sakit
3.      Disusun oleh tim















BAB 3
PENUTUP

3.1         Kesimpulan
Discharge planning adalah komponen sistem perawatan berkelanjutan sebagai perencanaan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya yang dituliskan untuk meninggalkan satu unit pelayanan kepada unit yang  lain didalam atau diluar suatu agen pelayanan kesehatan umum, sehingga pasien dan keluarganya mengetahui tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan sehubunagan dengan kondisi penyakitnya.
Tujuan utama discharge planning adalah membantu klien dan keluarga untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Sedangkan, manfaat discarge planning bagi pasien diantaranya dapat menurunkan jumlah kekambuhan, penurunan kembali ke rumah sakit, dan kunjungan ke ruangan kedaruratan yang tidak perlu kecuali untuk beberapa diagnosa serta dapat kembantu klien untuk memahami kebutuhan setelah perawatan dan biaya pengobatan.
Tahap-tahap discharge planning pada dasarnya sama dengan tahap-tahap dalam asuhan keperawatan yaitu pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
3.2         Saran
3.2.1   Bagi institusi
Diharapkan institusi dapat melaksanakan tahap-tahap discharge planning  dalam memberikan suhan keperawatan pada pasien secara tepat.
3.2.2   Bagi mahasiswa
Diharapkan mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang tata cara pelaksanaan discarge planning  dalam memberikan suhan keperawatan pada pasien secara tepat.

13
 
3.2.3   Bagi masyarakat
Diharapkan masyarakat dapat memahami tujuan dan manfaat dari discharge planning.





























DAFTAR PUSTAKA

Chesca, (1990). Perencanaan Pulang Pasien. Makalah Kuliah untuk Perawat. Jakarta.

Harper E.A. 1998. Discharge planning: An interdisciplinary method. Chicago, IL : Silverberg Press
New Brunswick Department of Health and Wellness. 2002. Job definition of a discharge planning coordinator. Author: Fredericton, NB
Nursalam. 2002. Manajemen keperawatan Aplikasi dalam Praktik keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika.

Nursalam. 2007. Manajemen keperawatan Aplikasi dalam Praktik keperawatan Profesional Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.

Nursalam. 2008. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika

Plan for Follow-up Care. Diakses dari
http://whttp://www.mass.gov/dph/cdc/tb/cmsprotocols.pdf tanggal 26 September 2007